Gelar Demo ke Istana Negara, Ratusan Awak Mobil Tanki Kembali Menginap

Aksi Nginap Tahun Lalu Tak Diengkos, Kembali Long March Sembari Bawa Keranda

Aksi Nginap Tahun Lalu Tak Diengkos, Kembali Long March Sembari Bawa Keranda, Gelar Demo ke Istana Negara, Ratusan Awak Mobil Tanki Kembali Menginap.

Ratusan pekerja yang merupakan Awak Mobil Tangki (AMK) di PT Pertamina kembali menggelar aksi unjuk rasa dan menginap di Jalan Medan Merdeka, Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat.

Para pengunjuk rasa yang menggelar aksi berjalan kaki atau long march dari wilayah Tanjung Priuk, Jakarta Utara itu, menyusuri jalanan Ibukota mulai sekitar jam delapan pagi, Rabu (09/01/2019).

Pantauan di lapangan, para pengunjuk rasa banyak yang tidak mengenakan alas kaki. Mereka juga membawa empat buah keranda, umbul-umbul, spanduk berisi tuntutan, serta dua buah mobil komando. Satu mobil komando tempat sound system, satu lagi membawa peralatan mendirikan tenda untuk menginap.

Dwi, salah seorang pengunjuk rasa, menyampaikan, mereka kembali menggelar aksi. Target tempat aksi adalah, kantor Kementerian BUMN dan Istana Negara.

“Kami akan kembali menginap. Tuntutan kami pada aksi yang lalu tidak digubris. Tidak ada respon sama sekali,” tutur Dwi.

Dia mengatakan, peserta aksi kali ini jumlahnya tidak jauh beda dengan aksi menginap akhir tahun 2018 lalu. “Kita masih sekitar 500-an orang lebih,” ujarnya.

Aksi long march yang digelar sejak pagi hari itu membuat arus lalulintas tersendat. Sejumlah petugas kepolisian tampak sibuk melakukan pengawalan terhadap peserta aksi.

Aiptu Marikin, Babinsa di wilayah Galur, Jakarta Pusat, tampak mengatur lalu lintas. Kawan-kawannya mengawal peserta aksi. Memasuki wilayah Senen, menuju Istana Negara, para polisi kian banyak mengawal peserta aksi.

“Biasa, Om. Kawal pendemo supaya lancar,” tutur Aiptu Marikin.

Koordinator Aksi Awak Mobil Tanki (AMT), Legiran menyampaikan, pihaknya tidak didengarkan oleh para petinggi. Maka, mereka kembali menggelar aksi.

Memasuki tahun ke tiga ini, mereka masih memperjuangkan upah lembur yang tak kunjung diberikan. Para pekerja yang masuk kategori pekerja BUMN itu pun tidak mengerti lagi bagaimana menuntut hak-hak mereka, selain menggelar aksi unjuk rasa.

“Tidak direspon. Kami akan terus aksi sampai tuntutan kami dipenuhi,” ujar Legiran.

Ada sebanyak 2119 awak mobil tanki yang tidak mendapatkan upah lembur selama dua tahun lebih. Menurut dia, semuanya bekerja di sekitar Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara dan di beberapa bagian yang diperintahkan.

Sebelum aksi-aksi menginap ke kantor Kementerian BUMN dan Istana Negara, dikatakan Legiran, mereka juga sudah pernah menggelar aksi mogok.

Aksi mogok itu dilakukan di depan salah satu jembatan Terminal BBM Plumpang. Aksi itu berlangsung hingga 26 Juni 2017 lalu.

Alasan utama aksi, karena ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak terhadap sebanyak 353 Awak Mobil Tanki (AMT). Mereka dinyatakan tidak lulus seleksi lagi oleh perusahaan outsourcing.

Peristiwa sebanyak 353 AMT dirumahkan dengan alasan tidak lulus seleksi itu membuat berang para pekerja. Sebab, sekitar 900 diangkat sebagai pegawai tetap. Alasan PHK terhadap 353 AMT dinilai tidak masuk akal.

“Ada 353 di-PHK dengan dalih tidak lulus seleksi dari 1.200 orang,” ujarnya.

Dia mengungkapkan,  PT Pertamina Patra Niaga—tempat mereka bekerja-juga menggunakan jasa perusahaan pemborong pekerjaan alias vendor baru yaitu PT Garda Utama Nasional, agar AMT yang sudah lama bekerja tak langsung menjadi pegawai tetap, melainkan harus mengikuti seleksi lagi.

“Mayoritas sudah puluhan tahun kerja tapi kayak karyawan baru. Karyawan tetap tapi enggak diakui masa kerja sebelumnya,” tuturnya.

Selain itu, para AMT juga menuntut adanya tambahan upah lembur bagi mereka yang bekerja di atas 8 jam. Pasalnya, sebagian besar AMT bekerja di atas 8 jam per hari. “Kita juga enggak pernah dapat lembur,” kata Legiran.

Sebelumnya, Perusahaan Outsourcing sudah merasa memenuhi Hak Awak Mobil Tanki. Bagian Operasi PT Sapta Sarana Sejahtera (SSS), mitra out sourching PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Abdul Choir mengungkapkan, gaji dan kesejehtaraan awak mobil tangki (AMT) yang mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM) Pertamina sebenarnya cukup bagus. Paling tidak mereka menerima penghasilan di atas upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta.

Lagi pula, AMT bekerja sesuai perjanjian dan ada waktu istirahat yang cukup. “Selain itu juga mendapatkan pelayanan dan kesejahteraan kesejahteraan lainnya,” ujar Abdul Choir.

Dia mengatakan, ada sekitar 1.200 orang AMT bekerja di bawah kendali SSS. Mereka menjadi AMT yang mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM) khususnya dari Depo Plumpang ke sejumlah SPBU di wilayah DKI Jakarta, sebagian Tangerang, Banten, dan sebagian Jawa Barat.

Dari jumlah tersebut, sekitar 800 orang AMT bekerja dalam dua shift setiap hari. Selebihnya ada sekitar 400 orang yang off atau libur.

“Para AMT itu sesuai perjanjian kerja bersama (PKB) bekerja 12 jam dan tidak ada waktu lembur. Mereka bekerja selama 6 hari kerja dan 3 hari off. Jadi, mereka bisa bekerja optimal dan waktu istirahat yang cukup,” jelas Choir.

Kalau soal gaji, menurut Choir, AMT dibawah perusahaan SSS cukup bagus. Mereka bisa membawa pulang hasil kerja ke rumah atau take home pay antara Rp5 juta sampai Rp7 juta per bulan. Untuk ukuran karyawan atau pekerja di Jakarta dan sekitarnya, gaji tersebut cukup bagus.

“Jumlah itu meliputi upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp3,1 juta per bulan di Jakarta. Jika ditambah uang performance atau prestasi kerja masing-masing seperti kinerja baik, jarak tepuh, zero kecelakaan dan volume barang atau BBM yang didistribusikan, maka akumulasinya bisa mencapai minimal Rp5 juta itu,” papar Choir.

Menurut Choir, pihak SSS juga membayar iuran BPJS untuk setiap pekerja. Perusahaan juga menyediakan fasilitas seperti mess atau asrama, ruang istirahat lengkap dengan fasiliats MCK (mandi, cuci, kakus), klinik kesehatan dan dokter untuk pemeriksaan rutin AMT sebelum bekerja atau mengalami kecelakaan. “Mereka bisa periksa kesehatan gratis di klinik tersebut,” kilah Choir.

“Tidak benar jika kita dibilang tidak membayar iuran BPJS untuk mereka. Bagi karyawan yang kinerjanya baik, berprestasi akan menerima gaji dan kesejahteraan serta fasilitas lainnya full,” ujar Choir.

Namun begitu, jika mereka AMT menuntut diangkat menjadi karyawan tetap di Pertamina Patra Niaga itu hampir mustahil bisa dipenuhi. Alasannya, Pertamina Patra Niaga sebagai entitas bisnis mempunyai aturan sendiri. Sejak awal, mereka teken kontrak kerja dengan SSS, bukan langsung antara AMT dengan Pertamina Patra Niaga.

“Mereka para AMT itu sejak awal bekerja pada kami di SSS. Kemudian SSS menjadi vendor penyedia tenaga kerja pengemudi atau AMT di Pertamina Patra Niaga. Jadi, aneh jika mereka sekarang menuntut dipekerjakan sebagai karyawan tetap di Pertamina Patra Niaga,” ujar mantan pegawai Pertamina itu.

Dia berkilah, pihak SSS sebagai vendor penyedia AMT sudah memenuhi hak-hak karyawan yaitu para AMT dengan baik sesuai PKB.

“Mereka diberikan hak-haknya seperti haji, kesejahteraan dan lainnya. Semua sesuai dengan PKB yang diteken bersama dengan AMT. Jadi, mereka juga harus sadar dan kembali pada PKB yang ada. Jika semua itu dipenuhi dan dipahami bersama, maka tak akan terjadi aksi,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*