Dikriminalisasi Karena Ribut Dengan Pihak TPL Ketika Mempertahankan Tanahnya, Dua Pejuang Adat Lamtoras Bebas Dari Tahanan

Penyambutan Di Lapas Batal Karena Penyebaran  Covid-19

Dulu Ribut Dengan Pihak TPL Karena Tanahnya Mau Dirampas, Dua Pejuang Adat Lamtoras Bebas Dari Tahanan.Penyambutan Di Lapas Batal Karena Penyebaran  Covid-19. Foto: Bendahara Umum Lamtoras Thompson Ambarita (kiri) dan  Sekretaris Lamtoras Jonny Ambarita didampingi tim penasihat hukum dari Bakumsu saat menghadiri persidangan pledoi di Pengadilan Negeri  Simalungun, Kamis (13/2/2020). Keduanya bebas dari tahanan setelah menjalani 2/3 masa tahanan 9 bulan. (Istimewa)
Dulu Ribut Dengan Pihak TPL Karena Tanahnya Mau Dirampas, Dua Pejuang Adat Lamtoras Bebas Dari Tahanan.Penyambutan Di Lapas Batal Karena Penyebaran  Covid-19. Foto: Bendahara Umum Lamtoras Thompson Ambarita (kiri) dan  Sekretaris Lamtoras Jonny Ambarita didampingi tim penasihat hukum dari Bakumsu saat menghadiri persidangan pledoi di Pengadilan Negeri  Simalungun, Kamis (13/2/2020). Keduanya bebas dari tahanan setelah menjalani 2/3 masa tahanan 9 bulan. (Istimewa)

Dua Pejuang Komunitas Masyarakat Adat Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) Desa atau Nagori Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, bebas dari tahanan hari ini, Sabtu (4/4/2020). Pengurus dan tetua Lamtoras akan menyambut mereka dalam Upacara Adat Upa-upa.

Mereka yang bebas adalah Bendahara Umum Lamtoras, Thomson Ambarita dan Sekretaris Umum Lamtoras Jonny Ambarita.

Keduaanya menjalani penahanan sejak 24 September 2019 setelah terlibat dalam kasus bentrok memperjuangkan dan mempertahankan Tanah Warisan Nenek Moyang yang telah dihuni secara turun-temurun selama 8-11 generasi, sejak tahun 1800-an. Bentrok terjadi dengan para petugas sekutiri atau Satpam dan bagian Humas PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) yang kini berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (PT TPL).

Kebebasan para Pejuang Masyarakat Adat setelah menjalani penahanan 2/3 dari 9 bulan ini rencananya akan disambut meriah dengan acara adat.

Namun situasi dan kondisi penyebaran penyakit akibat virus Corona 2019 (Covid19), yang sudah menyebar sampai ke Pematangsiantar, maka upacara penyambutan di Lapas Pematangsiantar, ditiadakan.

Wakil Ketua Umum Lamtoras, Mangitua Ambarita mengungkapkan rasa syukurnya atas bebasnya dua saudaranya itu.

“Kami bersyukur, dua pejuang adat Lamtoras bebas hari ini. Semula direncanakan saat Thomson dan Jonny bebas dari Lapas, kami akan menyambut secara adat. Namun tidak memungkinkan karena Covid,” ujar Wakil Ketua Umum Lamtoras Mangitua Ambarita.

Pemuda Masyarakat Adat Lamtoras sekaligus Guru Sekolah Adat Sihaporas, Risnan Ambarita juga menyambut baik masa bebasnya Thomson Ambarita dan Jonny Ambarita.

“Kami bersyukur, dan senang dua pejuang ada ini  bebas. Tadinya kami akan sambut secra adat, tapi situasi penyebran virus Corona saat ini tidak memungkinkan,” kata Risnan Ambarita yang juga anak dari Ketua Umum Lamtoras Judin Ambarita.

Thomson dan Jonny selanjutnya akan langsung dibawa ke Desa Sihaporas di Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Mangitua melanjutkan, akan diselenggarakan acara adat  sederhana namun penuh makna. Dalam bahasa Batak, dia menuturkan apa saja yang akan dilakukan mereka menyambut kedua sanak saudara mereka yang dikriminalisasi aparat itu.

“Nanti di kampunglah baru kami bikin Acara Adat Mangupa-upa. Sekaligus penyambutan kepada Pejuang Adat ini. Setelah itu makan bersama,” ujar Mangitua Ambarita.

Ia memerinci penyambutan berupa upacara adat syukur sekaligus upa-upa. Kepada kedua Pejuang Adat itu akan disajikan manuk mira na niatur ima sitolu masak. Adong namata, nai panggang, na niloppa.

Bahenon mardongan pangurason. Pasahaton ma mangupa-upa pejuang on, asa dao sialni badan, mulak tondi hu ruma. Dungi Martangiang hu Debata Mulajadi Nabolon dohot leluhur,” kata Mangitua.

Saat ritual upa-upa, disajikan makanan khas, yakni memotong ayam kampung bulu mira (warna merah). Daging diolah tiga jenis masakan yakni namata yaitu daging khas dari bagian-bagian tertentu yang diiris dan disantap dalam kondisi mentah atau setengah matang. Kemudian panggang dan dimasak dengan bumbu rempah-rempah. Hidangan disertai pangurason atau air suci.

Selain selamatan, upacara upa-upa juga sekaligus doa untuk buang sial. “Dungi bahenan boras sipir ni tondi tu simanjujungna (beras akan dijumput tetua lalu diletakkan ke kepala),” ungkap Mangitua sembari mengimbuhkan sebelum bersantap dipimpin dalam doa.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan