Breaking News

Disampaikan di Forum Masyarakat Asean, KIARA: Proyek Reklamasi Adalah Proyek Ekspoitatif, Nelayan dan Ekosistem Pesisir Harus Dilindungi

Disampaikan di Forum Masyarakat Asean, KIARA: Proyek Reklamasi Adalah Proyek Ekspoitatif, Nelayan dan Ekosistem Pesisir Harus Dilindungi. Disampaikan di Forum Masyarakat Asean, KIARA: Proyek Reklamasi Adalah Proyek Ekspoitatif, Nelayan dan Ekosistem Pesisir Harus Dilindungi.

Nelayan, masyarakat pesisir dan eskositem maupun lingkungannya harus dilindungi. Terutama dari proyek-proyek yang eksploitatif, seperti proyek reklamasi.

Hal itu disampaikan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) pada pertemuan ASEAN People Forum (APF) 2019, yang digelar di Thammasat University, Provinsi Phatum Thani, Thailand.

Pertemuan Masyarakat Asean itu merupakan forum tahunan masyarakat sipil yang rutin diselenggarakan di negara-negara Asia Tenggara. Tujuannya adalah untuk merespon berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Forum ini dihadiri oleh lebih dari 1000 orang peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat di negara-negara Asia Tenggara. Diantaranya Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Timor Leste.

Selain itu, hadir pula sejumlah duta besar dari beberapa negara ASEAN, dan sekaligus terlibat diskusi dengan seluruh peserta APF 2019.

Di forum itu, Kiara menyampaikan, isu mengenai pentingnya perlindungan nelayan beserta ekosistem pesisir-laut dari berbagai ancaman aktivitas ekstraktif serta eksploitatif. Seperti reklamasi pantai, yang kini dilakukan di sejumlah  negara anggota ASEAN.

Menurut Sekretaris Jenderal Kiara, Susan Herawati, desakan untuk melindungi nelayan serta ekosistem laut ini didasari oleh sejumlah hal. Pertama, kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan laut dengan 5.060.180 kilometer persegi. Memiliki sumberdaya perikanan yang sangat tinggi.

Susan memaparkan, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) 2018, negara-negara ASEAN merupakan 10 besar produsen perikanan tangkap dunia. Yaitu, Indonesia sebanyak 6.107.783 ton, Vietnam sebanyak 2.678.406 ton, Filipina sebanyak 1.865.213 ton, dan Malaysia sebanyak 1.574.443 ton.

“Dengan angka sebesar ini, produksi perikanan di negara-negara Asean terbukti dapat memenuhi kebutuhan konsumsi perikanan dunia. Fakta ini membuktikan bahwa negara-negara ASEAN memiliki peran penting untuk menjaga pangan dunia,” kata Susan Herawati, dalam keterangannya, Sabtu (14/09/2019).

Kedua, Kawasan Asia Tenggara merupakan rumah bagi lebih dari 50 juta nelayan yang bekerja menangkap, mengolah dan menjual ikan.

Dengan kata lain, sektor perikanan berhasil menghidupi puluhan juta orang sekaligus menyediakan lapangan kerja yang layak.

“Sektor perikanan sangat berhubungan erat dengan hidup matinya perekonomian seluruh keluarga nelayan di seluruh Asia Tenggara,” tambah Susan.

Namun, pada saat yang sama nelayan-nelayan di Asia Tenggara menghadapi persoalan serius, yaitu industri ekstraktif yang mengancam ekosistem laut dan berpotensi merampas ruang hidup mereka.

“Saat ini nelayan-nelayan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina menghadapi ancaman serius proyek reklamasi pantai,” tutur Susan.

Susan menjelaskan, reklamasi pantai di Indonesia tercatat sebanyak 41 proyek telah memberikan dampak buruk bagi lebih dari 700.000 keluarga nelayan.

Di Malaysia, sebanyak 5 proyek telah memberikan dampak buruk bagi lebih dari 5.000 keluarga nelayan. Dan, di Filipina sebanyak 14 proyek telah berdampak buruk bagi 100.000 keluarga nelayan.

Berdasarkan hal tersebut, Susan mengajak seluruh masyarakat di negara-negara Asean untuk melawan proyek reklamasi di Asia Tenggara.

“Tak hanya itu, kami mendesak negara-negara Anggota ASEAN untuk menolak proyek reklamasi yang tidak dibutuhkan oleh nelayan di Asia Tenggara,” tegas Susan.

Ke depan, pihaknya bersama dengan seluruh elemen masyarakat di Asia Tenggara akan terus terlibat di dalam perlawanan terhadap proyek reklamasi ini.

“Kami akan terus melawan proyek ini bersama masyarakat pesisir Asia Tenggara,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*