Di Masa Covid-19 Pengangguran Meningkat Tajam, Buruh Dukung Industri Beroperasi Lagi

Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Opsi) Timboel Siregar: Di Masa Covid-19 Pengangguran Meningkat Tajam, Buruh Dukung Industri Beroperasi Lagi. (Net)
Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Opsi) Timboel Siregar: Di Masa Covid-19 Pengangguran Meningkat Tajam, Buruh Dukung Industri Beroperasi Lagi. (Net)

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat tajam selama masa pandemic Virus Corona atau Covid-19. Selain itu, ribuan buruh sudah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan. Perusahaan-perusahaan pun hampir kolaps.

Untuk memutar kembali roda perekonomian yang sudah terjun bebas, buruh pun mendukung beroperasinya kembali industri di tengah ancaman pandemic Covid-19.

Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Opsi) Timboel Siregar menyatakan, dari sisi pertumbuhan ekonomi (PE) di kuartal I pada 2020 ini saja hanya 2.97 persen. Hal ini sebagai sinyal yang harus diantisipasi Pemerintah. Mengingat, pandemic Covid-19 belum juga menunjukkan angka penurunan yang signifikan.

“Satu satunya cara untuk mengendalikan Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT adalah dengan mendukung industri. Sehingga industri bisa beroperasi lagi dan merekrut pekerja,” ujar Timboel Siregar, Senin (11/05/2020).

Timboel Siregar menyatakan, stimulus terhadap industri harus segera dilaksanakan. Insentif fiscal atau keringanan pajak harus terus dilanjutkan. Dan pinjaman lunak untuk modal kerja harus segera direalisasikan, sehingga roda produksi berlanjut lagi.

“Selain itu program padat karya tunai di daerah juga harus dilaksanakan agar bisa merekrut pekerja. Proyek infrastruktur dilanjutkan agar ada perekrutan pekerja. Ini adalah dari sisi supply,” tuturnya.

Timboel Siregar mengingatkan, dunia industri terdampak hebat. Sehingga semakin banyaknya pekerja ter-PHK dan dirumahkan tanpa upah. Serta pekerja informal yang tidak bisa kerja lagi karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maupun karena hal lain, seperti berkurangnya konsumen.

Dengan kondisi yang tidak pasti ini, kata dia, bisa saja di kuartal kedua Pertumbuhan Ekonomi akan semakin menurun alias nyungsep.

Pertumbuhan Ekonomi (PE) itu adalah penjumlahan dari Consumsi Agregat + Investasi + Government Expenditure (Pengeluaran Pemerintah) + Ekspor – Impor.

“Dengan kondisi ini, Consumsi Agregat akan berkurang karena banyak pekerja ter-PHK dan dirumahkan, sehingga daya beli menurun. Demikian juga pekerja informal yang tergantung dari pekerja formal akan menurun pendapatannya,” jelas Timboel Siregar.

Untuk Investasi, kata dia, dengan ketidakpastian ekonomi yang menjurus resesi ini, maka investasi pun terus menurun. Pasar modal masih tidak bergairah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih di angka 4500-an.

Goverment Expenditure atau Pengeluaran Pemerintah masih difokuskan pada penanganan Covid-19. Sementara ini pembangunan infrastruktur sedang ditinggalkan dulu. Demikian juga pendapatan APBN masih seret sehingga Pengeluaran Pemerintah akan terkendala. Hal ini menyebabkan Government Expenditure akan menurun.

“Untuk kondisi saat ini, impor bahan baku obat dan alat kesehatan untuk menangani Covid-19 semakin besar. Sementara produk ekspor kita menurun, karena pasar luar negeri juga sedang melesu,” ujar Timboel.

Dari fakta-fakta itu, ditegaskan Timboel, maka Pertumbuhan Ekonomi Indonesia akan menurun di kuartal kedua.

“Tentunya ini akan berdampak pada meningginya Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT,” jelasnya.

Berdasarkan data BPS di 2019, jumlah angkatan kerja pada Februari 2019 sebanyak 136,18 juta orang. Dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,01 persen atau 6,83 juta orang.

Pemerintah memang awalnya memiliki target penurunan TPT menjadi sebsar 4,8 persen pada 2020 atau sekitar 6,5 juta orang dari angkatan kerja.

Menurut Timboel Siregar, target penurunan TPT  itu bisa tercapai bila dalam keadaan normal. Dengan fokus pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu salah satunya dengan dukungan Program Kartu  Prakerja. Dan upaya Pemerintah untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur, serta upaya investasi lainnya maka target tersebut mampu dicapai.

“Kalau sekarang kan kondisi tidak normal. Dengan adanya Covid-19 saat ini, maka sangat mengkhawatirkan target TPT itu tidak tercapai. Dan bisa di atas 5%,” ujarnya.

Kondisi PHK yang terus terjadi dan adanya pekerja yang dirumahkan tanpa upah, serta pekerja informal yang sulit bekerja karena dampak Covid-19, lanjutnya, maka angka TPT akan mencapai di atas 5%.

Hal ini juga didukung oleh pertumbuhan angkatan kerja baru sekitar 2 juta orang. Yang berasal dari lulusan sekolah formal termasuk perguruan tinggi. Yang memang sulit mendapatkan kerja dalam kondisi industri terdampak hebat.

“Dengan kondisi kondisi ini maka saya menilai TPT akan meningkat, di atas 5%, bisa mencapai 5,5%,” lanjutnya.

Karena itulah, dia menyatakan, satu satunya cara mengendalikan TPT adalah dengan mendukung industri agar  bisa beroperasi lagi dan merekrut pekerja.

“Tentunya tidak hanya dari sisi supply yang harus diperbaiki dan tingkatkan, tetapi juga dari sisi demand atau permintaan juga harus dipastikan tetap terjaga.

Selain itu, bantuan sosial (Bansos) harus terus dilanjutkan di masa pandemi ini. Sehingga daya beli masyarakat terjaga. “Sehingga produk barang dan jasa yang diproduksi bisa dikonsumsi,” tuturnya.

Yang pasti, kata dia, keberhasilan pengendalian TPT ini tergantung dari strategi dan upaya Pemerintah untuk memastikan Covid-19 bisa segera selesai. Dan dunia segera pulih dari Covid-19.

“Lalu bagaimana pemerintah bisa memastikan industri bergeliat dan daya beli masyarakat terjaga? Ya, termasuk juga upaya pemerintah untuk terus membuka pasar luar negeri yang memang sangat terganggu dengan adanya Covid-19 ini,” tandasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan