Demi Food Estate Gunung Mas, Seluas 33 Ribu Hektar Hutan Disulap Jadi Kebun Singkong, Waspada, Kalimantan Bisa Berubah Menjadi Sumber Bencana Global Mematikan

Demi Food Estate Gunung Mas, Seluas 33 Ribu Hektar Hutan Disulap Jadi Kebun Singkong, Waspada, Kalimantan Bisa Berubah Menjadi Sumber Bencana Global Mematikan

- in DAERAH, DUNIA, EKBIS, NASIONAL, POLITIK, PROFIL
21
0
Demi Food Estate Gunung Mas Seluas 33 Ribu Hektar Hutan Disulap Jadi Kebun Singkong, Waspada, Kalimantan Bisa Berubah Menjadi Sumber Bencana Global Mematikan. - Foto: Pakar Lingkungan asal Kalimantan Tengah (Kalteng), Alma Adventa PhD.(Ist)Demi Food Estate Gunung Mas Seluas 33 Ribu Hektar Hutan Disulap Jadi Kebun Singkong, Waspada, Kalimantan Bisa Berubah Menjadi Sumber Bencana Global Mematikan. - Foto: Pakar Lingkungan asal Kalimantan Tengah (Kalteng), Alma Adventa PhD.(Ist)

Ini ada peringatan yang perlu disikapi. Terkait pengalihan sebanyak 33 ribu hektar lahan Hutan Tropis untuk dijadikan Food Estate Gunung Mas di Kalimantan Tengah (Kalteng). 

Sebab, jika Pemerintah dan stakeholder lebih mementingkan kalkulasi penghasilan dari luas Hutan Tropis sebanyak 33 ribu hektar yang dijadikan sebagai 33 ribu hektar Kebun Singkong, maka ancaman bencana global yang mematikan sudah di depan mata. 

Hal itu ditegaskan Pakar Lingkungan asal Kalimantan Tengah (Kalteng), Alma Adventa PhD. Alma Adventa mengkritisi sejumlah pernyataan dan langkah yang akan dilakukan Pemerintah terkait perwujudan Food Estate Gunung Mas itu. 

Alma Adventa yang adalah asli Dayak itu mengaku kaget dengan pernyataan sejumlah Pejabat dalam webinar bertajuk Menelisik Food Estate Gunung Mas, yang digelar Jumat pekan lalu. 

“Ada baiknya jika pernyataan Pejabat berbasis data dan kajian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, dalam webinar Menelisik Food Estate Gunung Mas pada hari Jumat minggu lalu, ada sejumlah statement Pejabat yang kurang tepat,” ungkap Alma Adventa, Sabtu (05/06/2021). 

Alma Adventa membeberkan, Pejabat yang hadir sebagai Narasumber pada acara itu menyebut, membuka lahan hutan seluas 33 ribu hektar Hutan Tropis yang masih bagus tutupan pohonnya untuk dijadikan Kebun Singkong adalah lebih baik daripada Hutan Tanaman Industri di sebelahnya. Pernyataan itu, merujuk pada lokasi hutan dan lahan yang berada di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. 

“Saya sendiri mempertanyakan pernyataan dan sikap Pejabat seperti itu,” ujar Alma Adventa. 

Sebab, lanjut dia, Pejabat terkait itu menegaskan, dengan Kebun Singkong yang diubah dari Kawasan Hutan itu akan membuka lapangan kerja dan tidak akan merusak lingkungan. 

“Itu dua kalimat yang sangat paradoksal. Seharusnya, bisa ditelisik, bahwa seluas 33 ribu hektar Hutan Tropis yang masih bagus itu setara dengan sebanyak 33 ribu lapangan sepak bola,” tutur Alma Adventa. 

Perlu dipahami, lanjut Perempuan Dayak yang studi dan tinggal di Inggris itu, seluas 33 ribu hektar Hutan Tropis itu menyediakan hujan dan iklim mikro yang sejuk melalui proses evapotranspirasi, dan juga proses perkolasi menyerap hujan.  Juga menjadi sumber air jutaan galon sebagai persediaan air minum masyarakat. 

“Dan juga dapat mencegah terjadinya banjir,” ujarnya. 

Seorang Pejabat, lanjutnya, juga perlu memahami bahwa dengan 33 ribu hektar hutan tropis itu merupakan habitat puluhan juta spesies di Hutan Tropis. Yang mendukung kehidupan di Bumi. 

“Yang mungkin saja baru sangat kecil, sekitar 1 persen saja yang baru teridentifikasi dari spesies itu,” ujarnya. 

Kemudian, Alma Adventa juga mengingatkan, Hutan Tropis seluas 33 ribu hektar itu berperan untuk menyimpan dan sirkulasi karbon bagi planet Bumi. Yang berperan sangat penting dalam menahan pemanasan global. 

“Perlu memahami dampak dari pemanasan global ini bagi kita masyarakat Kalteng dan dunia, jadi nilai dari 33 ribu hektar Hutan Hujan Tropis ini sangat jauh lebih besar,” ujar Alma Adveta lagi. 

Oleh karena itulah, Alma Adventa mengaku jengkel sekali dengan statement dan sikap Pejabat yang hanya mengejar keuntungan pribadi semata, seperti dalam kalkulasi Kebon Singkong yang disampaikan Si Pejabat itu. 

“Tanpa memahami ini sebagai sesuatu skala planet dan jangka panjang, tak heran kita menghargai 33 ribu hektar Kebun Singkong lebih berharga daripada 33 ribu hektar hutan yang jutaan makhluk hidup lain menggantungkan hidupnya,” imbuhnya. 

Yang paling menjengkelkan lagi, lanjutnya, jika Pejabat menganggap Hutan Tropis seluas 33 ribu hektar itu hanya sekedar kumpulan pohon yang tak berguna. 

“Hutan Tropis seluas 33 ribu hektar itu bukan sekedar kumpulan pohon yang tak bernilai sehingga dengan mudah diubah menjadi Kebun Singkong,” tandasnya.(J-RO) 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Waspada, Praktik Liberalisasi Pasal 66 Undang-Undang Ketenagakerjaan Sudah Terjadi

Denny Siregar komplain data pribadinya dibuka ke publik