Breaking News

Bukan Tempat Kampanye Politik, Tolong Kembalikan Fungsi Asli Masjid

Jangan Jadikan Sebagai Tempat Kampanye Politik, Tolong Kembalikan Fungsi Asli Masjid.

Maraknya kegiatan kampanye terselubung dengan menggunakan kegiatan keagamaan di masjid-masjid menjadi perhatian tersendiri bagi sejumlah ulama.

Pimpinan Pondok Pesantren As Sa’ada, Jalan  Rawa Indah 4 No.115, Bojong Pondok Terong, Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, KH Mohammad Abdul Mudjib, meminta agar tempat ibadah suci Umat Islam tidak dijadikan sebagai ajang kampanye politik praktis.

KH Mohammad Abdul Mudjib yang juga Wakil Rois Suriah Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (NU) Depok, sekaligus Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok itu berpandangan, tempat ibadah, khususnya masjid, sebaiknya tidak dijadikan sebagai ajang kampanye atau memihak suatu golongan politik.

Sebab, menurutnya, berbagai pemahaman Islam, seperti kalangan NU, Muhammadyah, Syarekat Islam, Parmusi dan lain sebagainya, bisa berada di dalam masjid.

“Biarkan masjid digunakan untuk mewadahi seluruh aliran keagamaan tersebut. Jika masjid sebagai sarana ibadah lantas dibawa ke politik praktis juga akan berimbas kepada kelompok-kelompok aliran tersebut. Namun untuk nilai-nilai kejujuran dan kebangsaan, politik praktis sebaiknya jangan dibawa ke dalam masjid,” tutur KH Mohammad Abdul Mudjib, dalam keterangannya, yang diterima Rabu (10/04/2019).

Apalagi, lanjut KH Mohammad Abdul Mudjib, sekarang ini dengan maraknya ujaran kebencian yang masuk kedalam masjid, orang yang semula datang ke masjid untuk mencari ketenangan, justru menjadi gelisah dan marah karena provokasi yang masuk kedalam masjid.

“Namun jikalau masjid digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai kejujuran dan kebangsaan itu tidak apa,” ujarnya.

Mewakili kalangan ulama, ia berharap semua pemuka agama, seperti ulama,ustad dan kyai, untuk bersama-sama mengembalikan fungsi masjid sesuai dengan peruntukannya.

Masjid, dia mengingatkan, tidak difungsikan membawa politik praktis, karena akan membahayakan fungsi asli masjid.

“Jika ada yang menginginkan masjid dijadikan sebagai ajang politik praktis, lebih baik dilaksanakan di luar masjid saja. Kita harus mengembalikan fungsi masjid sebagai fungsi tempat ibadah, dakwah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar KH Mujib.

KH Mujib mengakui, memang tugas bersama para tokoh masyarakat atau pemuka agama untuk memberikan pencerahan dan pemahaman pada masyarakat. Agama sebaiknya  jangan dibawa langsung kedalam ranah politik.

Masuknya praktek politik praktis menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberikan pencerahan dari waktu kewaktu.sebab butuh waktu untuk proses tersebut.

“Insya Allah ke depan, ketika  masyarakat  makin terdidik dan terpelajar, akan makin terpahami fungsi agama dan kedudukannya dalam berpolitik,” harap KH Mujib.

Pak Kiyai juga menegaskan, upaya memberikan kesadaran dan pemahaman kepada msyarakat luas harus segera dilaksanakan. Memberi pencerahan dan pemahaman pada masyarakat ini  tentunya tidak langsung membuat masyarakat sadar.”Karena memang itu butuh proses dan waktu yang tidak sebentar,” ujarnya.

Meski muncul kekhawatiran akan adanya gesekan kecil di tengah masyarakat akibat penyalahgunaan fungsi tempat ibadah sebagai ajang kampanye dan masuknya ujaran kebencian serta hoax, namun secara umum KH Mujib optimis pemilu kali ini akan berjalan aman dan damai.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*