Breaking News

Bubarkan Rentenir Online, Modusnya Jahat Sekali, Tindakan DC Perusahaannya Jahanam

Bubarkan Rentenir Online, Modusnya Jahat Sekali, Tindakan DC Perusahaannya Jahanam.

Koordinator Gerakan Bela Korban Pinjaman Online Nicho Silalahi menegaskan, lemahnya pengawasan dan penindakan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap praktek-praktek industry finasial (Fintech), justru semakin menumbuhsuburkan perusahaan-perusahan rentenir yang menawarkan berbagai iming-iming kemudahan kredit keuangan kepada masyarakat.

Dengan pesatnya kemajuan teknologi, lanjutnya, perusahan-perusahan itu segera bermetamorfosis menjadi Rentenir Online yang meluncurkan berbagai aplikasi.

“Dan menawarkan pinjaman serta berbagai kemudahan dengan skema jeratan dalam pencairan dana terhadap mereka yang menjadi konsumennya,” tutur Nicho Silalahi, di Jakarta, Rabu (27/03/2019).

Parahnya, lanjutnya, perusahaan-perusahan rentenir itu mayoritas tidak mengantongi ijin perbankan dan tidak memiliki hak untuk melakukan transaksi keuangan dari pemerintah.

Bahkan, kata Nicho, rentenir online itu juga menggunakan suku bunga gila-gilaan sebesar 50 % per 14 hari. Analogi yang dipasang rentenir online itu, lanjut Nicho, jika seorang kreditur meminjam ke rentenir online sebesar Rp 1 juta, maka kreditur tersebut akan dikenakan modus biaya admintrasi sebesar Rp 200 ribu.

Sehingga, dana cash yang diterima oleh kreditur itu menjadi Rp 800 ribu saja. Sedangkan dalam batas waktu 14 hari kreditur tersebut harus mengembalikan pinjaman sebesar Rp 1,2 juta.

“Namun, jika si kreditur itu tidak melunasi pinjamannya dalam batas waktu yang ditentukan perusahaan-perusahan rentenir online, maka akan dikenakan bunga harian sebesar Rp 50-Rp 100 ribu. Bahkan bisa lebih dari itu.  Bayangkan saja jika si kreditur telat mebayar hingga 2 bulan, maka total keseluruhan hutangnya bisa menjadi Rp 5-Rp 10 jutaan. Hitungan angka itu tergantung dengan jenis aplikasi pinjaman online-nya,” ungkap Nicho.

Dan ternyata, lanjutnya lagi, perusahaan renternir online itu juga telah mempersiapkan Debt Colector atau Desk Collector (DC), untuk bertindak tidak manusiawi dalam melakukan penagihan kepada para kreditur yang melakukan penunggakan pembayaran.

“Tindakan DC itu mulai dari mencaci-maki dengan Bahasa-bahasa tidak senonoh, hingga pengancaman akan mempermalukan, seperti menggalang donasi ke seluruh nomor kontak di HP kreditur. Mereka ternyata telah meretas nomor HP si kreditur,” ungkap Nicho.

Tindakan teror lainnya yang dilakukan oleh DCrentenir online yakni memaksa kreditur untuk mencari pinjaman lain.

“Bahkan menyuruh untuk menjual barang-barang, hingga dipaksa untuk jadi pelacur, jika krediturnya perempuan,” tuturnya.

Bahkan, parahnya lagi, lanjut Nicho, DC yang disiapkan oleh para rentenir online itu tidak segan-segan menagih dengan cara memaksa kepada seluruh nomor kontak yang ada di HP kreditur.

“Dengan mengatakan bahwa kreditur telah membuat nomor mereka menjadi kontak darurat dan memaksa pemilik nomor tersebut harus membayar utang kreditur. Padahal mereka yang dihubungi itu bukan nomor kontak darurat yang dicantumkan,” ujar Nicho lagi.

Jika di HP kreditur ada nomor orangtuanya, lanjutnya lagi, maka DT rentenir online mengatakan ‘Anak Bapak/Ibu telah melarikan uang perusahaan kami dan sekarang sudah dicari oleh polisi’, sehingga membuat panik orang tua kreditur.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan orang tua tersebut terkena serang jantung dan meninggal dunia,” ujarnya.

Nicho menegaskan, cara-cara penagihan yang tidak manusiawi itu akan menjadi pemicu konflik sosial di tengah masyarakat, sehingga bisa bermuara pada rusaknya hubungan kekerabatan dan persaudaraan.

Bahkan, lanjutnya, banyak di antara kreditur korban pinjaman online itu harus menanggung malu serta berkelahi dengan rekan, saudara maupun tetangga tempat kreditur tinggal.

“Lebih sialnya lagi, para debt collector jahanam ini tidak segan-segan datang ke tempat kerjaan para kreditur dan mencaci maki-maki rekan bahkan atasan kreditu, dengan tujuan agar kreditur dipecat dari tempat kerjaannya,” ungkapnya.

Akibat tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh DC rentenir online jahanam itu, lanjut Nicho Silalahi, membuat banyak kreditur yang kehilangan pekerjaan, rumah tangga yang harus berantakan, menjadi depresi hingga berakhir dengan bunuh diri.

“Atas itulah, kami dari Gerakan Bela Korban Pinjaman Online mendesak Pemerintah Jokowi-JK jangan membiarkan praktek-praktek rentenir online ini,” ujarnya.

Jika masih dibiarkan, kata dia lagi, maka secara tidak langsung pemerintahlah yang melindungi para rentenir online.

“Sekaligus mereka jugalah sebagai pelaku utama dalam memiskinkan rakyat sendiri. Serta menjadi sumber utama dari konflik sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.(JR)

9 Comments on Bubarkan Rentenir Online, Modusnya Jahat Sekali, Tindakan DC Perusahaannya Jahanam

  1. Tepat, harus di bubarkan rentenir online

  2. saya juga telah di tipu sama apk dana rupiah dgn nominal puluhan juta pak/ibu

    • Bisa dikirimkan proses atau kronoligis penipuan yang Bapak alami? Bisa dikirim ke email redaksi. atau emailkan nomor kontak WA bapak. supaya bisa di-follow up. Trmksh.

  3. Saya juga diteror trus pinjaman cuma 5rts ribu harus byr 1jt 500 karena telat byr dan dngn ucapan yang bgtu ksr dri isaku management,teman uang, kertasflas,tunaiku cepat sungguh keterlaluan dan swmi saya hampr despresi krna dipksa suruh byr dengan bunga yang bgtu besar

  4. Saya juga ditipu sama aplikasi ilegal dgn 13apk dengan mengancam menyebarkan data saya, jika saya diluar dsrh hati2 memaki2 saya dan klurga saya .. Pinjam 1.6 yg di tranafer 1jt … Aplikasi fast rwliance mencekik kami dgn bunga shri 92rb

  5. Tolong bapak/ibu redaksi …. Kepada siapa lagi kami adukan ini…. Kepada siapakah??? TOLONG FOLLOW UP agar berita ini mencuat…. Sudah banyak sekali Yg terjerat pinjaman online ini…

Leave a comment

Your email address will not be published.


*