Breaking News

Bingung Mengurai Kemacetan, Ini Tawarannya, Dimulai dari Pola Pikir

Media Briefing acara Stakeholders Discussion yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan tema Transport and Mobility, di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Kamis (23/06/2016).

Peningkatan mobilitas perkotaan mengarah kepada transportasi terpadu. Hal ini memerlukan pola pikir baru mengenai peran, dan hubungan antara setiap aspek dari infrastruktur dan layanan informasi.

Demikian dikatakan Asisten Deputi Gubernur Bidang Transportasi DKI Jakarta Sunardi M Sinaga dalam Media Briefing acara Stakeholders Discussion yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan tema Transport and Mobility, di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Kamis (23/06/2016).

“Mengubah cara masyarakat menggunakan jalan dan menawarkan pilihan transportasi publik yang menarik perlu diwujudkan,” kata Sunardi.

Menurut dia, selama ini fokus transportasi perkotaan tertuju pada kemacetan, pembangunan jalan baru dan meningkatkan sarana untuk kendaraan bermotor. Ternyata, itu semua malah merangsang penggunaan mobil, yang pada gilirannya mengakibatkan masalah ekonomi dan lingkungan yang besar.

Di tempat yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Rina Agustin Indriani mengatakan, transportasi yang layak dan berkelanjutan masih menjadi isu penting di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya.

“Perencanaan kota yang lebih terintegrasi dan kompak yang didukung pelayanan angkutan umum dan mobilitas tidak bermotor termasuk kelengkapan fasilitas bagi pejalan kaki menjadi keharusan bagi semua kota,” kata Rina.

Selain itu, lanjut Rina, Jakarta merupakan kota terakhir dari rangkaian roadshow perjaringan masukan yang akan dibahas sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai acuan pembangunan perkotaan 20 tahun mendatang.

“Masukan dari Indonesia sebagai tuan rumah PrepCom 3 dan anggota biro Habitat III, serta sebagai leader di Asia Pasifik akan menjadi pijakan penting dalam pembangunan kota di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Tim Konsolidasi Indonesia untuk Habitat III Danang Parikesit memaparkan, Indonesia dipercaya PBB untuk menjalankan peran strategis mendorong tercapainya kesepakatan Agenda Baru Perkotaan atau New Urban Agenda (NUA) yang akan ditetapkan dalam Sidang Habitat III.

“NUA bertujuan memperbaharui komitmen negara-negara dunia untuk perumahan dan pembangunan perkotaan berkelanjutan,” ujarnya.

Danang menjelaskan, Habitat III akan diadakan di Quito, Ecuador pada 17-20 Oktober 2016 sebagai konferensi mengenai permukiman dan perkotaan. Menuju Habitat III, serangkaian acara persiapan dilakukan untuk merumuskan isu-isu perkotaan di belahan Dunia. Majelis Umum PBB, dalam Resolusi 67/216 memutuskan untuk membentuk Komite Persiapan (PrepCom) yang terbuka bagi semua negara anggota PBB.

Hayati Sari Hasibuan dari Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia berpendapat, salah satu kunci utama pembangunan perkotaan yang berkelanjutan berasal dari mobilitas dan transportasi berkelanjutan. Sehingga, perlu pendekatan yang sistemik dan integratif meliputi penataan ruang-transportasi-lingkungan.

Konsep Transit Oriented Development (TOD) merupakan pendekatan integratif yang perlu diterapkan di perkotaan. Pada konsep TOD ini, penataan ruang diorientasikan pada pusat-pusat pelayanan angkutan publik, bukan pada jaringan jalan, ruang ditata dengan tingkat kepadatan yang kompak.

“Dan memudahkan perjalanan dengan berjalan atau bersepeda (walkability) menuju pusat transit,” ujarnya.

Country Director Institute for Transportation and Development Policy, Yoga Adiwinarto mewakili NGO menyebutkan, keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan dalam penyediaan mobilitas dapat ditunjukkan dengan pembagian ruang yang adil untuk bergerak.

“Saat ini, jika kita berkaca ke Jakarta, di ruas jalan arteri kendaraan pribadi mengambil ruang hingga 20 meter, sementara untuk angkutan massal seperti bushway, hanya 4 meter, padahal lajur tersebut dapat memindahkan manusia 5 kali lipat lajur yang digunakan kendaraan pribadi,” ujarnya.

Perlu diketahui, PrepCom I diselenggarakan di New York, Amerika Serikat (17-18 September 2014) dan PrepCom II di Nairobi, Kenya (14-16 April 2015). Tahun ini, PrepCom 3 akan diadakan di Surabaya, Indonesia yang akan dilaksanakan pada 25-27 Juli 2016. Acara ini akan dihadiri 193 negara.(Richard)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*