Breaking News

Efektifkan Penyelesaian Persoalan Kaum Urban, Lurah Kayu Putih Artika Ristiana Galakkan Konsolidasi Warga

Efektifkan Penyelesaian Persoalan Kaum Urban, Lurah Kayu Putih Artika Ristiana Galakkan Konsolidasi Warga. Efektifkan Penyelesaian Persoalan Kaum Urban, Lurah Kayu Putih Artika Ristiana Galakkan Konsolidasi Warga.

Persoalan masyarakat urban menumpuk. Seperti yang terjadi di Provinsi DKI Jakarta. Hampir semua persoalan warga perkotaan di seluruh Indonesia, memiliki kesamaan persoalan dengan warga yang dialami warga Jakarta.

Pemukiman, sempitnya lahan, angka pengangguran yang tidak kecil, pendidikan, kesehatan, angka kriminalitas dan berbagai persoalan yang sehari-hari dihadapi warga membutuhkan sentuhan Gubernur dan perangkatnya secara manusiawi. Tanpa kekerasan, dan solutif. Termasuk menyelesaikan persoalan kemacetan yang tiap hari mendera Ibukota.

Di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, diharapkan mampu menggerakkan aparaturnya di tingkat Kelurahan untuk mengkonsolidasikan warganya. Membahas dan membicarakan persoalan-persoalan yang dihadapi guna mencari solusi yang elegan, yang manusiawi.

Penggusuran, juga kejadian yang masih sangat sensitif di Jakarta. Penggusuran cenderung dipersepsikan biadab dan tidak manusiawi. Jika penggusuran warga terjadi, sering kali aparatur pemerintah yang salah.

Pada 12 September 2019, bertempat di lantai 3, Kantor Kelurahan Kayu Putih, Jakarta Timur, Lurah Artika Ristiana mengumpulkan sejumlah stafnya. Melakukan pertemuan dengan sejumlah perwakilan warga yang menghadapi penggusuran di wilayah Kelurahan Kayu Putih itu.

Selain diikuti Lurah Artika Ristiana, dalam pertemuan itu hadir Kasi Penerangan Kelurahan Kayu Putih Junaedi, Kasi Kesra Kelurahan Kayu Putih Dewi, Kepala Satpol PP Kelurahan Kayu Putih Nasir. Sedangkan dari perwakilan warga ada Atlman Sianturi, Iqbal, Nyonya Simanjuntak, Ariadi dan sejumlah warga lainnya.

Pertemuan di Kantor Lurah Kayu Putih yang beralamat di Jalan Tanah Mas Raya Nomor 2, RT 03/RW 01, Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur itu hendak membahas adanya proses penggusuran tempat usaha dan kediaman sejumlah warga di daerah itu. Yang telah terjadi pada Selasa 18 Juni 2019 lalu. Penggusuran itu menuai protes keras warga kepada Lurah.

Proses pencarian solusi terhadap persoalan warga tampak berlarut-larut. Sudah 7 kali dilakukan pertemuan perwakilan warga dengan pihak Kelurahan. Tak kunjung ada solusi dan penjelasan yang memuaskan.

Akhirnya, Lurah Artika Ristiana kembali membuka ruang dialog dan mendengarkan persoalan dan permintaan warga. “Padahal, sebagai Lurah, meskipun saya masih belum lama menjabat lurah di tempat ini, selalu membuka ruang komunikasi dan mencari solusi bersama atas persoalan yang dihadapi warga,” tutur Artika Ristiana, Minggu (22/09/2019).

Perempuan berparas ayu mengenakan kerudung itu mengaku, belum lama dipindahkan sebagai Lurah di Kayu Putih. Sebelumnya, Artika Ristiana menjadi staf Pemkot di Walikota Jakarta Timur.

“Ke depan, saya sebagai lurah membuka konsolidasi dan pintu terbuka bagi warga, untuk bertemu dan membahas persoalan-persoalan yang kita hadapi bersama. Untuk mencari solusi terbaik. Silakan hubungi semua petugas di kelurahan ini 24 jam, bagi warga. Termasuk saya, henpon saya 24 jam aktif untuk persoalan warga,” jelas Artika.

Dalam pertemuan itu, warga Atlman Sianturi, Iqbal, Nyonya Simanjuntak, secara bergantian menyampaikan keluhan, persoalan dan protesnya atas penggusuran terhadap tempat usaha dan permukimannya.

Atas persoalan itu, Lurah Artika Ristiana menyampaikan, peristiwa itu bukanlah penggusuran, tetapi penertiban.

Jadi, kegiatan penertiban bangunan di Jalan Bangunan Barat, Kelurahan Kayu Putih, yang dialami warganya itu telah sesuai peraturan dan Standard Operational Procedure (SOP) yang ada.

Terbukti, lanjut Artika, dengan telah dilayangkannya Surat Peringatan I tanggal 30 April 2019, Surat Peringatan II tanggal 11 Juni 2019 dan Surat Peringatan III tanggal 13 Juni 2019.

Dia mengatakan, penertiban yang dilaksanakan pada tanggal 17 dan 18 Juni 2019 adalah upaya Lurah Kelurahan Kayu Putih mengamankan aset Pemerintah Provinsi DKI, yang selama ini telah diduduki oleh warga itu, selama kurang lebih 25 tahun.

Penertiban dilaksanakan oleh anggota Satpol PP gabungan Kecamatan Pulogadung dan Kelurahan Kayu Putih.

“Saya melaksanakan penertiban ini karena bangunan ini berada di lahan fasos fasum. Melanggar Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Sebelum melaksanakan penertiban ini pun saya telah melayangkan surat kepada yang bersangkutan sebanyak 3 kali, akan tetapi tidak diindahkan,” bebernya.

Artika pun menegaskan akan menindak semua bentuk pelanggaran seperti ini di Kelurahan Kayu Putih.

“Kita akan tindak tapi tidak sekaligus, karena Kelurahan hanya memiliki kewenangan untuk menertibkan dalam skala kecil. Jadi, kita laksanakan secara bertahap dan tentunya sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku,” lanjut Artika.

Kelurahan Kayu Putih yang memiliki warga heterogen ini merupakan tantangan tersendiri bagi Lurah Artika. Akan tetapi tidak menjadi masalah, karena dengan perbedaan ini menunjukkan Kebhinekaan Tunggal Ika ada di wilayah Kelurahan kayu Putih.

“Warga disini memang heterogen, tapi saya bangga, karena Kayu Putih bagi saya adalah miniatur Indonesia. Dimana di dalamnya bermacam-macam etnis dan suku bangsa,” ujarnya.

Yang pasti, lanjutnya, ke depan, pihak Kelurahan akan secara kontinu melakukan konsolidasi dan pertemuan dengan warga. Untuk bersilaturahmi dan menyelesaikan berbagai persoalan, tanpa kekerasan.

“Penertiban dengan menggunakan Satpol PP adalah jalan terakhir. Kalau sudah diingatkan dan disampaikan, tidak digubris. Barulah Satpol PP kita turunkan,” ujar Artika.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*