Catatan Peserta Kongres II Serindo, Ansori Petani Kecil Dari Kabupaten Lebong Titipkan Surat ke Presiden Jokowi Berisi Keluhkesah Warga Desa Suka Datang Yang Terabaikan

Ansori, Petani Kecil Dari Desa Suka Datang, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Peserta Kongres II Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), di Kongres II Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), yang digelar di Wisma Tanah Air, Jalan Taman Harapan No 200, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu 07 Desember 2019 hingga Minggu, 08 Desember 2019.
Ansori, Petani Kecil Dari Desa Suka Datang, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Peserta Kongres II Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), di Kongres II Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), yang digelar di Wisma Tanah Air, Jalan Taman Harapan No 200, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu 07 Desember 2019 hingga Minggu, 08 Desember 2019.

Ansori, petani kecil dan miskin, datang ke Jakarta, untuk menyampaikan keluh kesah di desanya, di Desa Suka Datang, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, yang sangat amat tertinggal, dan hampir tak dipedulikan oleh pemerintah setempat.

Ansori yang mengaku hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) itu masih muda. Belakangan ini, dia dan beberapa warga desanya, melakukan pengalihan bercocok tanam ke mentimun atau ketimun. Timun ditanami di rawa atau lahan yang berair, setelah terlebih dahulu di buat jalur atau tanah untuk tempat bibit timun di sekitarnya.

“Desa saya di Desa Suka Datang, Kabupaten Lebong, sama sekali tak terluput dari perhatian pemerintah di sana,” ungkap Ansori saat ditemui di arena Kongres II Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), yang digelar di Wisma Tanah Air,  Jalan Taman Harapan No 200, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Menurut dia, selain jenis tanaman padi, kopi, dan berbagai jenis tanaman yang sehari ditanami oleh petani di desanya, sedang mengalami kelesuan, bertanam timun diprediksi mampu memberikan nilai lebih kepada masyarakat desa.

Lahan pun semakin berkurang, sehingga dengan kemampuan seadanya, kiranya mampu menambah penghasilan petani dengan menanami timun di kolam-kolam, rawa atau daerah yang selama ini dianggap tidak produktif.

Memang, Ansori sengaja datang ke Kongres Serindo, yang digelar sejak Sabtu 07 Desember  2019 hingga Minggu 08 Desember 2019. Untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi para petani di desanya.

“Saya tidak akan pulang, sebelum saya sampaikan persoalan kami yang terjadi di Desa Suka Datang,” ujar Ansori dengan logat Bengkulu yang sangat kental.

Dia datang ke Jakarta bersama kawannya dari Lebong, Bengkulu, untuk menyampaikan, derita dan juga ketidakpedulian pemerintah yang dialami warga desanya di Desa Suka Datang.

Di akhir penyelenggaraan Kongres II Serindo, Anshori meminta agar catatan berupa tulisan tangannya dibacakan dan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo dan Pemerintah Pusat di Jakarta ini, agar melihat dan mempedulikan desanya yang hampir tak tersentuh kepedulian pemerintah.

“Kami para petani di Desa Suka Datang, Lebong, sangat berharap agar pemerintah menoleh dan menunduk ke bawah untuk melihat dan memperhatikan kami warga desa dan para petani yang dibiarkan begitu saja selama ini,” tutur Ansori.

Ansori mengungkapkan, untuk tingkat aparatur desa saja, dikuasai oleh Kepala Desa dan sanak family si Kepala Desa yang bersangkutan. Dana Desa sama sekali tak dipergunakan untuk kemajuan petani dan desa.

“Kami yang awam, yang kurang berpendidikan, dan miskin ini, tidak mengerti seperti apa. Semua ada di mereka, para orang kaya, orang-orang yang berkuasa di desa dan sanak saudara terdekat mereka saja,” tutur Ansori.

Selain pengelolaan dana desa yang tak jelas, menurut dia, warga desa yang sebagian besar adalah petani, hanya mampu bertani seadanya, secara tradisional. Dengan hasil yang sudah bisa diprediksi, sering tak cukup untuk makan sehari-hari.

“Kalau panen, kami ndak tahu, harga hasil panen petani selalu tak ada nilainya. Tidak pernah mencukupi,” keluhnya.

Selain itu, saat ini sudah banyak tanah-tanah di desa yang mulai dibeli oleh orang-orang yang memiliki banyak uang. Terutama mereka yang berasal dari luar daerah. Untuk membangun rumah, atau bangunan-bangunan yang hanya bisa dinikmati oleh yang punya uang saja.

Padahal, menurut Ansori, di sektor pertania, di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, jika dikembangkan dan benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah, akan mampu memproduksi banyak sumber pangan yang bisa mensejahterakan warga desa dan pemerintah setempat.

“Kami di desa mendengar, Bapak Presiden Joko Widodo akan membantu orang-orang desa. Jika itu betul, maka tolong disampaikan, kami di Desa Suka Datang sangat butuh uluran tangan. Sangat butuh dilihat dan diperhatikan oleh Bapak Presiden. Sebab, pemerintah setempat di desa kami, tidak perduli dengan para petani dan warga desa,” bebernya.

Ansori berharap, sepulangnya dari Jakarta ke desanya, akan ada dari Pemerintah Pusat yang serius memperhatikan dan mengembangkan masyarakat desanya.

“Bukan hanya desa saya saja, hampir semua desa-desa di Lebong butuh kehadiran pemerintah untuk mengembangkan desa dan masyarakat, agar tidak bodoh dan tidak miskin. Agar tidak diperdaya oleh orang-orang yang punya uang dan berkuasa,” pintanya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*