Breaking News

Hadapi Ancaman Demokrasi, TNI/Polri Harus Komit di Garis Terdepan Berantas Terorisme

Hadapi Ancaman Demokrasi, TNI/Polri Harus Komit di Garis Terdepan Berantas Terorisme. Hadapi Ancaman Demokrasi, TNI/Polri Harus Komit di Garis Terdepan Berantas Terorisme.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Kepolisian Republik Indonesia (Polri) didukung oleh masyarakat untuk menjaga Indonesia sebagai negara demokratis dengan memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya.

Hal itu diungkapkan Analis Kebijakan Publik Melkior Wara Mas, menyikapi maraknya ancaman demokrasi di Tanah Air.




“Aparat TNI/Polri didukung untuk segera menangani orang-orang yang menganjurkan atau menyokong kekerasan maupun radikalisme yang hendak mengenyahkan sistem demokrasi Indonesia,” tutur Melki, dalam siaran persnya, Selasa (21/05/2019).

Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ini menyatakan, jika masyarakat demokratis ingin tetap ada, masyarakat dan Pemerintah harus mampu bergotong-royong dan bekerjasama membersihkan gerakan bersenjata seperti terorisme itu, hingga ke akar-akarnya.

“Karena mereka para teroris seperti itu sedang menghancurkan kebebasan demokrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.




Melki mengatakan, bertolak dari analisis fakta yang mendalam, pemerintah dan DPR harus memperluas wewenang yang terkandung dalam undang-undang, dengan memberi kemungkinan bagi Pemerintah secara efektif mengahadapi ancaman membahayakan dari organisasi teroris terhadap masyarakat.

Menurut dia, hukum pidana ringan saja tidak memadai untuk menghadapi terorisme sistematis. Perlu ada terobosan hukum yang membawa ketegangan kreatif.

Pertama, minimal hukuman pidana berat seumur hidup atau pun hukuman mati. Kedua, ketersediaan tenaga ahli psikologi atau Psikater yang mampu menormalkan kerja otak (mindset) pelaku kejahatan terorisme.




“Masyarakat tetap berhati-hati dengan letupan emosi yang dapat menimbulkan implikasi yang tidak perlu, atau setiap dorongan dan tekanan yang bisa mengakibatkan kebingungan sehingga merujuk pada konflik horizontal. Prinsip setia pada kedamaian terus dikumandangakan,” tutupnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*