Gelar Aksi Cabut Keputusan Menteri LHK No 25 Tahun 2018, Sebanyak 56 Warga Jawa Barat Jalan Kaki ke kantor Menteri Siti Nurbaya

Fungsi Kawasan Hutan Cagar Alam Kamojang dan Gunung Papandayan Berubah Jadi Taman Wisata

Fungsi Kawasan Hutan Cagar Alam Kamojang dan Gunung Papandayan Berubah Jadi Taman Wisata, Gelar Aksi Cabut Keputusan Menteri LHK No 25 Tahun 2018, Sebanyak 56 Warga Jawa Barat Jalan Kaki ke kantor Menteri Siti Nurbaya.

Sebanyak 56 warga Jawa Barat menggelar aksi unjuk rasa mendesak pencabutan Keputusan Menterri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor 25 Tahun 2018, dengan cara berjalan kaki dari Titik 0 Bandung menuju kantor Kementerian LHK di Jakarta.

Manajer Pembelaan Dan Respon Cepat Eksekutif Nasional  Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Edo Rahman menyampaikan, aksi jalan kaki itu sudah dimulai sejak Minggu, 03 Maret 2019. “Dan akan tiba di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta pada Rabu 06 Maret 2019,” ujar Edo Rahman, dalam siaran persnya, Rabu (06/03/2019).

Aksi itu, lanjut dia, adalah untuk mendesak Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (MLHK) Siti Nurbaya untuk segera mencabut kebijakannya yang telah mengubah fungsi Kawasan Hutan Cagar Alam Kajomang dan Gunung Papandayan menjadi Taman Wisata Alam (TWA).

Cagar Alam Kamojang seluas ±2.391 hektar dan Cagar Alam Gunung Papandayan seluas ±1.991 hektar itu, terletak di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Dengan Surat Keputusan MLHK tertanggal 10 Januari 2018, fungsi kawasan itu jadi berubah.

Diterangkan Edo, masyarakat yang melakukan aksi jalan kaki itu menamakan dirinya dengan Aliansi Cagar Alam Jawa Barat, yang didukung oleh Walhi Jawa Barat dan juga Pengurus Esksekutif Nasional Walhi.

Edo melanjutkan, Aliansi Cagar Alam Jawa Barat menilai, perubahan status dari Cagar Alam ke Taman Wisata Alam ini tidak masuk akalkarena Cagar Alam itu sama sekali tertutup bagi aktivitas manusia. “Oleh karena itu, harus dicabut,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya lagi, diperkirakan dengan adanya perubahan status ini,  akan menjadi titik awal kerusakan lingkungan di Bandung Selatan,  terutama Danau Ciharus yang merupakan Danau Purba.

“Danau ini merupakan sumber air Sungai Citarum dan Cimanuk. Hutan Kamojang dan Papandayan merupakan benteng terakhir Parahiangan setelah Bandung Utara jadi hutan beton,” ujarnya.

Aksi masyarakat ini pun, sekaligus sebagai upaya mereka Penyelamatan Bandung Selatan sebagai Benteng Terakhir Tatar Ukur.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan