Dari Diskusi Generasi Muda Toraja, Virus Corona Kalau Tidak Bisa Dilawan, Mari Damai Sambil Jalan

Dari Diskusi Generasi Muda Toraja, Virus Corona Kalau Tidak Bisa Dilawan, Mari Damai Sambil Jalan.
Dari Diskusi Generasi Muda Toraja, Virus Corona Kalau Tidak Bisa Dilawan, Mari Damai Sambil Jalan.

Gerakan Milenial Sang Torajaan (GMS) melakukan diskusi online dengan narasumber milenial Toraja. Diskusi dipimpin oleh moderator Rikky Rundupadang melibatkan total lima narasumber. Acara oleh Koordinator Gerakan Milenial Sang Torajaan (GMS) Brikken Linde Bonting.

Kelima Narasumber tersebut yakni Alan Christian Singkali (S2 Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana), Firmes Nosioktavian (S2 Kebijakan Publik, Manajemen SDM Aparatur, STIA LAN), Yulita Sirinti PongTambing (S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia), Armin Beni Pasapan (S2 Adm. Publik, Konsentrasi Kebijakan Publik, Universitas Mulawarman), dan Lisarama Matandung (S2 Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan, Institut Pertanian Bogor).

Salah satu narasumber, Yulita Sirinti Pongtambing menjelaskan kondisi dari perpektif Kesehatan. Dilansir dari situs resmi pemerintah kawalcovid19.id per tanggal 19 Mei 2020, jumlah kasus positif di Indonesia mencapai angka 18.496 dengan jumlah kematian sebanyak 1.221 orang.

Sulawesi Selatan sendiri menempati urutan kelima sebagai provinsi dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia. Jumlah kasus positif Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 1.064. Dengan jumlah kematian sebanyak 55 orang.

“Tana Toraja melaporkan tiga kasus positif Covid-19 dan Toraja Utara belum melaporkan kasus positif. Indonesia sedang berjuang melawan pandemi dengan penerapan berbagai macam strategi,” ungkap Yulita, Jumat (22/05/2020).

Berbicara mengenai strategi, dilansir dari resolvetosavelives.org ada tiga jenis strategi yang dapat digunakan dalam merespon pandemi.

Pertama, containment strategy yang merupakan penyusunan rencana sistematis untuk mendeteksi kasus secara cepat dan mengeliminasi terjadinya transmisi penyakit.

Kedua, mitigation strategy yang merupakan kontrol terhadap kasus dengan cara membentuk herd immunity dalam suatu popoulasi melalui vaksin lanjutnya.

Ketiga, suppression strategy yang merupakan strategi yang digunakan untuk menjaga kasus tetap berada diangka minimum sebisa mungkin.

“Indonesia tidak berhasil dalam menerapkan containment strategy, namun disisi lain juga tidak bisa menerapkan mitigation strategy karena belum tersedianya vaksin. Sehingga Indonesia sedang berupaya menerapkan suppression strategy, salah satunya melalui kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB),” tuturnya.

PSBB akan dilonggarkan ketika kasus mulai menurun, namun tidak menutup kemungkinan akan diperketat kembali ketika terjadi peningkatan kasus.

“Kita dihadapkan pada kebiasaan baru yang harus kita jalani sebagai suatu proses adaptasi. Konsep itu dikenal dengan istilah new normal. Kemudian apa yang bisa kita kontribusikan sebagai Generasi Muda Toraja agar bisa berdampak bagi orang banyak?” lanjut Yulita.

Yulita menjelaskan, harus mulailah dari diri sendiri dan berikan contoh yang baik untuk orang sekitar melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

Kemudian diikuti dengan pemberdayaan komunitas sekitar dalam lingkup Desa/Kelurahan Siaga, dalam lingkup organisasi keagamaan, atau pun dalam lingkup organisasi yang ada di kampus.

Pemberdayaan komunitas bisa dilakukan melalui berbagai inovasi seperti pembuatan bilik disinfektan dan tempat-tempat cuci tangan sebagai fasilitas umum.

Edukasi melalui social media juga salah satu hal yang cukup berkontribusi, mengingat media adalah salah satu sarana yang digunakan untuk membentuk opini publik.

“Jangan sebarkan kebencian, namun sebarkan konten berbau edukasi sehingga itu bisa meningkatkan literasi kesehatan orang lain,” imbuhnya.

Selain itu, bagi generasi muda yang memiliki minat dan bakat dalam bidang riset juga bisa ikut terlibat atau bahkan menginisiasi pembuatan produk-produk seperti suplemen dari tanaman herbal, APD yang bisa dicuci (washable), dan pembuatan test kit mengingat jumlah test kit di Indonesia masih sangat terbatas.

“Jadi mari kita berdamai dan berkontribusi. Mulai dari diri sendiri, lalu lakukanlah untuk orang lain.” tutup Yulita.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan