Dirjen Baru Terpilih, Status Guru Ekstrakurikuler Ingin Disetarakan

Dirjen Baru Terpilih, Status Guru Ekstrakurikuler Ingin Disetarakan

- in DAERAH, HUKUM, NASIONAL
76
0
Koordinator Investigasi Lembaga Kajian dan Analisis Keterbukaan Informasi Publik (Lembaga Kaki Publik) Wahyudin Jali: Dirjen Baru Terpilih, Status Guru Ekstrakurikuler Ingin Disetarakan. – Foto: Ilustrasi Guru Honorer Melakukan Aksi Protes. (Net).Koordinator Investigasi Lembaga Kajian dan Analisis Keterbukaan Informasi Publik (Lembaga Kaki Publik) Wahyudin Jali: Dirjen Baru Terpilih, Status Guru Ekstrakurikuler Ingin Disetarakan. – Foto: Ilustrasi Guru Honorer Melakukan Aksi Protes. (Net).

Terpilihnya Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen GTK Kemendikbud) diharapkan membawa perubahan dalam hal kemajuan kompetensi guru, kesejahteraan, serta kejelasan atas kedudukan guru-guru di sekolah. Seperti nasib guru ekstrakurikuler di sekolah.

Ketika Nadiem Makariem terpilih sebagai Meteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kemendikbud membawa kebijakan Merdeka Belajar.  Mendikbud berharap, mampu membawa seluruh siswa mampu merdeka dalam berfikir.

Koordinator Investigasi Lembaga Kajian dan Analisis Keterbukaan Informasi Publik (Lembaga Kaki Publik) Wahyudin Jali, menyampaikan, diangkatnya dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang baru hendaknya menjadikan kegiatan ekstrakurikuler atau lebih dikenal dengan ekskul menjadi bagian penting dalam mewujudkan cita-cita belajar yang merdeka.

Karena ekskul merupakan kegiatan yang efektif dalam membawa siswa mengembangkan potensi, bakat, dan kompetensinya, sehingga seluruh siswa tidak selalu terjebak dalam kegiatan-kegiatan formal yang dihabiskan dalam kelas.

Namun hingga kini, menurut Wahyudin Jali, kedudukan guru ekskul sangat memprihatinkan. Mereka dipandang sebelah mata, padahal guru ekskullah yang banyak membantu sekolah-sekolah dalam mengembangkan prestasi sekolah, membantu siswa dalam mengembangkan bakat, mengasah kompetensi siswa di luar sekolah.

“Dan hasil guru ekskul lebih banyak dimanfaatkan dalam ajang akreditasi, tapi nasib mereka tidak dipikirkan,” ujar Wahyudin Jali, Minggu (10/05/2020).

Dia berharap, dengan terpilihnya Dirjen GTK yang baru, nasib guru ekskul lebih diperhatikan. Kedudukan mereka seharusnya sama dengan guru yang lain.

“Karena kompetensi mereka tidak diragukan lagi, mereka terbentuk melalui organisasi-organisasi yang besar,” ujarnya.

Misalnya saja, ekskul Karate yang gurunya sebagian besar terdaftar di Forum Olahraga Karate Indonesia (FORKI), ekskul drumband diajarkan oleh guru-guru yang pernah bermain bersama tim marchingband besar atau terdaftar dalam Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI).

“Belum lagi, pagelaran lomba ekskul yang semakin marak, seharusnya semua kegiatan ekskul mampu membantu mewudukan kebijakan Merdeka Belajar yang dicanangkan Kemendikbud. Sehingga, guru-guru ekskul dapat dimasukkan dalam data pokok pendidikan (DAPODIK), yang sampai saat ini pun  banyak yang tidak terdata,” imbuhnya.

Ketua Aliansi Guru Ekskul Provinsi DKI Jakarta, Dede Arpandi, yang juga menjadi Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Jakarta Utara, mengungkapkan, guru ekskul selama ini hanya menjadi pajangan, layaknya prestasi-prestasi yang telah ditorehkan untuk sekolah.

“Kegiatan rutin lomba setiap tahunnya diikutsertakan, baik lomba tingkat lokal maupun nasional, tapi nasibnya tidak sebanding dengan hasil yang ditorehkan,” ujar Dede Arpandi.

Menurut Dede Arpandi, apbila memang dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), itu sebagian besar diperuntukkan bagi kegiatan siswa, maka kegiatan ekskul harus masuk dalam kegiatan rutin yang didanai oleh sekolah.

Karena kenyataanya, selain dana ekskul yang diberikan tidak rutin setiap bulan, kegiatan ekskul selama ini lebih banyak mengandalkan dana dari komite sekolah. Termasuk gaji guru ekskul, bahkan sarana dan prasarana ekskul pun banyak yang dibeli secara pribadi oleh siswa.

Dede Arpandi berharap, Kemendikbud dengan Dirjen GTK yang baru harus juga memikirkan kesetaraan guru ekskul di dunia pendidikan.

“Baik statusnya sebagai guru di sekolah, yang kesejahteraanya pun juga mesti diperhatikan,” tandasnya.

Delapan pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilantik pada akhir pekan kemarin. Salah satu yang disoroti adalah dilantiknya Iwan Syahril sebagai Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Sebelum dilantik, Iwan adalah staf khusus Nadiem Makarim yang biasa mengurusi bidang pembelajaran.

Iwan menggantikan Supriano yang telah menjabat sebagai Dirjen GTK sejak 2018.  Ia bergabung di Kemendikbud ketika Nadiem Makarim resmi menjadi Mendikbud. Tamatan Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, tahun 1998, itu juga sempat berkarir sebagai di dosen di Universitas Siswa Bangsa Internasional atau dikenal Universitas Sampoerna.

Beberapa praktisi pendidikan memberikan perhatian khusus kepada orang baru dalam Ditjen GTK tersebut. Terlebih lagi karena masih banyak persoalan di bidang guru dan tenaga kependidikan yang masih belum diselesaikan sampai saat ini. Di antaranya seperti permasalahan guru honorer honorer yang tidak kunjung diangkat, rasio ketimpangan guru di daerah dan perkotaan, serta sinergisitas lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dalam menyiapkan calon-calon guru profesional.(JR)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like