Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara

Mencari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki, Ratusan Petani Sumut Terus Susuri Jalur Lintas Sumatera Ke Jakarta

Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara. – Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)
Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara. – Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)

Sebanyak 170 petani, dua diantaranya lansia, melanjutkan aksi Jalan Kaki  dari Sumatera Utara menuju Jakarta.

Penanggungjawab Aksi, yang juga Dewan Pembina Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB), Aris Wiyono menyampaikan, pada Selasa, 07 Juli 2020, mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah beristirahat di Gedung Serba Guba Kabupaten Labuhanbatu Selatan (SBBK Labusel).

“Pagi ini, jam 9 pagi kami kembali bergerak, mengarah ke Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau,” tutur Aris Wiyono.

Hari ini sudah memasuki hari ke 13 mereka berjalan kaki dari Sumatera Utara hendak menuju Istana Negara di Jakarta. Sekitar 400 kilometer jarak sudah ditempuh dalam perjalanan. Jarak masih jauh, mereka harus menyusuri 1812 Kilometer agar sampai di Istana Negara, Jakarta.

“Jika menghitung jarak itu, masih harus menempuh 1412 kilometer lagi jarak yang harus ditempu agar sampai di Istana Negara di Jakarta,” ujarnya.

Namun, para petani yang sedang memperjuangkan hak-haknya dan keadilannya itu tetap bersemangat. Para petani sedang memperjuangkan hak atas tanah dan tempat tinggalnya yang digusur paksa oleh perusahaan pelat merah yakni PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara.

“Seperti yang kita ketahui bersama, bulan depan adalah Bulan Agustus, di mana bulan tersebut senantiasa kita peringati sebagai Hari Kemerderkaaan Bangsa Indonesia. Dan perlu kita ingatkan, bagi para penerus bangsa dan pemimpin bangsa kita hari ini, bahwasanya dulu para pendiri bangsa kita, Bapak Soekarno pernah berkata, perjuanganku saat ini berat karena melawan penjajah Belanda, namun akan lebih berat lagi perjuangan kalian anak-anakku, karena kalian berjuang untuk merdeka melawan penjajahan dari bangsamu sendiri, saudara-saudaramu sendiri dan kawan-kawanmu sendiri,” tutur Aris Wiyono.

Karena itu, Aris Wiyono melanjutkan, kepada kawan-kawan dan saudara-saudari, kepada media massa, pemuda dan mahasiswa, pejabat dan aparatur Negara, pendiri bangsa Soekarno telah mengingatkan, kemerdekaan belum seutuhnya terjadi.

“Mesti kita pahami betul, bahwa kemerdekaan kita belumlah seutuhnya. Hari ini, kita melihat, penjajahan yang dilakukan oleh BUMN yakni PTPN II Tanjung Morawa terhadap para petani Sumatera Utara. Dan pada hari ini pula, kami para petani Simalingkar dan Merincim membulatkan tekad untuk mencari kemerdekaan dan keadilan yang belum diperoleh,” tuturnya lagi.

Kondisi ini, lanjutnya, sekaligus ebagai ujian bagi pemimpin bangsa saat ini, sebagaimana yang telah dilakukan pendiri bangsa Soekarno, apakah mampu memerdekakan rakyat dan petaninya dari penjajahan bangsanya sendiri, yakni oleh PTPN II Tanjung Morawa.

“Kami, para petani Sumatera Utara, bertekad untuk ikut Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di Istana Negara. Sekaligus, mendeklarasikan kemerdekaan bagi kami dan seluruh petani dari penjajahan dan penindasan yang dilakukan BUMN seperti PTPN II. Dan kami bertekad, pada tanggal 17 Agustus 2020 nanti, wajib hukumnya merdeka dengan tanpa syarat apapun. Kembalikan tanah dan rumah kami ke pada keadaan semula,” tandas Agus Wiyono.

Tidak kurang dari 170 petani dari berbagai usia menggelar aksi jalan kaki dari Medan menuju Ibukota Negara, Jakarta.

Para petani yang berjalan kaki itu adalah korban konflik agraria dengan PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara.

Para petani yang tergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) melakukan aksi jalan kaki dari Medan, Sumatera Utara menuju Istana Negara di Jakarta untuk mencari keadilan.

Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara. – Foto: Petani Nenek Sura Beru Sembiring berusia 63 tahun dan Kakek Wagiran Atmadja berusia 76 tahun pun ikut memperjuangkan mencari keadilan dengan berjalan kaki ke Jakarta. (Istimewa)
Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara.Foto: Petani Nenek Sura Beru Sembiring berusia 63 tahun dan Kakek Wagiran Atmadja berusia 76 tahun pun ikut memperjuangkan mencari keadilan dengan berjalan kaki ke Jakarta. (Istimewa)

Para petani itu memulai aksi jalan kaki pada 25 Juni 2020. Mereka bergerak dari Simalingkar, Kecamatan Pancur, Kabupaten Deli Serdang.

Bukan hanya petani yang masih muda dan segar bugar yang menjadi korban konflik agrarian dengan PTPN II ini. Para lansia dan usia senja seperti Nenek Sura Beru Sembiring berusia 63 tahun dan Kakek Wagiran Atmadja berusia 76 tahun pun ikut memperjuangkan mencari keadilan dengan berjalan kaki ke Jakarta.

Mereka ikut aksi jalan kaki yang dimulai dari Dusun Bekala, Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, ke Jakarta.

Sura Br Sembiring (63) dan Wagiran Atmadja (76), mengaku rela berjalan kaki ke Jakarta untuk mengadukan nasibnya kepada Jokowi. Kedua kakek dan nenek ini yakin, perjuangan mereka ini akan membuahkan hasil yang diharapkan para petani.

“Sejak orang tua saya masih hidup pada zaman Belanda, saya termasuk pelaku sejarah. Kami sudah mengadukan permasalahan ini ke Menteri, DPR RI, kalau soal ke Gubernur Sumut, jangan ditanyakan lagi sudah berkali-kali kami sampaikan. Makanya kami nekad jalan kaki hingga ke Istana Negara,” tutur Kakek Wagiran Admadja yang diamini Nenek Sura Br Sembiring.

Nenek Sura Beru Sembiring yakin, jika sudah tiba di Jakarta dan menyampaikan persoalannya ke Presiden Joko Widodo, para petani akan mendapatkan haknya.

“Kami perkirakan Bulan Agustus mendatang. Karena kami yakin perjuangan kami akan membuahkan hasil,” ujar Nenek Sura Beru Sembiring.

Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara. – Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)
Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara.Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)
Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara. – Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)
Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara.Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)
Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara. – Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)
Cari Keadilan Dengan Aksi Jalan Kaki Ke Jakarta, Ratusan Petani Korban PTPN II Bertekad Ikut Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus Di Istana Negara.Foto: Hari Ke 13 Aksi Jalan Kaki 170 Petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) korban PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Peserta memasuki Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Selasa (07/07/2020). (Istimewa)

Koordinator Aksi Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB), Sulaeman Wardana menjelaskan, tuntutan para petani akan disampaikan langsung ke Presiden Joko Widodo di Jakarta.

“Jokowi harus menyelesaikan masalah ini. Jangan aada lagi kriminalisasi terhadap petani. Sebab, dari kami ada yang ditahan di Poltabes Medan dengan tuduhan  pengrusakan pagar Kantor PTPN II padahal tidak terlibat, yakni, Ardi Surbakti selaku Sekretaris SPSB,” ungkap Sulaeman Wardana.

Selain itu, lanjut Sulaeman, ada dua orang dari mereka yang sudah divonis 7 bulan di PN Pancur Batu, yakni, Japet Purba dan Beni Karo-karo. “Kalau yang dua ini kami akui mereka dinyatakan bersalah dalam pengrusakan,” ujarnya.

Sulaeman mengatakan, konflik petani dengan PTPTN II Tanjung Morawa ini sudah terjadi sejak tahun 1951. “Dan lahan itu telah dikuasai masyarakat turun temurun, namun dirampas oleh PTPN II Tanjung Morawa,” ujar Sulaeman Wardana.

Penanggungjawab Aksi, yang juga Dewan Pembina SPSB dan STMB, Aris Wiyono menambahkan, aksi jalan kaki ini dilakukan karena areal lahan dan tempat tinggal yang telah mereka kelola dan tempati sejak tahun 1951 telah digusur paksa oleh korporasi plat merah bernama PTPN II.

“Padahal kami telah mengantongi SK Landreform sejak tahun 1984. Dan parahnya, sebanyak 36 petani di Sei Mencirim yang ikut tergusur sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM),” ujar Aris Wiyono.

Luas area yang menjadi penyebab konflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan PTPN 2 adalah ± 854 hektar. Dan luas area yang berkonflik antara petani yang tergabung dalam STMB dengan PTPN 2 adalah seluas ± 850 hektar. Dan, tuntutan petani STMB  adalah  seluas ± 323,5 Hektar.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan