Breaking News

BPJS Kesehatan Diminta Meng-cover Biaya Deteksi Dini Penyakit Kaum Perempuan

Perempuan Rentan Terhadap Berbagai Penyakit

BPJS Kesehatan Diminta Meng-cover Biaya Deteksi Dini Penyakit Kaum Perempuan.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) diminta memberikan perhatian khusus kepada kaum perempuan, dengan meng-cover pembiayaan deteksi dini terhadap penyakit kanker payudara dan jenis penyakit perempuan lainnya yang mematikan.

BPJS Kesehatan

Jumlah kaum perempuan di Indonesia sangat besar, selain itu kaum perempuan lebih rentan dan banyak diserang oleh penyakit-penyakit mematikan, seperti kanker serviks dan kanker payudara itu.

Aktivis dan Pegiat Kesehatan Kaum Perempuan, dokter Alfiah Amiruddin menuturkan, seharusnya negara melalui BPJS Kesehatan memberikan perhatian khusus kepada kaum perempuan.

“Minimal dalam meng-cover langkah deteksi dini terhadap penyakit-penyakit berat dan mematikan yang dialami kaum perempuan, seperti kanker payudara. Jangan malah BPJS Kesehatan tutup mata atau mempersulit,” tutur dokter Alfiah, saat memberi keterangan pers, di Ruang Auditorium Lantai 6, Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, Jalan HBR Motik Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018).

Lebih lanjut, wanita yang juga Konsultan Ahli Bedah Payudara ini menuturkan, sangat miris dengan kejadian beberapa waktu lalu, dimana dipublikasikan bahwa beberapa penyakit yang berkenaan dengan ibu dan anak malah tidak dicover oleh BPJS Kesehatan.

Penyakit yang sempat diributkan karena tidak dicover BPJS Kesehatan itu adalah Kelahiran Bayi Sehat, Katarak dan Fsioterapi. “Itu semua kan banyak dialami kaum perempuan. Meski sekarang sudah di-cover BPJS Kesehata, tetapi kejadian kemarin itu tidak seharusnya terjadi,” ujar Alfiah.

Dia meminta, BPJS Kesehatan meng-cover langkah deteksi dini kanker payudara lewat proses mammografi (pemeriksaan kesehatan perempuan), scanning, USG dan lainnya, sehingga bisa diketahui apakah seseorang perempuan mengalami sakit kanker itu atau tidak.

Tindakan kemoterapi atau sejenis detoksifikasi tidak perlu lagi, jika BPJS Kesehatan meng-cover upaya deteksi dini.

“Kita minta deteksi dini ini, seperti mammografi, di-cover oleh BPJS Kesehatan. Itu sangat membantu kaum perempuan. Terutama bagi perempuan yang berusia 40 tahun ke bawah. Daripada setelah ketahuan sudah kena kanker, harus keluar uang dalam jumlah sangat besar dalam perobatan. Bisa ratusan juta rupiah,” tutur Alfiah.

Pelayanan kesehatan di Indonesia sangat jauh dengan yang disaksikannya di luar negeri. Alfiah mengungkapkan, pengalamannya di Luar Negeri, mereka ke Rumah Sakit saja bisa nyampe hanya dalam 15 menit, langsung mendapat penanganan.

Proses diagnosa juga dilakukan di lokasi itu, tidak lama, tidak bertele-tele dan tidak diperlukan urusan birokrasi yang bertele-tele.

“Karena itulah, kita butuh One Stop Breast Clinic, yakni pelayanan kesehatan bagi kaum perempuan yang berada di satu tempat, dengan pelayanan prima, peralatan yang memadai, waktu yang tidak berbelit-belit, serta biaya yang terjangkau,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Indah Surya Dharma Ali, memberikan apresiasi kepada RS Mitra Keluarga Kemayoran yang menyediakan sejumlah dana untuk pemerikasaan gratis bagi para peghuni lapas dan petugas lapas, karena pemeriksaan dini kanker tidak masuk dalam kebijakan yang ditanggung oleh BPJS.

“Semoga ke depan akan keberpihakan dari berbagai elemen masyarakat maupun pemerintah agar pemerikasaan kanker secara dini bisa mudah dan murah, atau bahkan gratis,” ujar isteri Mantan Menteri Koperasi Surya Dharma Ali ini.

PPLIPI, meurut Indah, sebagai organisasi sosial yang bertujuan memberdayakan perempuan di segala aspek kehidupannya, salah satu prioritas programnya adalah masalah kesehatan.

“Masalah kanker ini menjadi sorotan besar karena banyak dialami perempuan, khususnya breast cancer dan kanker serviks menjadi tangung jawab kami untuk ikut melakukan kampanye dan sosialisasi ke para perempuan di semua golongan,” ujarnya.

RS Mitra Keluarga Kemayoran memiliki agenda tahunan untuk senantiasa melakukan event di berbagai tempat bekerjasama dengan beberapa mitra kerja, serta komunitas pemerhati kanker yang berada di Jakarta dan di luar Jakarta.

Adanya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, utamanya para komunitas kanker di Jakarta sangat positif, karena komunitas saling bahu membahu dalam membantu visi dan misi rumah sakit untuk menggaungkan deteksi dini, serta pendampingan sesama penderita yang membutuhkan support mental dalam menghadapi rangkaian terapi yang kadang membosankan dan menakutkan.

Sebagai Rumah sakit yang memiliki One Stop Breast Clinic di Jakarta, keberadan RS Mitra Keluarga Kemayoran akan memudahkan para perempuan yang membutuhkan pelayanan sehari dalam satu atap.

Sehingga menjadi target deteksi dini dapat tercapai.mulai dari pemeriksaan Dokter, pemeriksaan mammografi dan USG, MRI serta biopsi seua dilakukan dalam satu kali kunjungan tanpa harus keluar dari gedung rumah sakit.

RS Mitra Keluarga Kemayoran dengan peralatan yang canggih dan terkini mampu mendeteksi kanker payudara yang sangat dini sekalipun dengan ukuran tumor yang sangat kecil melalui rangkaian  pemeriksaan dan fasilitas satu atap yang dimiilikinya.

Dokter Alfiah Amiruddin menambahkan, dirinya yang didapuk sebagai Ketua Panitia Event Pink October Charity memang sedang menyasar kaum perempuan di sejumlah penjara, untuk melakukan upaya mencegah dan juga menindak kanker payudara.

Berkenaan dengan Hari Kanker Payudara Sedunia, lanjut dia, Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tangerang, menjadi salah satu lokasi yang disasar.

“Jadi, ada pun tujuan diadakan event charity Mitra Keluarga Kemayoran bekerjasama dengan Kementerian Hukum dan HAM adalah untuk memberikan edukasi kesehatan kepada para penghuni lapas Wanita IIA Tangerang. Itu kita lakukan agar peduli pada kesehatannya, terutama kesehatan kanker payudara,” tuturnya.

Dia melanjutkan, masih dalam momentum Bulan Kanker Payudara Sedunia di bulan Oktober ini, data yang dimiliki menunjukkan tingginya angka kematian akibat stadium lanjut kanker  payudara.

Dia pun mengingatkan, kanker payudara masih menjadi penyebab pembunuh nomor satu. “Itu penyakit ganas pada perempuan Indonesia. Masih jadi pembunuh nomor satu. Ini juga masih menimbulkan masalah yang belum dapat  terpecahkan,” ujarnya.

Berangkat dari kondisi itu, Alfiah  mengatakan, pihaknya menggalang sejumlah stake holders melakukan kerjasama dengan berbagai organisasi seperti, Menteri Hukum dan HAM, Allianz, PPLIPI, LKG, Maharani Kirana Pertiwi, CISC, Pinl Schmerinc dan lainnya, untuk melakukan gerakan charity di lapas Wanita IIA Tangerang.

Acara di Lapas Wanita Kelas II A Tangerang itu akan dilaksanakan pada Sabtu, 27 Oktober 2018. “Kegiatan ini ditujukan khusu untuk para survivor, pasien, pemerhati kanker, serta keterlibatan para komunitas peduli kanker, maupun komunitas lainnya, seperti organisasi-organisasi dharmawanita, agar bersama-sama peduli dan memerangi kanker payudara,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*