Bukan Hanya Urusan Lelaki, Perempuan Tani HKTI Suarakan Ketahanan Pangan Keluarga

Bukan Hanya Urusan Lelaki, Perempuan Tani HKTI Suarakan Ketahanan Pangan Keluarga

- in DAERAH, EKBIS, NASIONAL
24
0
Bukan Hanya Urusan Lelaki, Perempuan Tani HKTI Suarakan Ketahanan Pangan Keluarga. - Foto: Ketua Umum Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Perempuan Tani HKTI), Dian Novita Susanto.(Ist)Bukan Hanya Urusan Lelaki, Perempuan Tani HKTI Suarakan Ketahanan Pangan Keluarga. - Foto: Ketua Umum Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Perempuan Tani HKTI), Dian Novita Susanto.(Ist)

Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Perempuan Tani HKTI) mengingatkan, ketahanan pangan bukan hanya urusan kaum lelaki. Tetapi terutama kaum perempuan, sangat berkepentingan dan juga bertanggung jawab dengan ketahanan pangan itu. Khususnya, ketahanan pangan keluarga.

Ketua Umum Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto menuturkan, pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang sangat esensial, dan merupakan hak asasi setiap orang.

Dia mengingatkan, di dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 1 ayat 4, disebutkan ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Dian Novita menyebut, selama puluhan tahun, pelaku ketahanan pangan diidentikkan atau disamakan sebagai peran laki-laki semata.

“Padahal jika mau jujur, peran perempuan sebagai pilar ketahanan pangan tak terbantahkan,” ujar Dian Novita Susanto, dalam pernyataan persnya, Minggu (2802/2021).

Secara sosiokultural, perempuan hidup di tengah masyarakat. Bukan hanya masyarakat, tetapi juga keluarga. Perempuan juga melakukan kegiatan untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga, seperti menjaga ketahanan pangan.

“Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lumbung pangan sangat besar. Namun, sangat disayangkan hampir semua kebijakan di sektor pertanian bias perempuan,” sebutnya.

Menurutnya, pemahaman dan kebijakan seperti itu adalah pengingkaran atas kenyataan. Sebab, pada faktanya, petani perempuan berkontribusi besar sebagai pemberi makan. “Namun dianggap tak berarti. Malah dianggap tak ada,” sesalnya.

Untuk mewujudkan ketahanan pangan, menurut Dian Novita, adalah menjadi tantangan dari masa ke masa.

Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan, jangkauan, dan kelayakan pangan.

Perwujudan ketahanan pangan dapat dicapai dengan upaya peningkatan produksi pangan, distribusi pangan yang merata dan terjangkau dan konsumsi baik jumlah maupun mutunya.

“Perempuan menjalankan peran sangat beragam dalam keluarga. Tidak hanya sebagai Ibu rumah tangga, ia juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga,” lanjut Dian Novita.

Misalnya, dalam menjaga ketahanan pangan, perempuan melakukannya mulai dari proses produksi untuk ketersediaan, keterjangkauan, sampai pada penyajian pangan di atas meja untuk disantap keluarga.

Peran Ibu dalam keluarga juga terlihat dalam proses konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.

“Untuk itu, upaya pola konsumsi yang belum beragam harus segera dilakukan penganekaragaman, khususnya buah dan sayur,” lanjutnya.

Sementara, kata dia, pola konsumsi masyarakat Indonesia masih didominasi karbohidrat. Padahal potensi untuk memproduksi buah dan sayur dengan memanfaatkan pekarangan rumah saja sudah cukup.

Memang saat ini Kementerian Pertanian memiliki Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (P2L). Program itu tentang bagaimana memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal, dengan memaksimalkan produktivitas lahan untuk ketersediaan pangan di rumah.

“Kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L), menjadikan perempuan tidak hanya mendorong tumbuhnya kelompok, namun juga individu perempuan sebagai bagian penting dalam pemanfaatan pekarangan rumah,” tuturnya.

Dian Novita Susanto mengatakan, memang sampai saat ini, P2L masih terbatas. Oleh karena itu, stake holder terkait dapat melakukan sosialisasi dan pendampingan ke masyarakat, sehingga tumbuh kesadaran untuk memanfaatkan pekarangan.

Namun harus diingat pula bahwa kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi tanggung jawab dan Program Pemerintah.

“Keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. Seperti Dharma Wanita, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Organisasi-organisasi Perempuan Non Pemerintah dan lain-lain,” lanjutnya.

Fakta memperlihatkan, misalnya dalam pengambilan kebijakan pengelolaan Sumber Daya Alam, Perempuan masih dianggap kurang atau hanya sedikit berkontribusi dan menjadi obyek dalam pembahasan “ketidakadilan gender” dan kekerasan oleh sekelompok masyarakat tertentu.

Padahal berbagai studi telah mengungkapkan, Perempuan memiliki peran penting dalam mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga, bahkan bagi Ekonomi Nasional.

“Sebab perempuan berperan dalam produksi, pengolahan dan distribusi pangan mulai dari tingkat rumah tangga, termasuk menentukan jenis makanan yang terhidang di meja makan berserta kandungan gizinya,” sebutnya lagi.

Dengan demikian, dikarenakan peran perempuan yang besar, maka program-program pemberdayaan yang mendukung optimalisasi potensi Sumber Daya Alam oleh kaum perempuan perlu ditingkatkan.

Program-program diarahkan untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan mulai urusan domestik sampai publik.

Pemberdayaan perempuan yang dapat dilakukan dari sisi domestik, misalnya dengan peningkatan pengetahuan Ibu Rumah Tangga tentang konsumsi pangan dan pemenuhan gizi seimbang melalui budidaya di pekarangan.

Sedangkan untuk urusan publik, pemberdayaan dapat dilakukan melalui gerakan diversifikasi pangan. Yang meliputi pengembangan produksi berbasis pangan lokal, dengan optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan.

Pada akhirnya, Dian Novita menandaskan, harus disadari bahwa perempuan bukanlah obyek, melainkan subyek dari pembangunan pertanian-pangan.

“Adalah keharusan untuk memberi perhatian pada perempuan yang tidak terjangkau, tidak terlayani untuk bersama-sama melangkah secara tepat,” ujarnya.(J-RO)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like