Ditembak, JPU Ungkap Kondisi Jenazah Mahasiswa Universitas Halu Oleo Randi Di PN Jaksel

Sidang Perdana Kasus Penembakan Mahasiswa Universitas Halu Oleo

Sidang Perdana Kasus Penembakan Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Ditembak, JPU Ungkap Kondisi Jenazah Mahasiswa Randi Di PN Jaksel. – Foto: Sidang Perdana Kasus Penembakan Pengunjukrasa Menolak Rancangan Undang-Undang Kontroversial (RUU Kontroversi) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis (26/09/2019) lalu, yang menyebabkan seorang mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari bernama Rendi terbunuh. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Kamis (06/08/2020). (Ist)
Sidang Perdana Kasus Penembakan Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Ditembak, JPU Ungkap Kondisi Jenazah Mahasiswa Randi Di PN Jaksel. – Foto: Sidang Perdana Kasus Penembakan Pengunjukrasa Menolak Rancangan Undang-Undang Kontroversial (RUU Kontroversi) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis (26/09/2019) lalu, yang menyebabkan seorang mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari bernama Rendi terbunuh. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Kamis (06/08/2020). (Ist)

Sidang perdana kasus penembakan mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) pada saat menggelar unjuk rasa menentang Rancangan Undang-Undang Kontroversial (RUU Kontroversial), di Kendari pada Kamis (29/09/2019) lalu mulai digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), pada Kamis (06/08/2020).

Agenda sidang adalah Pembacaan Dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kota Kendari (Kejari Kota Kendari), Romadu Novelino dan kawan-kawannya.

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU Romadu Novelino, terungkap kondisi fisik mahasiswa bernama Randi, yang tewas pada saat unjuk rasa penolakan RUU Kontroversial di Kota Kendari itu.

“Didapatkan luka akibat kekerasan benda tumpul. Berupa luka lecet pada wajah, bahu kanan dan lengan atas kiri. Diduga akibat senjata api. Berupa luka tembak. Masuk dari jalur antara tegak lurus pada dada kiri,” ungkap JPU Romadu Novelino saat membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Luka tembak itu, diungkapkan berdasarkan hasil visum et repertum dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Kendari Nomor 371/3420 tanggal 28 September 2019. Yang mana telah dilakukan pemeriksaan terhadap Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari berusia  23 tahun, berjenis kelamin laki-laki.

Dalam dakwaannya, JPU Kejari Kota Kendari juga menyampaikan, pada tanggal 26 September 2019 sekira pukul 11 Waktu Indonesia Tengah (WIT) para mahasiswa sudah mulai berkumpul di depan halaman kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara.

Saat sedang berada di depan halaman kantor DPRD Provinsi Sulawesi, para mahasiswa melakukan orasi hingga pukul 13.00 WIT.

Setelah itu mahasiswa yang tergabung dalam aksi protes terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Kontroversi itu mulai melakukan tindakan anarkis.

Para demonstran mulai melakukan tindakan anarkis, dengan cara melempar gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara menggunakan batu. Selain itu, para demonstran juga merusak fasilitas kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, membakar ban di depan gedung kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Kemudian, mahasiswa juga melempari petugas kepolisian yang sedang melakukan tugas pengamanan,” lanjut JPU Novelino membacakan Surat Dakwaan.

Melihat aksi yang mulai anarkis, kemudian aparat kepolisan memukul mundur massa dengan menembakkan gas air mata kepada massa yang berada di depan kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, hingga bergeser ke Jalan Drs Abdul Silondae.

“Dengan melihat seluruh massa yang anarkis, maka petugas kepolisian berupaya mem-backup dan mendorong massa pengunjuk rasa. Kemudian pasukan Penanggulangan Huru Hara (PPH) melepaskan tembakan gas air mata, sehingga massa kemudian terdorong sampai ke jalan Drs. H. Abdul Silondae,” lanjut JPU Novelino.

Setelah berhasi memukul mundur, aksi massa kemudian beralih ke kantor Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dalam kesempatan tersebut para mahasiswa juga melakukan tindakan anarkis dengan melempari para petugas yang sedang melakukan pengamanan di lokasi tersebut. Dan memaksa masuk ke dalam kantor Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sidang Perdana Kasus Penembakan Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Ditembak, JPU Ungkap Kondisi Jenazah Mahasiswa Randi Di PN Jaksel. – Foto: Sidang Perdana Kasus Penembakan Pengunjukrasa Menolak Rancangan Undang-Undang Kontroversial (RUU Kontroversi) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis (26/09/2019) lalu, yang menyebabkan seorang mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari bernama Rendi terbunuh. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Kamis (06/08/2020). (Ist)
Sidang Perdana Kasus Penembakan Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Ditembak, JPU Ungkap Kondisi Jenazah Mahasiswa Randi Di PN Jaksel. – Foto: Sidang Perdana Kasus Penembakan Pengunjukrasa Menolak Rancangan Undang-Undang Kontroversial (RUU Kontroversi) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis (26/09/2019) lalu, yang menyebabkan seorang mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari bernama Rendi terbunuh. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Kamis (06/08/2020). (Ist)

Kejadiannya di samping Kantor Dinas Transmigrasi. Sekitar pukul 15.00 WIT, aksi massa dari mahasiswa kembali melakukan tindakan anarkis dengan melemparkan batu ke arah petugas kepolisian yang melakukan pengamanan di halaman kantor Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kemudian aksi massa menerobos masuk ke dalam halaman kantor Disnakertrans dan melakukan pelemparan terhadap petugas kepolisian.

Selanjutnya, terdengar suara dari kepolisian agar massa aksi untuk tidak melakukan pelemparan, akan tetapi hal tersebut tidak diindahkan oleh massa aksi.

“Sehingga terdengar suara tembakan untuk mengusir massa aksi agar keluar dari halaman kesamping pagar Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tenggara,” lanjut JPU.

Pihak kepolisian, lanjut JPU Novelino, sudah menghimbau para massa aksi untuk tidak melakukan tindakan anarkis. Namun hal itu tidak dihiraukan para demonstran pada saat itu.

Di dalam dakwaan JPU, terdakwa petugas polisi yang melakukan penembakan kepada seorang mahasiswa Kendari tersebut, ketika sedang berada di samping kantor Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tenggara.

Akibat tindakan anarkis yang dilakukan oleh kolompok mahasiswa yang melakukan aksinya, membuat aparat kepolisian yang saat itu sedang bertugas mengawal aksi, mulai kewalahan menghadapinya. Sehingga, terdakwa diduga mengambil tindakan dengan menembakkan senjata api kepada para demonstran.

“Maka petugas polisi yang melakukan pengamanan di samping kantor Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tenggara, mulai tidak terkendali atas aksi massa yang melakukan pelemparan kepada petugas keamanan. Akhirnya terdakwa langsung mencabut senjata api miliknya menggunakan tangan kiri,” tutur JPU Novelino.

Pada saat itu, terdakwa yang sedang melakukan penjagaan aksi demontrasi tidak diperbolehkan untuk membawa senjata tajam.

Saat itu, pelaku yang berada di samping kantor Disnakertrans melakukan pengamanan dengan sengaja membawa senjata api jenis Pistol HS Kal 9 milimeter.

“Dalam semasa tugas pengamanan aksi demo massa, pelaku tidak boleh membawa senjata api namun terdakwa tetap membawa senjata api tersebut dan disimpan di pinggang sebelah kanan,” lanjut JPU.

Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan yang dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kota Kendari, di PN Jakarta Selatan itu dilaksanakan berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor 75/kmh/SK/III 2020 tentang penunjukan perkara sidang atas nama Abdul Malik, sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berwenang untuk memeriksa perkara itu.

Sidang akan dilanjutkan, satu minggu ke depan, yakni pada Kamis, 13 Agustus 2020, dengan agenda pembuktian dan pemeriksaan saksi.(Nando/Jeremy Tarsan Morris)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan