Dari Tanah Batak Ternyata Ada Yang Siap Dampingi Jokowi di Pilpres 2019, Putra Dairi Lamseng Saragih Tak Gentar Maju Calon Wakil Presiden

Dari Tanah Batak Ternyata Ada Yang Siap Dampingi Jokowi di Pilpres 2019, Putra Dairi Lamseng Saragih Tak Gentar Maju Calon Wakil Presiden

- in DAERAH, NASIONAL, POLITIK
572
0
Dari Tanah Batak Ternyata Ada Yang Siap Dampingi Jokowi di Pilpres 2019, Putra Dairi Lamseng Saragih Tak Gentar Maju Calon Wakil Presiden.

Di tengah hiruk pikuk tahun politik yang sedang demam mencari Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden menuju Pemilihan Presiden 2019, ternyata ada pria yang tak seheboh tokoh-tokoh Nasional hari ini, mengaku siap mendampingi Jokowi sebagai Calon Wakil Presiden mendatang.

Pria itu bernama Lamseng Saragih. Pria kelahiran Dairi, Sumatera Utara ini mengaku sudah melakukan persiapan hampir lima tahun terakhir untuk maju sebagai Cawapres 2019.

Setelah membuat gempar Jawa Timur, Lamseng Saragih, Putera Dairi kelahiran Sidikalang 55 tahun yang lalu, pulang kampung Jumat 13 Juli 2018. Dalam pertemuannya dengan awak media, dia bercerita tentang kesiapannya untuk mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden RI 2019.

Lamseng Saragih yang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi sejak 1994, menyampaikan keinginannya sebagai Cawapres itu sudah mulai dipublikasikan di kalangan terbatas sejak 5 tahun yang lalu. Impian itu pun sudah dirancang bersama jaringannya sejak tahun 2000.

Dia bercerita banyak kenapa namanya santer disebut “layak dan sangat pas” masuk dalam wacana bakal kandidat Wakil Presiden RI 2019.

Lamseng Saragih adalah Putra Batak yang sudah 30 tahun tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur. Selain sebagai PNS, selama di Banyuwangi, dia sangat dikenal di kalangan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), aktivis dan media. Dia disebut memiliki integritas, konsistensi dan eksistensinya dalam Gerakan Pemberantasan Korupsi, membela Hak-hak rakyat yang ter-aniaya, aktivis lingkungan, pionir Penanggulangan Sampah dan sangat aktif dalam program Pemberdayaan Masyarakat dengan konsep Ekonomi Kreatif Kerakyatan dan Koperasi.

Wacana menjadi Wakil Presiden RI 2019, menurut Lamseng Saragih, mulai didiskusikan bersama dengan jaringannya yang terdiri dari teman-teman sekolah dan kuliah, serta teman-teman bisnisnya.

Hal itu pun sudah mulai dilakukan sejak tahun 2000 dan mulai dipublikasikan lima tahun silam, tepatnya tahun 2013.

“Artinya, wacana tersebut tidak dimunculkan secara mendadak,” ungkap Lamseng Saragih.

Sebagai Cawapres yang siap maju di Pilpres 2019, Lamseng Saragih pun telah mempersiapkan visi dan misinya. Lamseng mengatakan, visinya sebagai Cawapres adalah Indonesia Jaya. Sedangkanmisinya; pertama,mengubah Sampah jadi Berkah (semua sampah dijadikan uang); kedua, mengubah Desa tanpa APBDes; tiga, Ekonomi Kerakyatan; empat, memberantas korupsi tanpa menghakimi (tanpa Pengadilan); lima, mengubah Institusi tanpa Instruksi; enam, mengubah Negeri dari Rumah Sendiri dan tujuh, menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri.

“Termasuk menjadi solusi dan jawaban bagi para pengeritik Presiden Jokowi terkait Tenaga Kerja Asing, khususnya TKA China,” ujar Lamseng.

Dia mengakui, visi-misinya pasti mengundang tanda tanya, sebab berbeda dengan visi misi orang lain. Tetapi, menurutnya, dirinya sudah membuktikan dan bisa. “Artinya bukan lagi sekadar janji tapi bukti. Bukti-buktinya nanti kita tunjukkan ke Publik,” katanya.

 

Latar Belakang Lamseng Saragih

Lamseng Saragih lahir di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Di kota kelahirannya itu juga dia menempuh pendidikan SD, SMP, dan SMA. Sejak SMP hingga SMA, dia selalu terpilih sebagai ketua kelas. Saat SMA, Lamseng juga aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Dia sudah menunjukkan leadership yang sudah mulai tampak sejak kecil. Bahkan semakin terasah dan berkembang seiring pembelajaran berorganisasi di bangku sekolah.

Lamseng tergolong sebagai siswa yang cerdas. Mendapat julukan genius dari teman-teman sekolahnya, karena selalu meraih prestasi ranking 1 atau 2. Masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1982 tanpa tes dan memilih jurusan Fakultas Kedokteran Hewan.

Selama kuliah, Lamseng Saragih aktif dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), yang termasuk dalam Kelompok Cipayung. Dan banyak berdiskusi dengan para tokoh Angkatan 66, antara lain Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, dan sejumlah tokoh dan negarawan lainnya.

Lulus sebagai Dokter Hewan (Drh) pada tahun 1988, Lamseng Saragih langsung berkarir di Berdikari United Livestock (BULI), importir Sapi Perah, anak perusahaan Berdikari Group, hingga tahun 1990. Pada tahun 1991-1993, bergabung dengan Gudang Garam Group. Pada tahun 1994, atas permintantaan Istrinya, mendaftarkan diri menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Mengikuti tes penerimaan calon PNS, lulus dan diterima tanpa korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

“Selama menjadi PNS sampai sekarang, saya tidak pernah mau dan tidak pernah ikut menangani proyek supaya tidak terlibat korupsi, sehingga bisa dikatakan nol korupsi,” tuturnya.

Beberapa kali ditawari promosi jabatan, dia selalu menolak. Bahkan lebih memilih tetap sebagai pejabat terendah eselon 4, agar tetap terhindar dari KKN.

Selama menjadi PNS, dikenal sangat vokal. Beberapa kali memimpin unjuk rasa menentang kebijakan Bupati Banyuwangi.

Seperti pada masa pemerintahan Bupati Ratna Ani Lestari, unjuk rasa oleh ratusan PNS menolak kesewenang-wenang Bupati dalam memutasi pejabat Pemkab Banyuwangi.

Pada era Bupati Abdullah Azwar Anas, berunjuk rasa bersama universitas swasta se-Banyuwangi menolak kelas jauh Universitas Airlangga, karena dinilai melanggar undang-undang.

Unjuk rasa pro rakyat juga pernah dia lakukan di depan kantor Pemkab dan DPRD Banyuwangi. Saat itu, Lamseng memimpin unjuk rasa petani Wongsorejo, salah-satu kecamatan di Banyuwangi yang menuntut hak atas tanah yang dikuasai oleh pengusaha perkebunan.

Dia juga menjadi tokoh utama mendampingi warga Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, dengan membentuk Forum Masyarakat Bulusan Cinta Lingkungan (Formas BCL), dan sukses menolak pendirian pabrik Indocement.

Berbagai kiprahnya menunjukkan bahwa Lamseng Saragih bukanlah seorang yang hijau dalam berbagai aktivitas politik dan kemasyarakatan.

Perjalanan hidupnya selama ini menggambarkan sosok yang memiliki integritas, konsisten, jujur, dan leadership yang diakui oleh orang-orang di sekelilingnya.

Selama berkarir sebagai PNS di Pemkab Banyuwangi, dirinya tetap membangun komunikasi dengan para elit politik di Jakarta. Kebetulan di antara mereka adalah teman-teman SD, SMP, SMA, dan teman-teman kuliah dan jaringan alumni IPB. Juga teman-temannya di berbagai ormas, parpol, dan pejabat eksekutif maupun legislatif.

Lamseng juga terlibat dalam gerakan Reformasi ’98 dan tetap berjejaring dg aktivis ’98 sampai dengan sekarang. “Semua tidak terekspos dan tidak diekspos, karena status saya masih sebagai PNS,” ujarnya.

Menikah dengan seorang Putri Jawa kelahiran Jember, besar di Banyuwangi. Istrinya masih ada hubungan darah dengan Keraton Jogja, melalui garis ayah dan ibu asal Singosari, Malang.

Memiliki 2 orang anak, Putri pertama adalah Sarjana Ekonomi alumni Universitas Negeri Jember (Unej), kini berkarir di Bank BRI. Sedangkan putra kedua baru kuliah di bangku semester 5 jurusan Sistem informasi.

Selama kunjungan di Tanah Kelahiran-nya, Sidikalang, dia aktif berkomunikasi dengan teman-temannya Putera/i Dairi di Perantauan yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, Papua dan lain sebagainya, seperti Dr. Ir Sabam Malau (Rektor Universitas Nomensen), Prof Dr Ir Hasan Sitorus, Togam Gultom (Ketua Yasardis), Anthony Limtan (Redaktur Harian Analisa), Ir Toman Tobing, Sahat Sitorus (Dubes RI untuk Timor Leste), Junimart Girsang (Anggota DPR RI), Lamhot Sihotang dan juga yang tinggal menetap di Sidikalang seperti Bernard Purba, Tagor Napitupulu (Ketua PPM Dairi), Richardo Lumban Tobing, Pandapotan Manik, Pangihutan Sitinjak, Anna Louwisa Sianturi (Kepala SMA N 1 Sidikalang).

Lamseng Saragih juga berencana mendirikan universitas di Dairi, pemberantasan korupsi, Pengentasan Kemiskinan, Pemberdayaan Masyarakat, Pengembangan Pariwisata, Penanggulangan masalah sampah dan lain-lain. “Demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat  Dairi,” pungkasnya.(JR)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Hakim ‘Gemes’ di Sidang Bongkar Kejahatan Biksu Perempuan dan Keluarganya pada PN Jakarta Utara

Persidangan kasus pidana dengan Nomor Perkara 246/Pid.B/2024, di