Cagub Riau 2018, Di Survei INES Nama Ahmad Paling Populer, Nama Syamsiar Berkibar-Kibar

Cagub Riau 2018, Di Survei INES Nama Ahmad Paling Populer, Nama Syamsiar Berkibar-Kibar.

Perhelatan pemilihan Gubernur Provinsi Riau akan digelar 2018. Dari survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia Network Election Survei (INES), nama mantan Bupati Rokan Hulu (Rohul) Ahmad menggungguli para pesaingnya. Ahmad yang dua periode menjabat sebagai Bupati Rohul itu memiliki tingkat popularitas mencapai 85,3 persen. Tingkat popularitasnya itu juga dikarenakan Ahmad pernah mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Provinsi Riau.

 

Direktur Eksekutif Indonesia Network Election Survei (INES), Sutisna menyampaikan, pelaksanaan pesta demokrasi yang dilakukan di Provinsi Riau tetap tidak lepas dari marketing politik. Kandidat yang tampil dalam Pemilihan Kepala Daerah Propinsi Riau tahun 2018  harus mampu mendapatkan simpati masyarakat.

 

“Berdasarkan pertimbangan tersebut, Indonesia Network Election Survei  melaksanakan survei elektabilitas Tokoh Riau untuk Bakal Calon Gubernur Riau 2018-2023. Melalui survei ini, dicari sesuatu hal yang mampu dijual kandidat kepada masyarakat,” ujar Sutisna, dalam siaran persnya, Selasa (25/07/2017).

 

Dia pun mengulas kepopuleran masing-masing tokoh yang berpeluang menjadi bakal Cagub Riau 2018. Setelah Ahmad bertengger di urutan teratas, maka urutan kedua yang memiliki popularitas tinggi adalah Gubernur incumbent Arsyadjuliandi Rachman dengan angka popularitas mencapai 81,4 persen.

 

Dari sejumlah tokoh yang disurvei, lanjut Sutisna, tingkat popularitas bakal calon gubernur provinsi Riau cukup tinggi. Di urutan ketiga, ada nama Bupati Siak Syamsuar dengan tingkat popularitas 81,2 persen. Kemudian, Walikota Pekanbaru Firdaus memperoleh 80,4 persen, anggota DPR RI dari Riau Instiawati memperoleh 78,2 persen, Bupati Pelalawan HM Haris memperoleh 60,3 persen, Ketua DPRD Provinsi Riau Septina Primawati yang juga isteri dari mantan Gubernur Riau Rusli Zainal mendapat 60,1 persen, serta Anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edy sebesar 51,2 persen.

 

Dari survei yang dilakukannya, lanjut Sutisna, tokoh lainnya seperti  Bupati Indragiri Hulu Yopi Arianto, Mantan Bupati Kuansing H Sukarmis, Mantan Bupati Indragiri Hilir (Inhil) dua periode Indra M Adnan dan Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir memiliki tingkat popularitas di bawah 50%.

 

“Perlu dicatat tingkat popularitas yang tingi merupakan modal awal bagi tokoh untuk bisa menjadi pilihan masyarakat sebab saat ini diketahui bahwa publik Riau  paling banyak menerima informasi seputar kandidat melalui poster, baliho dan alat iklan kampanye lainnya, medsos dan media massa cetak dan online,” ujar Sutisna.

 

 

Penerimaan Atau Akseptabilitas Masyarakat Terhadap Calon Gubernur Riau

 

Direktur Eksekutif Indonesia Network Election Survei (INES), Sutisna mengatakan, untuk penerimaan atau akseptabilitas masyarakat Riau kepada calon gubernurnya, diukur dari sejumlah kualifikasi.

 

“Masyarakat Riau menilai cocok tidaknya tokoh untuk  memimpin dan banyak aspek yang dinilai oleh masyarakat terhadap  kualitas, kompetensi, integritas, profesionalitas, personalitas, perilaku, prestasi, reputasi, kepemimpinan, yang akhirnya masyarakat Riau  memberikan penilaian terhadap para tokoh penerimaan atau akseptabilitas pemilih terhadap para tokoh,” ujar Sutisna.

 

Dari semua tokoh yang disurvei dan mendapatkan opini dari 1984 masyarakat yang mewakil  4.208.306 pemilih di Riau, lanjut dia, dalam jawaban masyarakat terkait penerimaan masyarakat terhadap para tokoh maka Bupati Siak Syamsuar adalah tokoh yang paling diterima oleh masyarakat Riau.

 

“Bupati Siak diterima sebesar 84,2 persen responden. Lalu disusul Septina 81,6 persen, Firdaus 81,5 persen, Achmad 78,7 persen, HM Harris 75,3 persen, Arsyadjuliandi Rachman 72,3 persen, Lukman Edy 60,2. Sementara tokoh lainnya di bawah 50 persen,” urai Sutisna.

 

 

Keyakinan Masyarakat Riau  Pada Kemampuan Tokoh sebagai  Gubernur Riau  Dalam Menyelesaikan Prioritas Masalah

 

Ukuran tingkat kapabilitas para tokoh untuk memimpin provinsi Riau, lanjut Sutisna, dalam jawaban responden ditemukan bahwa Syamsuar dinilai oleh 84,5 persen responden yang mewakili masyarakat Riau memiliki kemampuan untuk memimpin Riau.

 

Sementata, Firdaus dinilai oleh 78,5 persen responden memiliki kemampuan untuk memimpin Riau, HM Haris 78,2 persen, Achmad 74,5, sedangkan petahana Gubenur Riau dinilai memiliki kemampuan memipinnya hanya  68,5 persen, kemudian Lukman Edy sebesar 66,7 persen dan Septina 66,5 persen ,Indra Muchklis 56,4 persen sedangkan tokoh lainnya dinilai memiliki tingkat kapabilitas di bawah 50 persen.

 

 

Tingkat Elektabilitas Para Tokoh Dalam Jawaban Responden

 

Tingkat Elektabilitas para tokoh dalam jawaban para responden ketika ditanyakan secara “Top Of Mind”, dari ke 12 tokoh tersebut jika diadakan pemilihan Gubernur hari ini, maka jawaban responden adalah Bupati Siak Syamsuar dipilih 21,3 persen masyarakat Riau, Firdaus akan dipilih sebanyak 11,4 persen, HM Haris sebanyak 9,9 persen, Septina Primawati sebanyak 8,2 persen, Achmad  sebanyak 11,2 persen, Lukman Edy  sebanyak 6,2 persen dan Gubenur Petahana Riau Arsyadjuliandi Rachman sebanyak 8,3 persen, Indra Muchklis sebanyak 5,6 persen, Istiawati Ayus sebanyak 2,3 persen, Yopi Arianto sebanyak 3,2 persen, Sukarmis sebanyak 2,3 persen, Irwan Nasir sebanyak 2,4 persen dan tidak menjawab sebanyak 9,5  persen.

 

Tingkat Elektabilitas para tokoh dalam jawaban para responden ketika ditanyakan “Dengan Pertanyaan Tertutup”, dari ke 12 tokoh tersebut jika diadakan pemilihan Gubernur hari ini maka jawaban responden adalah Bupati Siak Syamsuar dipilih 22,3 persen masyarakat Riau, Firdaus dipilih sebesar 11,1 persen, HM Haris dipilih sebesar 8,2 persen, Septina Primawati dipilih sebesar 7,4 persen, Achmad dipilih sebesar 9,2  persen, Lukman Edy dipilih sebesar 6,2 persen, Indra Muchklis dipilih 5,6 persen, Istiawati Ayus dipilih sebesar 2,3 persen, Yopi Arianto sebesar 3,2 persen, Sukarmis dipilih sebesar 3,3 persen, Irwan Nasir dipilih sebesar 2,3 persen dan tidak menjawab sebanyak 11,4  persen.

 

Sutisna menyampaikan, berdasarkan hasil rekapitulasi “Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 “ terdapat 4.208.306 Pemilih Tetap di Provinsi Riau  yang menjadi populasi dalam penelitian ini.

 

Populasi berada di 12 kabupaten/Kota, terdiri dari 145 Kecamatan di Propinsi Riau , ada pun jumlah sampel adalah 1984  responden dengan tingkat kepercayaan/ confidence level sebesar 95 %.  Dengan Margin Error +/- 2.2%.

 

Sampel berasal dari 135 kecamatan di seluruh Kabupaten/Kota di  Provinsi Riau. “Tempat lokasi rumah tangga. Dari satu rumah tangga diambil 1 anggota keluarga berdasarkan acak setiap TPS yang memenuhi syarat sebagai calon pemilih, yaitu berumur minimal 17 tahun. Pelaksanaan survei  dilaksanakan mulai tanggal 5 Juli sampai  15 Juli 2017,” ujarnya.

 

 

Temuan Tim Survei Atas Kinerja Incumbent Di Sektor Ekonomi dan Sosil, Tidak Ada Perbaikan Berarti

 

Sedangkan hasil temuan Tim Survei atas kondisi Ekonomi Sosial masyarakat Riau, dipaparkan bahwa kinerja Pemerintah Daerah Riau selama lima tahun terakhir, dalam Bidang Ekonomi, menunjukan bahwa warga Riau merasa kondisi ekonomi rumah tangganya ada perubahan perbaikan sebanyak 27,3%.

 

“Yang mengatakan keadaan ekonomi tetap  selama kepemimpinan Gubernur saat ini  7,9% dan yang mengatakan lebih buruk  sebanyak  64,8 % dari 1984  orang responden. Artinya selama lima tahun terakhir kepemimpinan Gubernur petahana tidak berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Riau,” urainya.

 

Terkait keadaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan, temuan survei menunjukan 60,90 % dari 1984 responden menilai bahwa kinerja gubenur petahana dalam hal pembangunan fasilitas pendidikan tidaklah ada bedanya dengan pemerintahan sebelumnya.

 

“Hanya sebatas misi pada saat kampanye saja agar memperoleh banyak suara tanpa ada aktualisasi. Dimana para responden melihat selama lima  tahun menjadi pemimpin Riau tidak ada perubahan pada wajah pendidikan Riau. Misalnya, tidak adanya renovasi gedung sekolah yang telah rusak, ataupun pembangunan gedung sekolah yang baru serta kurangnya tenaga pengajar  dan guru. Akibatnya terjadi  ketimpangan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan di Kecamatan terpencil dengan kecamatan di daerah perkotaan sangat jomplang,” ujar Sutisna.

 

Selanjutnya, dari temuan survei, masyrakat menilai bahwa keadaan fasilitas sarana dan prasarana infrakstruktur dan transportasi  di Provinsi Riau sangat buruk. Menurut Sutisna, kondisi itu terekam dalam jawaban 60,7 % masyarakat berpendapat keadaan fasilitas sarana dan prasarana infrakstruktur dan transportasi  di  Riau sudah baik, sedangkan yang mengatakan tetap atau tidak ada perubahan hanyalah 15,8 % dan yang mengatakan baik  hanya 23,8 %.

 

“Kondisi itu  diakibatkan banyak APBD yang bocor  alias di korupsi, dan kurang maksimalnya penyerapan anggaran dalam Program Peningkatan Sarana dan Prasarana infrastruktur dan transportasi,” ujar Sutisna.

 

Karena itu, lanjut dia, Gubernur Riau mendatang  perlu melakukan pengembangan dan peningkatan prasarana transportasi tersedianya Master Plan Transportasi, Rencana Umum Jaringan Transportasi Jalan (RUJTJ), dan Tataran Transportasi yang bersifat lokal.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*