Ditetapkan Sebagai Tersangka Penipuan dan Penggelapan, Guru Besar UNHAS Ditahan Diam-diam di Polda Metro Jaya

Ditetapkan Sebagai Tersangka Penipuan dan Penggelapan, Guru Besar UNHAS Ditahan Diam-diam di Polda Metro Jaya

- in DAERAH, HUKUM, NASIONAL, PROFIL
1805
0
Foto: Guru Besar Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., (depan) keluar dari ruangan Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan digiring Petugas menuju Gedung Biddokkes Polda Metro Jaya, Kamis sore (20/6/2024). (Dok)Foto: Guru Besar Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., (depan) keluar dari ruangan Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan digiring Petugas menuju Gedung Biddokkes Polda Metro Jaya, Kamis sore (20/6/2024). (Dok)

Seorang Guru Besar Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., telah ditetapkan sebagai Tersangka dalam kasus dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan oleh Polda Metro Jaya.

Pria kelahiran Makassar, 12 Maret 1957 itu pun diketahui sudah dilakukan penahanan, di Polda Metro Jaya.

“Ya betul. Yang bersangkutan (Marthen Napang-Red) sudah masuk tahan sejak kemarin sore jam 4. (Kamis, 20 Juni 2024),” tutur salah seorang Petugas Piket Pagi Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro Jaya, yang tidak berkenan disebutkan namanya, ketika ditemui wartawan, Jumat pagi (21/06/2024).

Diketahui, Guru Besar Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., menjalani pemeriksaan Penyidik Polda Metro Jaya, sejak Rabu (19/6/2024), pukul 10 pagi, dan tidak pulang-pulang sejak hari itu.

Pada Kamis (20/6/2024) dari pagi hingga sore, para awak media yang bertugas peliputan di Polda Metro Jaya, melihat Sang Guru Besar Unhas itu keluar dari ruangan penyidik sekitar pukul 13.30 WIB.

Tersangka kasus dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan itu tampak dikawal sebanyak 5 orang petugas, berjalan kaki menuju Gedung Biddokkes Polda Metro Jaya, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Gedung Dirkrimum Polda Metro Jaya.

Saat hendak di-door stop oleh awak media, Guru Besar Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., tampak terdiam, dan tidak merespon pertanyaan wartawan. 

Sembari berjalan menuju Gedung Biddokkes Polda Metro Jaya, para petugas yang mengawal juga tidak mengijinkan awak media mengambil gambar dan wawancara. 

“Nanti saja, Mas. Jangan dulu,” ujar salah seorang petugas yang tidak disebut namanya, sembari menghalangi wartawan melakukan pengambilan gambar.

Setibanya di Gedung Biddokkes Polda Metro Jaya, Prof Dr Marthen Napang langsung digiring masuk ke bagian dalam gedung lewat pintu IGD Biddokkes Polda Metro Jaya.

Para wartawan pun menunggu di luar gedung Biddokkes Polda Metro Jaya, untuk meminta waktu wawancara kepada Si Tersangka dan petugas.

Hingga sekitar pukul 15.30 WIB, Tersangka Prof Dr Marthen Napang tak kunjung keluar dari gedung Biddokkes Polda Metro Jaya.

Menurut salah seorang petugas medis yang sedang beraktivitas di sekitar Biddokkes Polda Metro Jaya, untuk pengecekan kesehatan seseorang, atau tahanan, paling membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Dikarenakan Prof Dr Marthen Napang tak kunjung keluar dari gedung Biddokkes Polda Metro Jaya, para awak media mencoba mencari informasi ke dalam gedung. Dan di dalam gedung Biddokkes tampak lengang. 

Salah seorang petugas yang sedang masuk ke dalam, ditanya wartawan perihal adanya seorang Tersangka sedang diperiksa kesehatan di dalam.

Setelah mengecek ruangan-ruangan, Petugas tersebut menyatakan tidak ada orang.

“Kosong, Mas. Sudah kosong ini semua. Mungkin sejak tadi sudah dibawa keluar,” ujar pria cepak yang tak mau dituliskan namanya itu.

Sembari menggelengkan kepala ketika ditanya apakah Tersangka Prof Dr Marthen Napang dibawa keluar lewat pintu belakang atau ada pintu keluar lain.

“Saya kurang tahu Mas. Saya juga baru datang. Di sini cuma ada dua pintu, ya ini yang IGD dan di depan sana pintu utama,” ujarnya kebingungan soal adanya pemeriksaan kesehatan Tersangka Prof Dr Marthen Napang yang mungkin sudah dibawa keluar lewat pintu lain.

Ketika ditanya kepada staf Humas Polda Metro Jaya, pihaknya juga tidak mengetahui adanya pemeriksaan terhadap Tersangka atas nama Prof Dr Marthen Napang.

Demikian pula, ketika wartawan mencoba menghubungi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi lewat hand phone, karena yang bersangkutan katanya sedang ada tugas ke luar Kota, tidak mendapat respon.

Jumat pagi (21/6/2024), wartawan kembali mendatangi Polda Metro Jaya, untuk memastikan keberadaan Si Tersangka atas nama Prof Dr Marthen Napang.

Salah seorang Petugas Piket Pagi Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro Jaya memastikan bahwa Tersangka atas nama Prof Dr Marthen Napang sudah dilakukan penahanan, sejak Kamis (20/6/2024) sore, sekitar pukul 16.00 WIB.

Polda Metro Jaya telah menetapkan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Marthen Napang, SH, MH, sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana penipuan (Pasal 378 KUHP) dan atau penggelapan (Pasal 372 KUHP) dan atau pemalsuan (Pasal 263 KUHP) terhadap pelapor Dr John Palinggi, MM, MBA. Perkara tersebut terjadi di Graha Mandiri Lantai 25, No 61 Jakarta Pusat, 12 Juni 2017 silam.

Dalam wawancara dengan Muhammad Iqbal, SH, bersama Peter De Rosari dari Tim Kuasa Hukum Dr John Palinggi, MM, MBA, mengatakan terkait perkembangan terbaru terkait kasus Marthen Napang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan dan atau pemalsuan surat Mahkamah Agung.

“Beliau ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya pada tanggal 4 Juni 2024. Dimana klien kami, saudara Doktor John Palinggi telah menerima tembusan pemberitahuan terkait dengan penetapan tersangka saudara Profesor Doktor Marthen Napang SH, MH,” tutur Muhammad Iqbal kepada wartawan Jumat (21/6/2024).

“Mulanya, pada tahun 2017, Marthen Napang datang menemui Pak John Palinggi untuk meminta menggunakan ruangan kantor di Graha Mandiri Lantai 25, Jakarta Pusat,” lanjut Muhammad Iqbal.

Menurut Iqbal, dalam kurun waktu permintaan tersebut, John Palinggi menyetujui memberikan fasilitas tersebut. John Palinggi memberikan ruangan itu, termasuk segala hal yang terkait, seperti kebutuhan ATK (alat tulis kantor).

Seiring perjalanannya, lanjut Iqbal, Marthen Napang mendatangi John Palinggi dan menawarkan dirinya untuk siap membantu penyelesaian jika ada perkara berkaitan di Mahkamah Agung. 

Bahkan, kala itu, Marthen Napang sempat meyakinkan John Palinggi dengan menunjukkan 12 putusan yang pernah dimenangkannya di MA.

Gayung pun bersambut. Beberapa lama kemudian, Orang Tua angkat John Palinggi yang bernama Ir A Setiawan sedang berperkara dan kasusnya saat itu berproses di tingkat Mahkamah Agung.

Lalu Marthen Napang meminta berkas terkait kasus tersebut kepada John Palinggi. “Marthen Napang juga meminta sejumlah dana operasional terkait pengurusan kasus tersebut kepada John Palinggi. Dana operasional itu pun ditransfer secara bertahap, sesuai permintaan Marthen Napang, kepada tiga rekening atas nama yakni Elisan Novita, Suaeb, dan Sa’dudin ,” jelas Iqbal menguraikan.

Iqbal melanjutkan, dalam perjalanannya, John Palinggi menanyakan perkembangan kasus tersebut kepada Marthen Napang. Kembali Marthen meyakinkan John Palinggi agar tetap tenang menunggu putusan MA tersebut.

Selang beberapa lama, ada email yang diduga atas nama Marthen Napang yang dikirimkan ke email John Palinggi. 

“Setelah di-print out email tersebut, ternyata berisi putusan MA yang memenangkan atau mengabulkan perkara Ir A Setiawan yang diurus oleh Marthen Napang,” bebernya.

Seminggu berlalu, John Palinggi merasa perlu mengecek kebenaran putusan MA yang diduga dikirim via email Marthen Napang. 

“Alhasil, didapatkan informasi dari Staf MA bahwa ternyata Putusan MA yang dimaksud ditolak. Bukannya dikabulkan seperti isi email yang diduga dikirim Marthen Napang,” katanya.

“Berawal dari sini, kemudian John Palinggi melaporkan Marthen Napang ke Polda Metro dengan Laporan Polisi (LP) Nomor 3951/VII/2017/PMJ/Dit Reskrimum/ tanggal 22 agustus 2017,” jelas Iqbal.

Dalam prosesnya, perkara ini berjalan sempat “Jalan di tempat”. “Mungkin karena kesibukan penyidik. Juga, adanya pandemi Covid-19. Barulah saat ini dilanjutkan proses perkaranya. Dan pada tanggal 4 Juni 2024 Saudara Profesor Doktor Marthen Napang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya,” imbuhnya.

Iqbal membeberkan ada lebih dari dua alat bukti terkait penetapan Marthen Napang sebagai tersangka. Pasal yang dikenakan Marthen Napang sebagai tersangka adalah pidana penipuan (Pasal 378 KUHP) dan atau penggelapan (Pasal 372 KUHP) dan atau pemalsuan (Pasal 263 KUHP).

“Terkait apakah Marthen Napang akan ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka, itu semua berpulang kepada kewenangan penyidik yang akan melihat juga dari syarat subjektif dan objektif penahanan,” ujar Muhammad Iqbal.

Sang Guru Besar Sudah Pernah Terlibat Kasus Penipuan di Makassar

Anggota Kuasa Hukum Pelapor John Palinggi, yakni Muhammad Iqbal membenarkan bahwa Guru Besar Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., itu sudah pernah terbelit kasus tipu gelap di Makassar.

“Pihak MA menyatakan bahwa MA tidak pernah mengeluarkan putusan seperti itu berkop MA. Ketika coba di-print-out putusan yang asli, ternyata ditolak/kalah. Disitulah baru Pak John tersadar bahwa selama ini dirinya telah ditipu oleh Prof Marthen Napang,” urai Iqbal.

Kasus ini dilaporkan ke PMJ dan teregister dengan nomor LP/3951/VII/2017/PMJ/Dit Reskrimum tanggal 22 Agustus 2017. 

“Laporan ini tertangguhkan beberapa waktu. Baru saat ini kembali digulirkan dan MN langsung ditetapkan sebagai tersangka,” imbuhnya.

Ditanya soal keterkaitan dengan perkara Prof Marthen di Makassar, yang kabarnya saat ini dia mengajukan Kasasi ke MA, Iqbal menyatakan, laporan kasus MN di Makassar dan Jakarta merupakan satu kesatuan, hanya tindak pidananya saja yang berbeda.

“Di Makassar, MN dilaporkan oleh John Palinggi karena dinilai telah melakukan laporan palsu. Padahal, Pak John hanya menyurati Dewan Pengawas dan Rektor Unhas mengeluarkan unek-uneknya. Itu dijadikan dasar oleh MN untuk melaporkan Pak John dengan dugaan mencemarkan nama baiknya. Isi surat merupakan fakta dari apa yang dialami oleh Pak John sendiri, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Pun Pak John tidak pernah menyebarkan ke publik” paparnya.

Merasa dirinya tercemar, MN melaporkan John Palinggi ke Polrestabes Makassar. Bahkan, John sempat dijadikan tersangka selama 17 bulan, sebelum akhirnya kasusnya dipetieskan karena tidak terbukti terjadi pelanggaran hukum.

Tak puas, MN mengajukan praperadilan, namun ditolak oleh hakim di PN Makassar. Bahkan, MN menggugat Polda Sulsel dengan tuntutan ganti rugi fantastik sebesar Rp 10 miliar. 

Setelah itu, barulah John Palinggi melapor balik MN, hingga akhirnya Hakim di PN Makassar memvonis 6 bulan penjara. MN banding, tapi ditolak oleh Pengadilan Tinggi Makassar.

“Laporan di PMJ merupakan inti dari serangkaian tindak pidana yang dilakukan oleh MN,” tegas Iqbal.(RED)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sambutan Ketua Umum PGI pada Resepsi Interfaith PBNU Bersama Imam Besar Masjid Al-Azhar Mesir; Pdt Gomar Gultom: Mari Bersama-Sama Selamatkan Peradaban, Selamatkan Kemanusiaan, Selamatkan Keberagaman

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta