Gakkum Kembali Amankan 34 Kontainer Kayu Ilegal dari Maluku

Gakkum Kembali Amankan 34 Kontainer Kayu Ilegal dari Maluku.

Direktorat Pencegahan dan Pengamanan hutan di Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dana Kehutanan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen Gakkum KLHK) mengamankan 38 kontainer berisi kayu illegal asal Kepulauan Aru, Maluku di Surabaya, Jawa Timur.

Pengamanan dilakukan pada 22 Februari 2019. Ke 38 kontainer berisi kayu illegal itu adalah sebanyak 14 kontainer di tempat penampungan CV CHM, di Jalan Mayjen Sungkono, Gresik, kemudian sebanyak 13 kontainer di area PT KAYT, di Jalan Margomulyo Indah, Surabaya, dan sebanyak  11 kontainer di area PT AGJU di Desa Winong, Pasuruan.

Ketua Satgas Penyelamatan SDA Papua Gakkum KLHK, Sustyo Iriono mengatakan, semua barang bukti dan kayu-kayu itu masih diamankan.

“Semua barang bukti sudah diamankan. Tim mengidentifikasi perubahan pola perilaku para mafia kayu yaitu pola transhipment. Kami masih mendalami apakah perusahaan pelayaran PT Temas Line ikut membantu peredaran kayu ilega ini,” kata Sustyo Iriono, Selasa (26/02/2019).

Sedangkan, PT Tempura Mas Line atau PT Temas Line adalah perusahaan pelayaran pemilik KM Muara Mas yang mengangkut 14 kontainer berisi kayu ilegal itu.

Dia menjelaskan, keberhasilan penyitaan kayu ilegal bermula dari laporan masyarakat berupa informasi pengangkutan kayu ilegal di Pelabuhan Dobo, Kepulauan Aru. Pengangkutan kayu dilakukan menggunakan KM Muara Mas tanggal 8 Februari 2019.

Atas informasi itu, Direktoral PPH, Ditjen Gakkum KLHK, menindaklanjuti dan mendapati KM Muara Mas berangkat tanggal 10 Februari 2019 dari Pelabuhan Dobo.

“Sistem pemantauan kapal milik Ditjen Gakkum tidak bisa memantau keberadaan KM Muara Mas karena sistem AIS-nya dimatikan,” ujar Sustyo.

Mengacu pada tanggal berlayar, Tim Direktorat PPH memperhitungkan KM Muara Mas akan tiba tanggal 20 Februari 2019 di Terminal Peti Kemas di Surabaya dan sekitarnya. Tim Direktorat PPH berhasil mengidentifikasi ada 1 kontainer sedang menuju kawasan industri dan kemudian membuntuti.

Tanggal 22 Februari 2019, pukul 15.20 WIB, Tim menyergap pembongkaran kayu ilegal itu di tempat penampungan kayu ilegal milik CV CHM, di Jalan Mayjen Sungkono, Gresik.

“Tim mendapati 12 kontainer kayu sudah dibongkar muatannya dan tersisa 2 kontainer yang sedang dibongkar,” ujarnya.

Tanggal 22 Februari 2019 malam hari,  lanjut Sustyo, Tim melanjutkan penyergapan dan menyita 13 kontainer kayu di penampungan milik PT KAYT di Jalan Margomulyo Indah, Surabaya, dan 11 kontainer kayu di  penampungan milik PT AGJU di Desa Winong, Pasuruan.

Mencermati penyitaan ini, Sustyo Iriyono, menilai para pelaku ilegal ini masih belum jera. “Dan akan selalu mencoba berbagai cara untuk tetap berlaku curang dan serakah yang menghancurkan sumber daya hutan,” ujarnya.

Direktur Jenderal Gakkum KLHK, Rasio Ridho Sani menegaskan, pihaknya akan terusberkomitmen menjaga dan memberantas kegiatan illegal yang merusak demi keselamatan sumber daya alam Indonesia.

“Kami akan terus menjaga komitmen memberantas kegiatan ilegal yang merusak ini dan menyelamatkan sumber daya alam di Maluku dan Papua. Kami sudah memiliki database, instrumen pemantauan berteknologi canggih, kapasitas SDM yang tinggi,” ujar Rasio Ridho Sani.

Sejauh ini untuk kasus perdagangan kayu ilegal, Ditjen Gakkum telah menyiapkan 24 perkara berupa surat perintah penyidikan (sprindik), yang terdiri dari 4 sprindik untuk KM Hijau Jelita, 2 sprindik untuk KM Oriental Gold, 6 sprindik untuk KM Strait Mas, dan 12 sprindik untuk KM Selat Mas.

“Sampai hari ini, Ditjen Gakkum telah mengamankan 422 kontainer berisi kayu jenis merbau. Para mafia pembalakan liar melawan dengan berbagai cara. Karena itu, kami minta masyarakat dan media massa, dan pinak lainnya turut serta mengawasi kami agar tetap transparan, akuntabel, dan berkeadilan, dalam menegakan hukum,” kata Rasio Ridho Sani.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan