Generasi Muda Kehilangan Teladan, Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII Sebagai Teladan Generasi Milenial

Diskusi Hari Pahlawan Nasional

Diskusi Hari Pahlawan Nasional; Generasi Muda Kehilangan Teladan, Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII Sebagai Teladan Generasi Milenial.

Di era kebebasan dan kemajuan teknologi informasi ini, masyarakat Indonesia, khususnya kalangan generasi mudanya seperti kehilangan teladan dan jiwa kepahlawanan.

Batak Center menyoroti perlunya keteladanan bagi generasi penerus bangsa. Generasi muda zaman now atau yang lebih akrab disebut sebagai Generasi Milenial diajak meneladani Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII.

Hal itu disampaikan Batak Center, dalam Diskusi Hari Pahlawan Diskusi dengan tema “Menggali (Kembali) Nilai-Nilai Kepahlawanan Sisingamangaraja XII” dalam rangka Memperingati Hari Pahlawan di Sekretariat Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Jakarta Timur.

Pegiat Kebudayaan Jhohannes Marbun atau yang akrab disapa Joe mengungkapkan, Indonesia memiliki sangat banyak Pahlawan yang harusnya bisa dijadikan teladan oleh generasi muda atau kaum milenial. Salah seorang pahlawan nasional yang memiliki teladan adalah Sisingamangaraja XII.

“Cukup banyak generasi muda sekarang gagap sejarah, meskipun mereka tidak gagap teknologi. Generasi muda Indonesia, khususnya generasi muda Batak, tidak banyak yang mengetahui bahwa Sisingamangaraja XII dapat menjadi teladan  atau role model bagi mereka,” tutur Joe, Minggu (11/1/2018).

Lebih lanjut, Joe yang juga Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) itu memaparkan,  untuk menunjukkan keteladanan, tokoh-tokoh nasional, terutama tokoh-tokoh Batak dan lembaga-lemabag perlu menggali kembali nilai-nilai kepahlawanan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu– nama kecil dari  Sisingamangaraja XII- sebagai bagian upaya melestarikan nilai-nilai budaya, terutama Batak (habatakon).

Joe yang juga Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) melanjutkan, terlebih dahulu difahami arti dan makna pahlawan di Indonesia.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; dan arti Kepahlawanan adalah perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan).

Nah, lanjut Joe, sosok Sisingamangaraja XII pun telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional di Indonesia. Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dari Tanah Batak dengan Keputusan Presiden Nomor 590 tahun 1961, tertanggal 9 November 1961.

Sisingamangaraja XII lahir pada 1849 di Bakara, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Ia menjadi Raja Sisingamangaraja XII mulai 1875 (pada usia 17 tahun) dan berkuasa sampai dengan 17 Juni 1907 (gugur dalam perang dengan tentara Belanda).

Latar Belakang penetapan sebagai Raja adalah berhasil mencabut piso gaja dompak (pedang bertuah Batak) dari sarungnya sebagai syarat mutlak pemangku gelar Singamangaraja.

Kelebihan Sisingamangaraja XII adalah mampu mendatangkan hujan di saat musim kemarau dan melakukan mukjizat di wilayah kekuasaannya.

“Sebagai Raja sekaligus Imam Batak, Sisingamangaraja XII bertanggung jawab memimpin masyarakat di wilayahnya sebagaimana telah dilakukan oleh pendahulunya,” tutur Joe.

Joe menjabarkan beberapa konteks nilai-nilai Kepahlawanan Sisingamangaraja XII, yakni  sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan serta pelenyapan terhadap pengetahuan lokal.

Kemudian, sikap semangat patriotisme melawan penjajahan membebaskan Tanah Batak pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya dari penjajahan. Berperang melawan penjajah Belanda kurang lebih 30 tahun (1877-1907).

“Dia adalah pemimpin yang menguasai segala bidang baik agama, kebudayaan, politik, ekonomi, diplomasi, pertahanan dan keamanan,” ujar Joe.

Sisingamangaraja XII juga dikenal sebagai Tokoh pemersatu yang membangun afiliasi dengan wilayah lainnya. Sikap dan tindakan Sisingamangaraja XII mendapat simpati dan empati dari lingkungannya untuk ikut dan ambil bagian dalam perang yang dipimpinnya.

Sisingamangaraja juga membuat perwakilan Raja Sisingamangajara XII di setiap wilayah, yang berfungsi sebagai pemangku kepentingan kerajaan, termasuk panglima-panglima perang.

“Kejuangan atau kegigihan konstitusi, kebersahajaan dan sederhana, berwibawa, dermawan, suka menolong, anti perbudakan dan anti pemasungan, penjunjung nilai kebebasan dan cepat bertindak. Oleh Van der Tuuk, Sisingamangaraja XII disebut sebagai Konig aller Bataks yakni Raja dari segala orang Batak,” ungkap Joe.

Hal menarik lainnya mengenai sikap Sisingamangaraja XII yaitu sikapnya terhadap masyarakat Batak dan sikapnya terhadap Belanda.

Sisingamangaraja XII sering berjalan keliling kampung di Tanah Batak untuk sekedar menanyakan orang-orang terpasung atau budak di kampung tersebut, lalu membebaskan mereka dengan membayar ganti rugi atau dalam istilah Batak disebut Binsang dan Ampang.

Orang-orang terpasung dan  menjadi budak di masyarakat Batak disebabkan beberapa hal seperti perang antar kampung, ketidakmampuan membayar hutang, atau karena perampokan (pambarobo). Namun dengan pihak asing (Belanda), Sisingamangaraja XII menyatakan perang (pulas) pada 16 Februari 1878.

Di tempat yang sama, Penulis Buku Pahlawan Kemerdekaan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, Robinson Togap Siagian menyampaikan, sosok Sisingamangaraha XII merupakan pemimpin di segala bidang dan Pancasilais.

“Dia memiliki konsep pristokrasi mirip dengan Dalai Lama, dengan sistem kepercayaan Parmalim, sistem ini pun memiliki aliran-aliran. Mencerminkan nilai budaya Batak yang dapat mempersatukan seperti Dalihan Na Tolu, memiliki perspektif ekonomi yang memperhatikan masyarakatnya melalui konsep marsiadapari (gotong-royong),” tuturnya.

Dari sisi lingkungan pun Sisingamangaraja XII memiliki konsep pemanfaatan sumber daya alam secara arif dan bijaksana.

Sedangkan dari sisi hukum, Sisingamangaraja XII mampu menyelesaikan resolusi konflik terkait hukum dan peraturan. Siagian juga menegaskan tentang gambar Sisingamangaraja XII yang asli, bukan lukisan Augustin Sibarani sebagaimana selama ini diberitakan.

“Apa yang dilakukan YPDT dan Batak Center untuk menggali kembali nilai-nilai kepahlawanan Sisingamangaraja XII adalah langkah strategis. Karena ada saja orang-orang mengatasnamakan Sisingamangaraja XII dengan motif meraup keuntungan sendiri atau kelompoknya,” ujar Siagian.

Tetua Masyarakat Batak, Mula Sinaga mengusulkan perlu dilakukan identifikasi nilai-nilai kepahlawanan, sehingga menjadi teladan bagi generasi muda.

“Kita perlu identifikasi nilai-nilai kepahlawanan beliau dari segala sisi. Perlu kita buka literasi-literasi yang ada dan mencari narasumber-narasumber dari Parmalim, dan sumber lainnya. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengikuti jejaknya, melakukan yang baik dari yang dilakukannya, dan lain-lain,” ujar Mula Sinaga.

Mantan Birokrat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Longgap S Pangaribuan menambahkan, jika hendak menggali nilai-nilai yang dimiliki Sisingamangaraja, maka hendaknya dilakukan secara keseluruhan, mulai dari Sisingamangaraja I hingga Sisingamangaraja XII.

“Kita bisa memulai dari Sisingamangaraja I hingga Sisingamangaraja XII. Generasi muda perlu membaca dan mengetahui literasi-literasi dan buku-buku tentang Sisingamangaraja. Itu ada juga di Perpustakaan Nasional. Selain belajar literasi, generasi muda juga belajar dong dari alam, karena Sisingamangaraja sangat menghargai alam dan sumberdayanya,” tuturnya.

Tokoh Batak Jerry Sirait menyampaikan, Sisingamangaraja XII dikenal sebagai pemimpin yang Parmahan na so mantat batahi. “Ia adalah raja yang tidak mencari kekayaan,” ujarnya.

Sisingamangaraja XII juga dikenal sebagai Parade aek tu na mauas yaitu memberi minum kepada yang haus, parade sipanganon tu na male (memberi makan bagi yang kelaparan). “Pemimpin sekarang tidak begitu, malah jika bisa menekan masyarakat,” ujar Jerry Sirait.

Sisingamangaraja XII adalah raja, bukan petinggi, tetapi pargonggom (merangkul). “Kalau datang ke kampung-kampung, benar bahwa masyarakat menyembahnya, tetapi sebagai bentuk penghormatannya. Jiwa pelayanannya (parmahanion) dapat dijadikan teladan. Saat ini keteladanannya itu sudah hilang. Sisingamangaraja XII meninggal dalam kesederhanaannya,” lanjut Sirait.

Aktivis Perempuan Batak, Deacy Maria Toba Lumbanraja Sihombing menyampaikan, dirinya tertarik mempelajari Sisingamangaraja XII  dan sudah ke makamnya, Aek Sipangolu, dan sebagainya.

“Roh Sisingamangaraja XII itu ada di Tanah Batak. Ini bisa dikomunikasikan melalui pengajaran sejarah dan Opera Batak. Dalam konteks pariwisata perlu dibuat Opera Batak secara rutin. Putri Lopian (salah satu putri/boru Sisingamangaraja XII) juga perlu diusulkan menjadi pahlawan perempuan dari Tanah Batak,” ujarnya.

Pemuda Judika Malau, merasakan saat ini generasinya kehilangan teladan. Dia pun mengusulkan menggali nilai-nilai kepahlawanan Sisingamangaraja. “Kita harus memiliki referensi. Referensi diperlukan menjadi pedoman mau dibawa ke mana kita ini sebagai orang Batak. Memang kenyataannya kita sudah hilang dan tersesat. Inilah tugas berat orang Batak,” ujarnya.

Pemuda Batak lainnya, Rio Pangaribuan juga melihat bahwa generasi muda Batak membutuhkan sosok sebagai panutan. “Harapannya mudah-mudahan kita bersatu padu menyatukan hati dan pikiran untuk kemajuan Bonapasogit (kampung halaman),” ujarnya.

Di penghujung diskusi, Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Maruap Siahaan menyampaikan keprihatinannya bagi genarasi Batak saat ini.

Dia menginisiasi dilakukannya penggalian kembali nilai-nilai kepahlawanan Sisingamangaraja, agar bisa dijadikan teladan oleh generasi Batak ke depan.

“Mari kita kumpulkan kearifan-kearifan yang ada sebagai acuan kita. Kita melihat ada kekuatan SSM XII dari keteladanannya. Supaya tidak ada kekuatan yang kuat itu di Tanah Batak, maka sejarah-sejarah ini dihilangkan. Jadi kalau ditanya milik siapa Sisingamangaraja XII? Itu adalah milik kita dan anak cucu kita ke depan. Mengapa kita perlu kawal Sejarah Sisingamangaraja XII? Karena itu adalah platform kita. Ini perlu kita gali kembali. Konkritnya ada lembaga informal yang perlu kita bangun dimulai dari pikiran. Kita tidak mengambil untuk diri sendiri seperti SSM XII yang membebaskan orang yang tertawan,” pungkas Maruap Siahaan.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan