Dikerubungi Petani, Menteri Siti Nurbaya Catat Curhatan Warga

Dikerubungi Petani, Menteri Siti Nurbaya Catat Curhatan Warga.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya bertemu para petani di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Sabtu (04/11/1017) lalu.

 

Dalam pertemuan itu, Siti banyak mendengarkan curahatan hati alias curhat para petani, yang kemudian dicatatnya di buku catatannya.

 

Staf Ahli Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) Chalid Muhammad menyampaikan,  peristiwa tak terduga itu terjadi pada pagi hari di Desa yang didatangi oleh ribuan petani hari itu.

 

“Ribuan petani yang datang dari berbagai Desa di Kabupaten Boyolali dan Pemalang menyerbu  Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya,” Chalid menuturkan dalam goresannya,Senin (06/11/2017).

 

Dia menjelaskan, Menteri Siti yang sedang berjalan menuju lokasi acara penyerahan izin perhutanan sosial oleh Presiden Joko Widodo awalnya menghampiri para petani yang sedang menanti kehadiran Presiden.

 

“Para Petani, laki-laki dan perempuan kemudian secara bergantian foto bersama dengan Menteri. Kemudian mereka mulai curhat secara bergantian,” ujarnya.

 

Ada selama hampir dua jam Menteri Siti mencatat semua keluhan dan menjawab beragam pertanyaan petani itu. “Pertanyaan paling banyak disampaikan adalah ikhwal kepastian hak petani dalam mengelola kawasan hutan,” katanya.

 

Hal lain adalah adanya pungutan yang harus dibayar oleh petani pada oknum perhutani bila ingin memanfaatkan tanah Perhutani,  hingga soal kebebasan petani dalam mengembangkan usaha pertanian dan juga akses pendanaan.

 

“Para petani mengatur diri dengan baik untuk berdilog secara bergantian dengan Menteri Siti. Puluhan lembar buku catatannya terisi. Sesekali menteri menyela dan memberi instruksi pada para direktur dan pejabat eselon 1 yang sedianya akan berdiskusi dengan menteri untuk persiapan gladi bersih sebelum kedatangan Presiden,” ujar Chalid.

 

Menteri Siti kembali menekankan bahwa izin pengelolaan hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) yang diserahkan Presiden pada para petani adalah bagian dari program  pemerataan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

 

IPHPS memberi kepastian hukum bagi petani dan kelompok tani dalam mengelola hutan di wilayah Perum  Perhutani selama 35 tahun. Petani diharapkan  dapat menanam tanaman produktif yang bisa menyejahterakan petani dan memperbaiki kondisi hutan Jawa yang kritis.

 

“Menteri juga menjelaskan opsi-opsi pendanaan bagi Petani,  salah satunya adalah Kredit Usaha Rakyat dari Bank Milik Negara serta CSR dari perusahaan,” katanya.

 

Kebijakan, Perhutanan Sosial ini adalah koreksi atas praktik dan kebijakan kehutanan yang selama ini dinilai kurang berpihak pada masyarakat, termasuk para petani desa hutan. Karenanya perlu kerjasama semua pihak agar kebijakan ini bisa berhasil dengan baik.

 

Dialog yang hangat dan akrab itu terpaksa diakhiri Menteri Siti karena telah berkali-kali diingatkan protokol untuk segera menyaksikan geladi bersih yang akan segera dimulai.

 

“Dalam hati saya bergumam Bila setiap pejabat mendengar suara rakyat dengan segenap hati dan jiwanya kemudian menggunakan kuasa yang ada padanya untuk menjawab masalah rakyat maka saya yakin Indonesia sebentar lagi akan tampil sebagai satu kekuatan utama dalam percaturan global,” ujar Chalid.

 

Bagi Chalid, Menteri Siti bekerja sepenuh hati. “Selamat Bu Siti, Anda telah melakukan perbuatan  mulia dalam sepi. Saya yakin para petani walau tak membawa buku dan pena seperti  Anda, mereka telah mencatat  dengan baik semua penjelasan Anda dalam ingatanya. Mereka juga mencatat dalam lubuk hatinya yang dalam atas berbagai terobosan kebijakan dan kebersahajaan anda saat menjelaskan berbagai kebijakan pro rakyat yang dicanangkan pemerintah. Semoga pembangunan dari pinggir yang dijanjikan  Jokowi-JK dalam Nawacita dapat segera terwujud salah satunya melalui program Perhutanan Sosial yang digawangi kementerian LHK yang anda pimpin,” tutup Chalid.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*