Elit Papua Tewas Saat Hepi-Hepi di Pangkuan Wanita Penjaja Seks Bayaran, Menyedihkan, Tak Peduli Papua Masih Dirundung Masalah Pelik

Elit Papua Tewas Saat Hepi-Hepi di Pangkuan Wanita Penjaja Seks Bayaran, Menyedihkan, Tak Peduli Papua Masih Dirundung Masalah Pelik.
Elit Papua Tewas Saat Hepi-Hepi di Pangkuan Wanita Penjaja Seks Bayaran, Menyedihkan, Tak Peduli Papua Masih Dirundung Masalah Pelik.

Berita mengejutkan tersebar sejak Senin, 13 Januari 2020. Seorang elit politik Papua, yakni Bupati Boven Digoel, Benediktus Tambonop ditemukan tewas mengenaskan, di kamar No 2135 Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, sekitar pukul 10.00 WIB pada Senin (13/01/2020).

Diketahui Bupati Boven Digoel Papua, Benediktus Tambonop, keberadaannya di Jakarta adalah dalam rangka mengikuti Rapat Kerja Nasional Partai Indonesia Perjuangan (Rakernas PDIP).

Salah seorang praktisi media di Jakarta, Jhon Roy P Siregar yang mengetahui informasi itu, menyatakan sangat menyedihkan perilaku elit Papua itu.

Di saat rakyat Papua tengah dirundung berbagai masalah pelik, malah muncul informasi seorang Bupati dari Boven Digoel yang dalam rangka mengikuti Rapat Kerja Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jakarta, malah diketahui sedang indehoi dan hepi-hepi dengan seorang wanita penjaja seks bayaran di kamar hotel mewah. Dan si Bupati ditemukan sudah tak bernyawa, dalam posisi tidak mengenakan pakaian, dengan tumpukan uang di tempat tidur dan minuman obat kuat, serta seorang perempuan di dalam kamar itu.

“Menyedihkan. Elit dan rakyat Papua yang lain sedang sengsara dan memperjuangkan nasib dan penderitaannya yang tak kunjung usai. Eh, malah ada elit Papua, Bupati Boven Digoel yang kedapatan indehoi dan hepi-hepi dengan wanita penjaja seks bayaran, mati mengenaskan, dengan tumpukan uang di dalam kamar hotel mewah,”tutur Siregar, di Jakarta, Kamis, 16 Januari 2020.

Siregar mengatakan, perilaku elit politik lokal dan nasional Indonesia, sudah tidak bisa dijadikan panutan atau teladan. Mulut dan hatinya berbeda dengan sikap dan tindakannya yang tidak dapat dipercaya.

“Harusnya saudara-saudara kita Rakyat Papua marah kepada elitnya yang seperti itu. Sungguh keterlaluan sikap elit seperti itu,”cetus Siregar.

Seperti diberitakan, Bupati Boven Digoel Papua, Benediktus Tambonop ditemukan telah tak bernyawa di Kamar Hotel Nomor 2135, Lantai 2, Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada pukul 10.00 WIB, Senin, 13 Januari 2020.

Dari informasi yang disampaikan penyidik Kepolisian, wanita bernama Mirnawati yang berusia 21 tahun, yang menjadi teman kencan Bupati Boven Digoel itu menemani Beny, nama panggilan Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonop, ke Hotel Grand Mercure kemayoran, Jakarta Pusat.

Mirnawati berkenalan dengan Beny di tempat hiburan Bilyar After Hour, Sarinah, Jakarta Pusat. Mirnawati diketahui bekerja di Bilyar After Hour itu sudah 7 bulan.

“Baru pertama kali kenalan,”ujar Mirnawati. Dia bersedia untuk menemani Beny minum wine dan bersedia dibawa ke Hotel Grand Mercure.

Tidak ada perjanjian kedua pihak mengenai tarif pembayaran untuk Mirnawati, tetapi Mirnawati mengaku diberikan uang oleh Beny sebesar Rp 10 juta di hotel.

Pukul 04.00 WIB, Mirnawati dan Beny tiba di hotel menggunakan mobil dengan diantar oleh Mansur, supir Beny.

Mirnawati dan Beny masuk ke kamar 2135 Lantai 2, Hotel Grand Mercure. Dan melakukan hubungan badan atau ML sebanyak satu kali.

Kemudian, pada Pukul 05.00 WIB, Beny turun dari tempat tidur, tiba-tiba terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri. Mirnawati segera menghubungi receptionist hotel.

Pukul 05.17 WIB, dua orang petugas security hotel datang. Kemudian membawa korban ke Rumah Sakit Mitra Kemayoran. Setibanya di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia.

Pukul 06.00 WIB, pihak Rumah Sakit Mitra Kemayoran menyatakan Beny psotif telah meninggal dunia, dan tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan.

Kemudian, jenazah korban dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mengunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat, untuk dilakukan visum. Dan persiapan mengirimkan jenasah ke keluarganya di Papua. Kasus itu ditangani oleh Polres Metro Jakpus.

Pihak Polres Jakarta Pusat menyatakan, penyidinya mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP), kemudian memanggil Tim Identifikasi Polres Jakarta Pusat, memanggil Palang Hitam, mengirim jenazah ke RSCM untuk dilakukan visum et repertum (VER), mengamankan barang bukti, meminta keterangan saksi-saksi dan membuat laporan.

Di tempat kejadian perkara, penyidik Polres Jakarta Pusat menyita barang bukti berupa uang tunai Rp 100 juta, jamu ramuan Inshanix, Kartu Tanda Peserta Rakernas dan Hari Ulang Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), serta Kartu Tanda Penduduk (KTP) korban.(Nando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan