Eks Lahan Tambang Terlantar, Per Tahun Sebanyak 1,7 Juta Ton Beras Hilang

Eks Lahan Tambang Terlantar, Per Tahun Sebanyak 1,7 Juta Ton Beras Hilang.

Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah telah mengingatkan, berbagai kebijakan pemerintah yang berbasis lahan skala besar seperti pertambangan, telah berdampak buruk dengan semakin menyusutnya ruang produksi masyarakat.

Konflik tata guna lahan tersebut memengaruhi kemampuan negara itu sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya yang terus bertumbuh.

Dalam rentang waktu antara 2014 hingga 2018, terdapat 56 konflik antara masyarakat penolak tambang versus pemerintah dan perusahaan tambang. Konflik itu menyebabkan terhentinya produksi pangan Indonesia.

“Kasus-kasus tersebut terjadi pada lahan seluas 733.440 hektar atau setara dengan satu setengah kali luas Negara Brunei Darussalam yang luasnya 576.500 hektar,” ujarnya.

Dijelaskan Merah Johansyah, pertambangan batubara, misalnya, kini beroperasi pada lahan seluas 4 juta hektar yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia, dengan mayoritas di Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

“Aktivitas pertambangan batubara ini meninggalkan tanah yang tandus, daerah tangkapan air yang tercekik dan terpolusi, dan air tanah yang habis,” ungkapnya.

Penelitian Jatam pada kurun waktu 2016-2017 menunjukkan pertambangan dan eksplorasi batubara merupakan alokasi tata guna tanah berklasifikasi industri (net industrial land use) terbesar di Indonesia, yakni mencakup hampir 17,5 juta hektar.

Konsesi batubara mencakup 19 persen dari lahan pertanian padi di Indonesia yang sudah dipetakan, serta 23 persen dari lahan yang diidentifiaksi mampu diolah untuk pertanian padi.

“Sebagian besar dari lahan yang diidentifiaksi mampu dimanfaatkan untuk cocok tanam padi diokupasi oleh industri perhutanan dan perkebunan kelapa sawit,” ujar Merah Johansyah.

Jatam memperkiarakan, sekitar 1,7 juta ton beras per tahun hilang, akibat pertambangan batubara. Selain itu, per tahunnya juga, sebanyak 6 juta ton produksi beras di tanah garapan terancam hilang.

“Jika terjadi pertambangan di konsesi batubara yang berada di tanah yang diidentifikasi mampu dimanfaatkan untuk cocok tanam padi, akan ada tambahan 11 juta ton beras per tahun yang hilang,” bebernya.

Kondisi ini memang tidak mengherankan, sebab perusahan-perusahaan tambang batubara ini menghindar tunduk pada regulasi yang terbatas pada rehabilitasi dan perlindungan air.

Saat ini saja, terdapat 3.033 lubang tambang batubara dibiarkan menganga di Indonesia. “Tanpa rehabilitasi dan pemulihan, apalagi untuk bicara penegakan hukum,” ujar Merah Johansyah.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan