Covid-19 Berdampak Buruk Bagi Semua Orang, Kaum Perempuan Paling Banyak Menjadi Korban, Namun Terabaikan

Covid-19 Berdampak Buruk Bagi Semua Orang, Kaum Perempuan Paling Banyak Menjadi Korban. – Foto: Aktivis Gerakan Perempuan, Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak Pemuda Katolik DKI Jakarta, Veronika Dina Maryani. (Net)
Covid-19 Berdampak Buruk Bagi Semua Orang, Kaum Perempuan Paling Banyak Menjadi Korban. – Foto: Aktivis Gerakan Perempuan, Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak Pemuda Katolik DKI Jakarta, Veronika Dina Maryani. (Net)

Dampak buruk wabah virus Corona (Covid-19) dialami semua orang dan semua sektor kehidupan. Tetapi, khusus kaum Ibu dan Perempuan, dampak buruk Covid-19 lebih berat.

Namun, hingga kini, perhatian dan upaya mengurangi beban berat kaum Ibu dan Perempuan masih jauh dari harapan.

Gerakan Kaum Perempuan Indonesia terus menyuarakan agar kaum Ibu dan Perempuan mendapat perhatian yang baik dalam mengatasi beban berat dari dampak Covid-19.


Salah seorang aktivis gerakan perempuan, Veronika Dina Maryani menyampaikan, hingga saat ini belum ada upaya serius untuk menolong kaum Ibu dan Perempuan di tengah hantaman dampak buruk pandemi Covid-19.

Menurut Veronika Dina yang merupakan Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak Pemuda Katolik DKI Jakarta ini, apa yang dipaparkan Sheryl Sandberg di Fortune, meyakini kaum perempuan, khususnya para ibu, adalah pihak yang paling banyak menanggung beban karena pandemi ini.

“Sebelum pandemi kaum perempuan banyak yang menjalani double shift. Dimana mereka bekerja, kemudian mengurus tugas domestik,” tutur Veronika Dina, Senin (08/07/2020).


Sekarang, dikatakan Veronika, saat anak belajar dari rumah, atau suami bekerja dari rumah, bahkan tak sedikit yang kehilangan pekerjaan jadi harus dibantu. Kaum Ibu jadi double-double shift bekerjanya.

“Ini tentu saja memberi tingkat stres yang ekstra pada perempuan. Sejumlah survei yang dikerjakan lembaga seperti LeanIn.org mengungkap ada kenaikan tingkat stres pada perempuan,”jelasnya.

Setidaknya, sebanyak 31% wanita dengan pekerjaan penuh waktu dan keluarga mengatakan mereka terlibat lebih banyak pekerjaan daripada yang bisa mereka tangani.


Untuk kasus Indonesia, keadaan itu diperparah dengan tren kenaikan pada perempuan yang mengandung. Karena para Relawan KB yang tidak lagi turun lapangan untuk memberikan pelayanan.

Mengandung di tengah situasi pandemi seperti sekarang, lanjutnya, tentu semakin menyulitkan bagi kaum ibu, terutama mereka yang berasal dari golongan ekonomi lemah.

Bagi Veronika, hal ini tidak selayaknya diabaikan. Lewat apa yang dia bisa kerjakan, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadharma ini merasa perlu memberi sumbangsih walau kecil.

“Pemuda Katolik DKI Jakarta hingga saat ini memang fokus membantu masyarakat kecil yang terdampak secara ekonomi dengan Gerakan Angkat Satu Saudara sejak pandemi mulai merebak di DKI Jakarta,” ujarnya.


Namun, kata dia, kali ini melihat dampak yang ditimbulkan semakin meluas, terkhusus bagi kalangan perempuan. Dimana mereka punya banyak tanggung jawab yang khusus terhadap keluarga.

Untuk itu, katanya, Pemuda Katolik DKI Jakarta diwakilkan oleh salah satu kadernya, Lulu Luciana Dita menginisiasi  untuk gerakan  bantuan bagi kaum perempuan dengan tajuk Perempuan Lawan Corona lewat platform crowdfunding kitabisa.com. bersama jaringan Gusdurian Jakarta.


“Semoga dengan gerakan kemanusiaan tersebut dapat membantu para kamu perempuan dalam menghadapi dampak wabah pandemi ini,” tandas Veronika Dina.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan