Breaking News

GAMKI Tegaskan Ideologi Pancasila Jangan Diutak-atik

GAMKI Tegaskan Ideologi Pancasila Jangan Diutak-atik. GAMKI Tegaskan Ideologi Pancasila Jangan Diutak-atik.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) Dr Michael Wattimena menegaskan, Pancasila jangan diutak-atik dengan upaya mengganti ideologi lain yang tidak sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup masyarakat Indonesia.

“GAMKI sebagai elemen kepemudaan gereja menegaskan bahwa ideologi Pancasila sudah final, dan itu berdasarkan hasil kesepakatan bapak pendiri bangsa (faunding father). Itu fakta sejarah tidak bisa dinafikan,” tegas Michael, Kamis (01/08/2019).

Diakui Michael, belakangan ini ada upaya sekelompok yang mau mengutak-atik Pancasila dengan mengganti ideologi lain. Namun, upaya tersebut selalu gagal.

“Kalau mau mengganti Pancasila dengan ideologi lain silahkan hengkang dari negara ini,” ujar Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat itu.

Dia mengemukakan, Kongres GAMKI XI yang akan digelar dari tanggal 1-4 Agustus 2019, di Grand Hotel Cempaka, akan mengedepankan Konsilidasi Persatuan Indonesia, dengan menghadirkan 600 orang kader GAMKI dari 32 DPD dan 450 DPC GAMKI seluruh Indonesia.

“Ya, sesuai dengan thema yang diambil dari Kitab Yeremia 29: 7, Sejahterahkan kota dimana kamu berada, dan berdoalah,” tutur Michael, Bendahara Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) massa bhakti 1996-1998 itu.

Menurutnya, hasil Kongres nanti diharap peran GAMKI harus tampil ke depan bersama elemen kebangsaan lain untuk memerangi gerakan-gerakan intoleran yang mau mengubah ideologi Pancasila. Karenanya dibutuhkan persatuan sebagai modal sosial.

Pengamat Politik Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyayangkan sikap elit politik yang tidak dewasa dengan mempertontonkan politisasi SARA ke ruang publik. Padahal, lanjut Karyono, politik SARA sangat berbahaya. Karena menimbulkan keresahan sosial dan bisa berujung pada disintegrasi bangsa.

Diakui Karyono, politik identitas itu memang sudah menjadi sunatullah. Itu tidak hanya di Indonesia, disejumlah negara maju sekalipun ikatan politik berdasarkan identitas sangat kuat.

Menurut Karyono, ada kesamaan latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan. Antara pemilih dan kandidat. Hal itu tidak jadi persoalan.

“Itu sudah berlaku sejak dulu. Yang jadi persoalan ketika para elit sengaja mengeksploitasinya secara terbuka dan brutal untuk menjatuhkan lawan politiknya,” ujar Karyono.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*