Buruh Alami Krisis Kepemimpinan, KSBSI Perlu Revitalisasi Gerakan Hadapi Terjangan Revolusi Industri 4.0 dan 5.0

Kongres VI Federasi Serikat Buruh Niaga, Keuangan dan Perbankan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSB NIKEUBA KSBSI), di Hotel Grand Asrilia, Kota Bandung, Jawa Barat, selama tiga hari dari tanggal 1-3 Desember 2019.
Kongres VI Federasi Serikat Buruh Niaga, Keuangan dan Perbankan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSB NIKEUBA KSBSI), di Hotel Grand Asrilia, Kota Bandung, Jawa Barat, selama tiga hari dari tanggal 1-3 Desember 2019.

Menghadapi terjangan  Revolusi Industri 4.0 dan 5.0, hampir semua organisasi buruh dan pekerja di Indonesia mengalami kelesuan, bahkan krisis kepemimpinan.

Padahal, tantangan berat sedang ada di depan mata. Yang mana, revolusi industri 4.0 dan 5.0 akan sangat banyak memberangus tenaga buruh. Dan digantikan dengan teknologi, mesin maupun robot pekerja.

Buruh perlu melakuan revitalisasi dan tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dalam menghadapi tantangan buruh yang tidak mudah itu.

Hal itu diungkapkan Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban, saat mengikuti Kongres Federasi Serikat Buruh Niaga, Keuangan dan Perbankan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSB NIKEUBA KSBSI), di Hotel Grand Asrilia, Kota Bandung, Jawa Barat, selama tiga hari dari tanggal 1-3 Desember 2019.

Elly Rosita menegaskan, krisis kepemimpinan di sektor buruh harus segera diatasi. “Buruh, terutama kita di KSBSI, sedang mengalami krisis kepemimpinan muda. Oleh sebab itulah pengurus FSB NIKEUBA KSBSI yang terpilih harus berperan melahirkan pemimpin muda serikat buruh,” tutur Elly Rosita.

Regenerasi kepemimpinan buruh, lanjutnya, tidak akan bisa dihindari. Estafet perjuangan buruh tidak boleh berhenti.

“Roda regenerasi kepemimpinan KSBSI harus berjalan.Saya bersama Sekjen dan DEN KSBSI mulai tua dan sudah kenyang suka dan duka di organisasi kita ini. Maka sudah waktunya yang muda-muda kedepannya harus mengambil tanggung jawab melanjutkan perjuangan KSBSI,” tutur Elly Rosita.

Menilai pelaksanaan Kongres VI FSB NIKEUBA KSBSI, Elly Rosita mengaku optimis, masih berlangsung dinamika dan kemajuan. Dia juga berharap agar hasil kongres harus bisa melahirkan kepemimpinan yang berkualitas.

“Baik kualitas intelektual serta mampu memimpin organisasi dan memiliki integritas memperjuangkan hak buruh,” ucapnya.

Elly Rosita menegaskan, pemimpin federasi yang berafiliasi dengan KSBSI jangan pernah menghianati perjuangan buruh hanya untuk mendapatkan kekayaan pribadi. Sebab, jika ada satu orang yang menghianati, sangat berdampak besar terhadap KSBSI.

“Kalau ada seorang aktivis  buruh terlihat kaya raya sebaiknya perlu dipertanyakan. Karena tujuan pemimpin serikat buruh hanya berjuang membela kaum tertindas. Bukan mencari kekayaan materi dengan cara menghianati,” tegasnya.

Sementara, Ketua Umum FSB NIKEUBA Dedi Hardianto, yang tahun ini terpilih menjadi Sekretaris Jenderal KSBSI mengatakan, tantangan buruh di Indonesia semakin berat. Hal ini dikarenakan kehadiran revolusi industri 4.0 dan 5.0 sangat berdampak pada hilangnya dunia kerja atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Sudah banyak buruh yang mengalami PHK akibat kehadiran teknologi canggih di era revolusi industri 4.0. Masalah ini disebabkan salah satunya karena Sumber Daya Manusia (SDM) negara kita masih lemah dan tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi,” terangnya.

Dia meminta, FSB NIKEUBA KSBSI tidak berdiam diri melihat persoalan yang terjadi. Tapi harus mengkritisi dan mendesak pemerintah agar terus melakukan program pelatihan (vokasi) sampai tingkat kabupaten/kota. Dimana tujuannya untuk meningkatkan kualitas SDM yang siap bersaing di dunia kerja era revolusi industri 4.0.

“Tak lama lagi Indonesia akan mendapatkan Bonus Demografi 2030. Jangan sampai pada tahun itu ketika kekuatan ekonomi negara kita sedang berjaya, justru tenaga kerja kita hanya menjadi penonton dan dikuasai Tenaga Kerja Asing (TKA). KSBSI harus mampu menjawab tantangan ini agar tidak menjadi malapetaka buruh untuk kedepannya,” terang Dedi Hardianto.

Acara Kongres VI FSB NIKEUBA KSBSI juga dihadiri Aswansyah dari perwakilan Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker), RoelRotshnizen dari perwakilan World Organization of Workers (WOW) dan staf Gubernur Jawa Barat. Kongres ini diikuti lebih dari 500 aktivis buruh dari pengurus cabang dan Pengurus Komisariat (PK) dan perwakilan federasi.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*