Breaking News

Catut Nama Kampus Orang Lain Demi Selfie ke Istana, Sepak Terjang Aktivis Rumah Millenial Permalukan Kampus

Catut Nama Kampus Orang Lain Demi Selfie ke Istana, Sepak Terjang Aktivis Rumah Millenial Dipersoalkan. Catut Nama Kampus Orang Lain Demi Selfie ke Istana, Sepak Terjang Aktivis Rumah Millenial Dipersoalkan.

Beberapa nama yang tertera dalam sebuah buku tamu dan undangan yang mengaku aktivis dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) DKI Jakarta dipersoalkan.

Soalnya, nama-nama itu mencatut kampus orang lain untuk memuluskan aksinya agar bisa masuk ke dalam Istana Negara, bertemu dengan sejumlah petinggi serta melakukan selfie-selfie.





Aksi mereka itu mendapat protes keras dari sejumlah mahasiswa yang nama kampusnya dicatut. Apalagi, aksi selfie-selfie para aktivis yang dikenal sering melakukan aksi bayaran itu juga di-upload di media sosial (medos), di instagram dan sejumlah grup whatsapp mahasiswa.

Sam Barlly Rahakbauw, mahasiswa aktif di Universitas Borobudur, Jakarta Timur, kaget dan mengajukan protes terhadap nama-nama yang dikenalnya dengan mencatut nama kampusnya untuk pergi ke Istana Negara.

Pria asal Pulau Key Besar ini protes, soalnya, nama orang yang mencatut nama kampusnya itu bukanlah mahasiswa di Universitas Borobudur.





“Enggak nyangka saya kalau mereka bisa melakukan itu. Mencatut nama kampus demi kepentingan sesaatnya ke Istana Negara,” tutur Sam Barlly, di Jakarta, Sabtu (06/07/2019).

Sam menunjukkan di sebuah media social, instagram dengan akun jeremiamario5, sejumlah foto dipajang tengah selfie dan berfoto dengan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko di Istana Negara.

Menurut Sam, mungkin Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Istananya Jokowi itu tidak tahu bahwa Sang Jenderal telah di-kadali oleh sejumlah orang yang mengaku aktivis BEM dengan mencatut nama kampus orang lain.





“Seharusnya Pak Moeldoko meng-crosscheck siapa sesungguhnya orang-orang itu,” ujar Sam.

Sam pun mengaku mengenal orang-orang itu. Dia akan menyampaikan pencatutan kampusnya itu ke teman-teman dan pihak berwenang di kampusnya agar mengambil tindakan atas pencatutan itu.

Antoni, salah seorang aktivis mahasiswa di Jakarta, mengaku terbahak-bahak begitu mengetahui ada pencatutan nama kampus oleh sejumlah orang yang mengaku aktivis mahasiswa demi masuk ke Istana Negara.





Setelah melihat adanya surat dan tanda tangan da nasal kampus untuk tamu ke Istana Negara, yang diperolehnya, Antoni pun menyampaikan, perilaku aktivi seperti itu tidak perlu ditiru.

“Itu membuat malu aktivis. Bahkan, dapat dikategorikan melakukan tindak pidana karena melakukan pencatutan nama kampus orang lain. Selain itu, juga menunjukkan bahwa mereka itu aktivis abal-abal yang sering beroperasi untuk memperoleh remah-remah berupa uang dan numpang selfie-selfie, dengan mengorbankan nama baik kampus orang lain,” tutur Antoni.

Menurut dia, persoalan ini adalah persoalan serius yang perlu ditindaklanjuti. Soalnya, jika ditelusuri lagi, ternyata mahasiswa tukang cakut nama kampus orang lain yang ada di daftar nama dan foto-foto itu, tidak sekali dua kali melakukannya.





Para mahasiswa yang mengaku aktivis itu pun, lanjutnya, kini diketahui sering beraktivitas di sebuah lembaga bentukan dengan nama Rumah Millenial.

“Menyedihkan sekali ya. Membuat malu diri sendiri, mempermalukan kampus orang lain, dan merasa benar sendiri. Saya kira, adek-adek mahasiswa dan aktivis seperti itu harus diberi pelajaran, harus ditindaklanjuti, supaya jangan jadi kebiasaan,” tutur Antoni.

Ari Botak alias Arbot, salah seorang aktivis 98, geram dengan sepak terjang aktivis millennial seperti itu.  Setelah melihat dan menyaksikan sepak terjang para mahasiswa BEM tukang catut kampus orang lain itu, Arbot pun meminta pihak kampus terkait untuk bertindak.





“Ini enggak boleh didiamkan. Sepak terjang ngaco, tidak bertanggung jawab, aktivis odong-odong, aktivis abal-abal, tukang catut, penipu, itu adalah aktivis mahasiswa yang  tidak perlu eksis di dunia pergerakan ini. Kampus-kampus yang dicatut harus bertindak tegas kepada mereka,” tutur Arbot.

Pada Senin, 20 Mei 2019, sejumlah aktivis yang mengatasnamakan dirinya Aliansi BEM DKI menemui Kepala KSP, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Usai pertemuan itu, mereka juga menggelar jumpa pers, dan menyatakan akan siap menghadapi siapapun yang melakukan provokasi dalam aksi jelang Pengumuman KPU terhadap Pemilu yang jatuh apda 21-22 Mei 2019.

Pertemuan Aliansi BEM DKI itu pun dimuat di situs resmi KSP: http://ksp.go.id/aliansi-bem-dki-temui-moeldoko-siapapun-yang-provokasi-akan-berhadapan-dengan-mahasiswa/index.html. Selain itu, juga tersebar di media sosial dan grup-grup whatsapp.





Dari 17 daftar nama yang tersebar, daftar nomor 2 yang tertulis Y Y Carlos Wawo  dari Universitas Atmajaya, ternyata adalah asal kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI). Dia mencatut kampus Universitas Atmajaya.

Kemudian, nomor urut 3, yang tertulis Samuel Hutapea dengan Kampus Universitas Nasional (Unas), adalah juga asal kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI). Dia mencatut nama kampus Universitas Nasional.

Selanjutnya, Nomor Urut 13, tertulis nama Ferdio dari Universitas Borobudur. Ferdio diketahui memiliki kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI). Ferdio mencatut nama kampus Universitas Borobudur.





Nomor urut 14, tertulis Wahyu dari Kalbis Institute. Wahyu diketahui berasal dari kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI). Dia mencatut nama Kalbis Institute.

Nomor urut 15, tertulis Bunga dari fakultas Keguruan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Namun Bunga adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran UKI. Beda fakultas.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*