Bertransaksi Kredit Kendaraan Bermotor, Ketentuan Fidusia Wajib Difahami

Litigator Pembiayaan, Ardhian Leonardus Sirait: Dalam Bertransaksi Kredit Kendaraan Bermotor, Ketentuan Fidusia Wajib Difahami.
Litigator Pembiayaan, Ardhian Leonardus Sirait: Dalam Bertransaksi Kredit Kendaraan Bermotor, Ketentuan Fidusia Wajib Difahami.

Setiap orang yang melakukan transaksi kredit kendaraan bermotor, wajib memahami ketentuan fidusia. Hal itu untuk mengetahui hak dan kewajiban masing-masing kreditur dan debitur, sehingga tidak terjebak dalam persoalan hukum.

Litigator Pembiayaan, Ardhian Leonardus Sirait mengatakan, para debitur pun wajib memahami Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Fidusia.

Kredit kendaraan bermotor merupakan perjanjian pembiayaan dengan membebankan jaminan fidusia. Dimana hak kepemilikan dialihkan kepada kreditur untuk jangka waktu tertentu.

Di Indonesia, menurut Ardhian, untuk hubungan hukum antara kreditur dan debitur dalam proses melakukan pembiayaan telah diatur dan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia itu.

Mekanismenya, lanjut Ardhian Leonardus Sirait, setelah debitur dan kreditur menandatangi perjanjian fidusia, maka kredit atau perusahaan pembiayaan mengikat perjanjian itu dalam bentuk akta jaminan fidusia.

“Sampai batas waktu 30 hari. Kreditur mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia untuk mendapatkan sertifikat fidusia.  Sertifikat fidusia inilah dasar kreditur melakukan penarikan atau eksekusi unit kendaraan apabila debitur ingkar janji atau menunggak pembayaran,” tutur Litigator Pembiayaan, Ardhian Leonardus Sirait, di Jakarta, Senin (23/09/2019).

Dia menjelaskan, dalam praktek di lapangan ada dua jenis debitur. Pertama, debitur beritikad baik yaitu debitur yang memenuhi kewajiban untuk membayar angsuran kredit, dengan jangka waktu yang ditentukan sesuatu dengan perjanjian.

“Dan di akhir waktu, debitur akan menerima Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dari perusahaan pembiayaan,” ujarnya.

Kedua, debitur yang tidak memiliki itikad baik. Untuk debitur jenis ini, menurutnya, dibagi dalam dua katagori lagi, yakni sejak awal sebelum kontrak dan karena situasional.

Ardhian mengatakan, debitur tidak beritikad baik sejak awal kontrak, hanya memberikan datanya agar lolos dalam proses pengecekan oleh perusahaan pembiayaan.

Kemudian mendapatkan fasilitas pembiayaan. Namun unit kendaraan yang dibiayaai tidak diperuntukan atau digunakan oleh dia.

“Melainkan oleh orang lain yang meminta data dia,” katanya.

Pada umumnya, lanjut Ardhian, peristiwa seperti ini akan berakhir dengan masalah hukum. Dan debitur sendirilah yang mengalami kerugian.

Karena, apabila unit kendaraan tersebut di-over alih atau dijual oleh pihak yang meminjam datanya tersebut, maka perusahaan pembiayaan akan melaporkan debitur tersebut secara pidana ke kepolisian.

“Dilaporkan sebagaimana yang diatur dalam pasal 36 Undang-Undang Nomor 43 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia,” ujarnya.

Selain itu, untuk debitur tidak memiliki itikad baik karena situasional. Yakni bermula saat mengajukan proses pembiayaan untuk dirinya sendiri. Namun dalam perjalanan kontraknya tidak sanggup lagi untuk membayar.

“Tetapi unit kendaraan yang menjadi jaminan tersebut dijual kepada pihak lain. Atau diserahkan kepada ormas, LSM. Alih-alih ingin mendapatkan perlindungan, justru malah debitur tersebutlah yang akan mendapatkan masalah hukum. Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga,” paparnya.

Untuk itu, dari ulasan tentang debitur di atas, jika ingin mengajukan permohonan pembiayaan kepada perusahaan pembiayan, Ardhian memberikan tips.

Pertama, kenali dahulu diri anda dan kemampuan finansial. Pikir-pikir sampai yakin, daripada setelah tanda tangan perjanjian akan mendapatkan masalah hukum perjanjian. Pasalnya, pembiayaan itu mengikat antara debitur dan perusahaan pembiayaan.

Dua, jangan pernah memberikan data anda kepada siapapun untuk pengajukan kredit kendaraan, karena apabila kemudian hari ada masalah, maka anda sendirilah yang akan bertanggung jawab.

Tiga, apabila anda tidak sanggup lagi untuk membayar angsuran, segera komunikasi dengan perusahaan finance, untuk menyerahkan unit kendaraan atau meminta kebijakan dari perusahaan finance tersebut, jangan mau menyerahkan kepada pihak lain, karena akan mendapatkan masalah baru.(Richard)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan