Dulunya Lobster Makanan Orang Miskin Dan Narapidana, HNSI: Jika Untuk Kesejahteraan Nelayan, Kenapa Tidak?

Dulunya Lobster Makanan Orang Miskin Dan Narapidana, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru: Jika Untuk Kesejahteraan Nelayan, Kenapa Tidak?
Dulunya Lobster Makanan Orang Miskin Dan Narapidana, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru: Jika Untuk Kesejahteraan Nelayan, Kenapa Tidak?

Jika untuk peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup nelayan, kenapa lobster tidak dikelola dengan baik. Meskipun di era dulu lobster diidentikkan dengan makanan orang miskin dan narapidana, hal itu tidak menjadi masalah. Asalkan pengelolaan lobster diperuntukkan bagi peningkatan kesejahteraan nelayan Indonesia.

Hal itu ditegaskan Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru menyikapi persoalan bisnis lobster yang sedang marak di Indonesia.

“Kalau untuk menesejahterakan nelayan, kenapa tidak? Kita mendukung, asal benar-benar diatur dan dikelola, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan nelayan kecil dan nelayan tradisional,” tutur Siswaryudi Heru, di Jakarta, Selasa (14/07/2020).

Menurut Wakil Ketua Komite Tetap (Wakomtap) Hubungan Antar Lembaga Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) ini, pengelolaan lobster Indonesia mesti diarahkan untuk kemajuan nelayan dan peningkatan kesejahteraannya.

Selain itu, hasil yang cukup membanggakan dari bisnis lobster menjadi pemasukan bagi Negara.

“Bisnis lobster harus mengutamakan peningkatan kesejahteraan nelayan kecil, dan juga mendatangkan devisa bagi Negara,” lanjut Siswaryudi Heru.

Oleh karena itu, lanjut Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan Pengurus Pusat Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT) ini, polemik seputar ekspor dan impor bibit dan lobster, mestinya diupayakan dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan-nelayan kecil yang ada di Indonesia.

“Intinya, tetap harus mengutamakan peningkatan kesejahteraan nelayan kecil dan tradisional Indonesia,” tandasnya.

Sejak beberapa hari terakhir, lobster tengah jadi polemik panas di Indonesia. Ini setelah Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo melegalkan ekspor benih lobster.

Dulunya Lobster Makanan Orang Miskin Dan Narapidana, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru: Jika Untuk Kesejahteraan Nelayan, Kenapa Tidak?
Dulunya Lobster Makanan Orang Miskin Dan Narapidana, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru: Jika Untuk Kesejahteraan Nelayan, Kenapa Tidak?

Di era Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti, ekspor benih lobster merupakan aktivitas terlarang.

Saat ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020.

Menurut politisi Partai Gerindra ini, pencabutan Peraturan Menteri KP 56 Tahun 2016 tentang Larangan Ekspor Benih Lobster yang diterbitkan Susi Pudjiastuti karena dinilai merugikan masyarakat.

Regulasi ini mengatur pengelolaan hasil perikanan seperti lobster (Panulirus spp.), kepiting (Scylla spp.), dan rajunfan (Portunus spp.).

Polemik ekspor benih lobster ini terkait dengan harganya yang cukup mahal di pasaran. Menurut penentang pembukaan ekspor benih lobster, mengekspor benur tanpa dibesarkan lewat budidaya di Indonesia akan merugikan Indonesia karena nilai ekonominya yang masih rendah.

Dulunya Lobster Makanan Orang Miskin Dan Narapidana, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru: Jika Untuk Kesejahteraan Nelayan, Kenapa Tidak?
Dulunya Lobster Makanan Orang Miskin Dan Narapidana, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru: Jika Untuk Kesejahteraan Nelayan, Kenapa Tidak?

Melansir Business Insider, Minggu (12/7/2020), harga lobster di pasaran dunia memang sangatlah mahal.

Di Amerika Serikat (AS) yang jadi negara yang permintaan lobsternya sangat tinggi di dunia, sepiring menu lobster yang beratnya 1 pound (0,5 kg) di restoran dihargai sekitar 45 dollar AS atau sekitar Rp 630.000 (kurs Rp 14.000).

Harga bisa jauh lebih tinggi tergantung lokasi restoran. Beberapa faktor penting jadi penyebab mahalnya harga lobster di negara-negara tujuan ekspor.

Setelah ditangkap nelayan, distribusi lobster juga terbilang panjang hingga sampai ke meja restoran.

Tak seperti komoditas perikanan lain, hampir sulit menemukan tempat budidaya lobster yang bisa menghasilkan lobster dengan harga murah.

Ini lantaran makhluk yang dikategorikan sebagai crustea ini memiliki pertumbuhan yang lambat, banyak makan, dan rentan terhadap penyakit. Selain itu, membudidayakan lobster untuk diambil telurnya juga sangat sulit.

Kondisi ini yang menyebabkan benih losbter harus diambil dari alam oleh nelayan. Suplai benih lobster sendiri memang sangat mengandalkan alam liar.

Padahal, sebelum semahal saat ini, lobster dulunya merupakan makanan yang sama sekali tak dianggap.

Dilansir dari Time, di masa kolonial, lobster bukan makanan kalangan kelas atas atau restoran mewah. Sebaliknya, lobster adalah makanan untuk orang-orang miskin karena harganya yang murah dan ketersediaan di alam saat itu sangat melimpah.

Saking murahnya ketimbang membeli ikan, lobster dijadikan makanan untuk para tahanan di Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Ini dilakukan pemerintah untuk menghemat ongkos makan para narapidana di penjara. Lobster dihidangkan hampir setiap hari di dalam penjara. Hal ini membuat para napi protes karena lauk lobster dianggap terasa sangat hambar.

Belakangan, pengelola penjara akhirnya membuat aturan baru dengan menghidangkan lobster untuk konsumsi napi hanya tiga kali dalam seminggu.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com, Kepala Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Riyanto Basuki, menerangkan lobster memang butuh perairan yang sangat ideal untuk bertelur.

Hanya di beberapa tempat di dunia yang dinilai cocok untuk habitat lobster bernilai tinggi seperti spesies panulirus sp yang banyak diminati di pasar ekspor. Menurut Riyanto, Vietnam meski memiliki perairan, lokasi negara tersebut kurang ideal untuk pengembangan benih lobster dibandingkan dengan beberapa pantai di Indonesia.

Dikatakannya, lobster mahal seperti panulirus sp umumnya bertelur di perairan tropis yang memiliki karang yang baik dan berpasir. Pantai Pangandaran salah satu di antaranya.

“Lobster itu butuh yang namanya tingkat kecocokan. Lobster yang dibudidaya dengan yang ditangkap di alam kan juga berbeda. Nah di Indonesia yang paling cocok itu seperti di Pangandaran dan Lombok Timur,” ucap Riyanto.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan