Breaking News

Di Hari Sumpah Pemuda, Jokowi Tak Pedulikan Kemerdekaan Beribadah

Ibadah Ke-181 Kali Jemaat GKI Yasmin & HKBP Filadelfia di Seberang Istana Presiden

Ibadah Ke-181 Kali Jemaat GKI Yasmin & HKBP Filadelfia di Seberang Istana Presiden, Di Hari Sumpah Pemuda, Jokowi Tak Pedulikan Kemerdekaan Beribadah.

Presiden Joko Widodo dianggap tidak mempedulikan kemerdekaan umat beragama dalam menganut dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya.

Ratusan umat dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi, kembali menggelar ibadah bersama di seberang Istana Presiden, Jakarta Pusat, Minggu (28/10/2018).

Anggota Tim Advokasi HKBP Filadelfia Judianto Simanjuntak menyampaikan, ibadah jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia dalam suasan Hari Sumpah Pemuda ini sangat menyentuh, sebab kemerdekaan beragama dan beribadah yang sudah diatur di dalam Undang-Undang Dasar 1945, ternyata tak kunjung direalisasikan oleh Presiden Joko Widodo.

“Indonesia  merayakan Sumpah Pemuda. Ini mengingatkan kita semua, utamanya pemerintah, supaya mengakhiri diskriminasi agama. Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 menyatakan Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, Indonesia. Persamaan hak harus dijunjung tinggi tanpa kecuali,” tutur Judianto, dalam keterangannya, Minggu (28/10/2018).

Dia mengatakan, ibadah di Hari Sumpah Pemuda ini adalah ibadah yang ke-181 kali dilakukan jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia di seberang Istana Presiden.

Dua gereja yang sah di Bogor dan Bekasi ini, lanjutnya, masih dilarang dipakai untuk peribadatan. Sekian lama menanti, sampai kapan diskriminasi ini dibiarkan terjadi? Sampai kapan dua gereja sah GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi dapat dilanjutkan pembangunannya dan dipakai kembali untuk peribadatan?

“Jemaat kedua gereja masih menanti Presiden Jokowi membuka dua gereja yang sah  sebagai bagian penegakkan Konstitusi dan peneghakan hukum di Negara Republik Indonesia,” ujarnya.

Ibadah Damai ini dipimpin oleh Pendeta  Dany Titaley dari GPI di Papua. Selain itu, ibadah juga mengundang  kehadiran Sahabat Lintas Iman dan jaringan.

Dijelaskan Judianto, banyak warga negara mengalami diskriminasi agama, baik yang dialami Ahmadiyah , Syiah, penghayat kepercayaan, umat Kristiani. “Ironinya hal itu terjadi karena tekanan massa intoleran. Penyegelan rumah ibadah jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia oleh Pemda juga karena tekanan massa intoleran,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Judianto, di Bulan September 2018  yang lalu, 3 gereja yakni Gereja Methodist Indonesia (GMI), Huria Kristen Indonesia (HKI) dan Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA), disegel pemerintah Kota Jambi, karena tekanan massa intoleran. “Doakan kami,  temani kami. Wujudkan kemerdekaan beragama dan beribadah di negeri kita,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*