Gelar Penggerebekan di Simalungun, BPOM Sumut Sita 20 Liter Formalin Dari Pabrik Pembuatan Mie Kuning

Gelar Penggerebekan di Simalungun, BPOM Sumut Sita 20 Liter Formalin Dari Pabrik Pembuatan Mie Kuning.
Gelar Penggerebekan di Simalungun, BPOM Sumut Sita 20 Liter Formalin Dari Pabrik Pembuatan Mie Kuning.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Sumatera Utara (BPOM Sumut) menggerebek pabrik pembuatan mie kuning di Desa Nagori Pematang Simalungun,  Kecamatan Siantar Huta Satu, RT 02/RW 01, Kabupaten Simalungun, Jumat sore (19/7/2019).

Pabrik pembuatan mie kuning tersebut diduga menggunakan bahan baku formalin. Penggerebekan berawal dari penyelidikan yang dilakukan oleh pihak BPOM Sumatera Utara  terkait aktivitas pembuatan mie kuning yang diduga menggunakan berbahan formalin.




Tim BPOM kemudian melakukan tes pada mie kuning yang di produksi pabrik mie rumahan tersebut di lokasi yang didampingi Ketua Rukun Tetangga, Khairul Saragih.

BPOM Sumut telah menetapkan satu orang tersangka inisial M yang juga pemain lama dimana telah pernah dijerat hukuman beberapa tahun yang lalu pada kasus yang sama, satu orang pekerja melarikan diri.

Dari operasi penggerebekan, Tim BPOM Sumut menyita 200 kilogram mie,  20 liter bahan formalin serta lebih 50 kilogram soda ash sebagai bahan pengenyal mie.





Kepala Badan  Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sumatera Utara Drs Yulius Sacramento Tarigan mengatakan, informasi sudah diterima dari masyarakat sejak bulan Ramadhan lalu.

“Kita menemukan 200 kilogram mie, 20 liter bahan formalin, lebih 50 kilogram soda ash sebagai bahan pengenyal. Kita terus mengembangkan modus serta pemasaran mie tersebut di dalam bahkan sampai ke luar Pematangsiantar, karena indikasinya pabrik mie rumahan tersebut dapat menghasilkan satu ton per hari dengan kualitas mie tahan lama,” tuturnya.

Dia menyampaikan, patut diduga pelaku usaha mie rumahan ini telah melanggar UU Perlindungan Konsumen serta Undang Undang Pangan.





“Harapan kami Pemerintah Daerah lebih pro aktif dan memberikan edukasi kepada para pelaku usaha,” ujar Yulius.

Undang Undang Nomor 8 Tentang Perlindungan Konsumen menjamin bahwa  Kosumen berhak mendapatkan kenyamanan, keamanan dan kesehatan dalam mengkonsumsi makanan, dengankurungan penjara lima tahun maksimal atau denda Rp 2 miliar.





Sedang Undang Undang Nomor 18 Tahun 2012  Tentang Pangan menyatakan untuk menjaga pangan tetap aman, higienis, bermutu, bergizi dan mencegah kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia berupa pangan yang mengandung bahan beracun, berbahaya atau yang dapat membahayakan kesehatan atau jiwa manusia.(Apul Iskandar)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*