Cari Dan Temukan, Polisi Pelaku Kekerasan Pada Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa Harus Dihukum Seberat-Beratnya

BEM Unkris Datangi Propam Polda Metrojaya Pada Senin 14 Oktober 2019

Mahasiswa Datangi Propam Polda Metrojaya pada Senin, 14 Oktober 2019, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Krisnadwipayana (BEM Unkris) Dwiki: Cari Dan Temukan, Polisi Pelaku Kekerasan Pada Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa Harus Dihukum Seberat-Beratnya.
Mahasiswa Datangi Propam Polda Metrojaya pada Senin, 14 Oktober 2019, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Krisnadwipayana (BEM Unkris) Dwiki: Cari Dan Temukan, Polisi Pelaku Kekerasan Pada Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa Harus Dihukum Seberat-Beratnya.

Dua mahasiswa Universitas Krisnadwipayana (Unkris) mengalami luka berat akibat tindakan represif dan kebrutalan oknum aparat  kepolisian pada aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar ribuan mahasiswa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Selasa (24/09/2019) lalu.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Krisnadwipayana (BEM Unkris) Dwiki, menyampaikan, hingga saat ini, dua orang mahasiswa Unkris masih mengalami kesakitan berat, gegar otak dan trauma karena perlakuan puluhan aparat kepolisian kepada mereka pada saat aksi unjuk rasa itu.

Selain itu, tindakan dari institusi Polri kepada para oknum Polisi yang melakukan kekerasan dan kebrutalan kepada mahasiswa dan para pengunjuk rasa, tidak ada. Proses hukum pun tidak berjalan.

Karena itulah, pada Senin, 14 Oktober 2019, BEM Unkris dan sejumlah mahasiswa mendatangi bagian Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metrojaya. Untuk melaporkan dan mendesak pimpinan tertinggi Polri segera mengusut dan memroses para oknum polisi yang melakukan kebrutalan dan kekerasan serta penganiayaan kepada para peserta unjuk rasa. Termasuk kepada dua orang mahasiswa Unkris yang kini masih menjalani proses perobatan dan pemulihan.

“Hari ini kami mendatangi Polda Metrojaya untuk membuat laporan atas tindakan represif dari oknum kepolisian yang dilakukan terhadap teman kami,”tutur Dwiki, di Polda Metrojaya, Senin (14/10/2019).

Sebanyak 12 orang pengurus BEM Unkris mendatangi Bagian Propam Polda Metrojaya, untuk mendesak Kepolisian tidak diam saja dengan tindakan kekerasan dan kebrutalan yang dilakukan Polisi kepada mahasiswa itu.

“Laporan kami ke Bagian Profesi dan Pengamanan, ke Propam Polda Metrojaya. Agar segera menemukan oknum-oknum Polisi yang melakukan tindakan represif tersebut. Kami berharap, agar oknum-oknum polisi itu diberikan sanksi tegas dan hukuman seberat-beratnya,” tutur Dwiki.

Dwiki juga mengajak semua mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum yang menjadi korban kekerasan aparat pada saat unjuk rasa itu bersuara dan mendesak agar institusi Polri mengusut dan membongkar kejahatan dan kekerasan yang dilakukan polisi.

“Kami menghimbau kepada seluruh teman-teman mahasiswa yang juga mengalami intimidasi, tindakan represif dari aparat pada saat melakukan aksi mengemukakan pendapat waktu itu, untuk melaporkan dan menyampaikan kejadian dan peristiwa yang menimpa kawan-kawan. Ingat, unjuk rasa yang kita lakukan waktu itu adalah unjuk rasa damai untuk mengemukakan pendapat, sebagai hak asasi setiap warga Negara menyampaian pendapatnya,”tutur Dwiki.

Dia menuturkan, pada aksi unjuk rasa mahasiswa di hari Selasa, 24 September 2019 lalu itu, ada ribuan mahasiswa Unkris yang turun ke Senayan. Aksi mahasiswa Unkris itu telah mendapat persetujuan dari pihak kampus Unkris. Dengan memastikan bahwa aksi hari itu adalah aksi damai untuk menyampaikan aspirasi.

“Kami dari Unkris ada ribuan orang. Tergabung dari berbagai fakultas, untuk melakukan aksi damai, menolak RUU KUHP di Kemenkumham dan Gedung DPR. Aksi ini meminta Pemerintah Pusat dan DPR agar menolak RUU KUHP yang mereka lakukan itu. Karena banyak pasal yang multitafsir, dan bermasalah,”tutur Dwiki.

Bukan hanya dari kampus Unkris. Aksi hari itu diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dari seluruh Indonesia. Dari Unkris sendiri, lanjut Dwiki, pilihan turun ke jalan berunjuk rasa dilakukan setelah melakukan kajian di kampus, secara akademik mengenai RUU KUHP itu. Ditemukannya pasal yang bermasalah, tumpang tindih dan berbagai persoalan lainnya. Seperti pada pasal 470 RUU KUHP. Itu bermasalah.

“Aksi kami dari Unkris juga didukung penuh pihak kampus, dan memperoleh izin untuk menggelar aksi damai itu. Aksi kami mulai dari Kampus Unkris menuju lokasi aksi di Kemenkumham dan DPR RI. Kami bergabung dengan ribuan mahasiswa lainnya di lokasi. Hingga pukul 18.00 WIB, aksi waktu itu berlangsung damai dan kondusif. Berlangsung damai,”tutur Dwiki.

Sebagai Ketua BEM Unkris, Dwiki memastikan, aksi yang mereka lakukan murni karena adanya keresahan yang dirasakan sivitas akademika Unkris terkait RUU KUHP itu.

“Aksi kami juga dilakukan secara independen, tanpa ada kepentingan kelompok lain yang menunggangi. Kami bersiap membubarkan diri pada Pukul 18.00 WIB. Dan sudah sepakat bahwa mahasiswa Unkris bertemu di titik penjemputan untuk kembali ke kampus,”ujarnya.

Sedang dalam proses menuju titik lokasi kumpul untuk kembali ke kampus, pada Pukul 19.00 wib, terjadi chaos. Barisan massa aksi mengalami kisruh. Situasi menjadi tidak terkendali. Aparat kepolisian bentrok dengan sejumlah peserta aksi lainnya.

“Beberapa dari kami tetap di lokasi titik kumpul yang telah disepakati, untuk memastikan teman kami benar-benar sudah aman semua,”kata Dwiki.

Dwiki mengatakan, hingga Pukul 23.30 WIB, dua orang temannya sesame mahasiswa Unkris tidak ditemukan. “Kami mendapat informasi, dua orang mahasiswa Unkris itu diperlakukan secara represif oleh oknum puluhan Polisi,”ujarnya.

Gusti Aji (21 tahun) mahasiswa Fakultas Hukum Unkris dan Yoverly (20 tahun) mahasiswa Fakultas Teknik Unkris menjadi korban pemukulan, kekerasan dan menderita luka berat.

“Menurut pengakuan keduanya, mereka dijadikan sasaran tindakan represif oknum aparat kepolisian saat hendak menuju lokasi titik kumpul kami mau kembali ke kampus,”ujar Dwiki.

Ketika berjalan melewati polisi hendak ke titik kumpul, kedua mahasiswa Unkris itu langsung diancam akan ditembak jika melarikan diri. “Mereka hendak pulang, akhirnya pasrah dan menyerahan diri kepada aparat kepolisian,”katanya.

Dwiki melanjutkan, tanpa perlawanan, kedua mahasiswa Unkris itu diperlakukan sangat kejam oleh para polisi. Keduanya digeledah, seluruh pakaiannya dilucuti, diludahi oleh polisi.

Tidak hanya itu, puluhan polisi itu langsung melakukan tindakan kekerasan berupa pemukulan. Menggunakan tangan kosong, benda tumpul juga. Keduanya dipukuli juga dengan menggunakan bagian belakang senjata polisi. Keduanya diinjak-injak dengan menggunakan sepatu polisi.

“Tidak hanya itu, pada saat akan ditangani petugas medis, kedua teman kami itu masih juga dipukuli. Akibat tindakan represif dari para polisi itu, kedua mahasiswa Unkris itu mengalami luka berat dan trauma,”ungkap Dwiki.

Gusti Aji (21 tahun) mahasiswa Fakultas Hukum Unkris mengalami luka di bagian kepala, tangan dan bagian tubuh lainnya. “Kepalanya Gusti mendapat puluhan jahitan dan harus menjalani perawatan selama satu minggu di Rumah Sakit TNI Al Dr Mintohardjo, Jakarta Pusat,”tutur Dwiki.

Kemudian, Yoverly (20 tahun) mahasiswa Fakultas Teknik Unkris mengalami luka di bagian kepala hingga gegar otak. Yoverly sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo.

“Makanya, hari ini kami mendatangi Propam Polda Metrojaya, agar segera menemukan dan memroses para oknum aparat kepolisian yang melakukan tindakan represif itu. Mereka harus diproses secara hokum, diberikan saksi yang tegas dan hukuman seberat-beratnya,”ujar Dwiki.

Dwiki juga mengingatkan para mahasiswa lainnya yang juga mengalami kekerasan dari aparat kepolisian pada saat unjuk rasa itu untuk melaporkan tindakan refpresif yang dialaminya.

“Sehingga, tidak ada lagi korban-korban berikutnya seperti yang dialami Gusti dan Yoverly,”ujar Dwiki.

Sementara itu, petugas di Divisi Propam Polda Metrojaya yang menerima pengaduan dan laporan BEM Unkris itu menyampaikan, pihaknya akan segera merespon dan memroses laporannya. Kepada Dwiki, petugas mengatakan, sekitar dua minggu setelah laporan itu, akan disampaikan proses yang dilakukan Propam Polda Metrojaya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan