Bicara-Bicara Pancasila Saja Sudah Sangat Membosankan, Rakyat Butuh Tindakan Nyata

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Bicara-Bicara Pancasila Saja Sudah Sangat Membosankan, Rakyat Butuh Tindakan Nyata.
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Bicara-Bicara Pancasila Saja Sudah Sangat Membosankan, Rakyat Butuh Tindakan Nyata.

Masih di Bulan Pancasila, bulan lahirnya Pancasila, percakapan mengenai Pancasila kembali menyeruak di ruang-ruang publik.

Membahas Pancasila lagi, dianggap sudah sangat membosankan. Apalagi jika mempercakapkan Pancasila di momentum-momentum tertentu belaka, seperti di bulan Pancasila ini. Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah tindakan nyata sebagai perwujudan dari Pancasila itu sendiri.

Hal itu ditegaskan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen, di Jakarta, Rabu (03/06/2020).

“Pancasila butuh tindakan nyata, bukan sekedar gimik-gimik yang membosankan,” ujar Samuel F Silaen.

Dia mengatakan, meski terkadang kebenaran menyakitkan bagi yang merasa tersakiti, tapi yakinlah Tuhan Sang Pencipta itu tak pernah terlelap walau sedetik. DIA pasti menunjukkan kekuasaanNya.

“Demikian juga dengan kondisi dan perjalanan Bangsa Indonesia bisa merdeka dan punya falsafah dan pandangan hidup bersama yang bernama Pancasila,” lanjutnya.

Memang, katanya, perjalanan Pancasila itu tidak mulus sampai sekarang, bahkan selalu menjadi perdebatan dan dipertentangkan oleh pihak-pihak yang belum berterima atau yang merasa tidak pernah puas dengan kehadiran Pancasila itu sendiri.

“Ketidakpuasan itu muncul kembali karena alam demokrasi berubah. Demikian juga pengalaman manusia itu terbentuk dari rangkaian peristiwa yang menyertai perjalanan hidupnya mencoba mengutak-atik Pancasila,” ujar Silaen.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Bicara-Bicara Pancasila Saja Sudah Sangat Membosankan, Rakyat Butuh Tindakan Nyata. Foto: Ist.
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Bicara-Bicara Pancasila Saja Sudah Sangat Membosankan, Rakyat Butuh Tindakan Nyata. Foto: Ist.

Sebagai sebuah dialektika sosial politik, menurutnya, adalah sah-sah saja memperdebatkan Pancasila. Hampir sama dengan perdebatan tentang TUHAN, menurut Silaen, manusia selalu memiliki hak bebas mempercakapkan.

Dialektika itulah yang juga disebut dengan hak asasi manusia (HAM) yang melekat. Dan tidak boleh diambil, kecuali sudah meresahkan hubungan sosial dengan sesama. Atau menimbulkan permusuhan di tengah-tengah masyarakat.

“Di sinilah Pancasila menjadi penting untuk jadi jembatan yang telah dijadikan kesepakatan bersama untuk Indonesia,” ujar Silaen yang merupakan Alumni Lemhanas Pemuda I 2009 ini.

Pengamalan Pancasila merupakan keharusan bagi semua warga Negara tanpa terkecuali. Itulah konsekuensi hukum bagi yang tinggal di sebuah Negara hukum berdasarkan Konstitusi yang menganut Pancasila.

“Konstitusi itu meliputi seluruh wilayah kehidupan yang ada. Jadi, selama Pancasila diartikan sempit, maka selama itupulalah kita akan selalu mengalami benturan sosial yakni curiga, memiliki praduga sempit antar sesama rakyat Indonesia,” lanjut aktivis organisasi kepemudaan ini.

Pancasila, lanjutnya, adalah bagian dari nilai, moral dan nurani yang sudah menjadi titik temu dari berbagai kepentingan kelompok yang diam di negeri sewaktu mau memerdekakan Bangsa ini dari cengkraman para penjajah. Ini pelajaran dasar sewaktu masih dibangku sekolah.

“Tapi mengapa sekarang kita seolah-olah baru mau mengenal Pancasila itu sendiri? Apakah Pancasila sedang dipinggirkan atau dibonsai? Itulah pertanyaan yang mendasar yang harus dijawab oleh elit negeri ini, baik formal maupun informal. Bukan hanya pencitraan media sosial,” tuturnya.

Jikalau melihat kondisi dunia sekarang, katanya lagi, seperti sedang bergerak kepada sikap feodalistik dan primitif yang sempit. Yang disebabkan oleh pertarungan ekonomi, geopolitik global yang melahirkan sikap dan berbagai perangai dari para tokoh-tokoh yang muncul.

“Kelihatan tokoh sekarang seperti kehilangan ketokohannya karena pergeseran nilai, moral dan keadaban. Ini terlihat menghiasi layar televisi dan handphone yang sangat mudah ditemukan,” imbuhnya.

Kondisi ini adalah tantangan, sekaligus peluang bagi manusia di kancah kemajuan teknologi informasi. Jika di masa terdahulu masyarakat mengalami kesulitan mengakses informasi dari desa atau sebaliknya, kini semuanya serba mudah dan cepat.

“Berita yang tersembunyi sekalipun bisa menyebar dengan cepat melahirkan beragam komentar pro dan kontra kita baca. Tergantung sudut pandang dan nilai, moral yang dianut,” lanjut Silaen.

Bahkan, semua orang bebas mengomentari hingga sampai terkesan sensasional, demi pencitraan yang dianggap jauh lebih penting daripada kesalehan sosial yang dilakukan.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Bicara-Bicara Pancasila Saja Sudah Sangat Membosankan, Rakyat Butuh Tindakan Nyata. Foto: Ist.
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Bicara-Bicara Pancasila Saja Sudah Sangat Membosankan, Rakyat Butuh Tindakan Nyata. Foto: Ist.

“Karena itu pulalah kampanye Pancasila di sosial media begitu marak, meskipun hanya dalam bentuk gimik-gimik,” ujarnya.

Kampanye soal Pancasila akan sia-sia jika nilai, moral dan kesalehan Pancasila itu sendiri dibonsai oleh kelompok tertentu saja. Siapa yang bertanggung jawab atas pembumian Pancasila sehingga menjadi perilaku nyata bukan hanya cumbekzenn alias cuma eksen tok, ibarat sayur tanpa garam.

“Makna Pancasila berubah menjadi hanya sebatas seremonial tok. Semua bisa bikin status-nya di facebook dan lain-lain, tapi itu semua hanya pencitraan doang. Hasilnya nihil alias nol besar. Tetapi cobalah untuk memikirkan yang lebih nyata dan realistis,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, jadilah pelaku yang punya nilai, moral dan keadaban dari Pancasila itu sendiri. Tanpa harus membenturkannya dengan keyakinan sempit. Karena pemikiran yang sempit akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jika saja mereka-mereka yang selalu membonsai atau mengkebiri Pancasila menurut kacamata individu atau kelompok tertentu, maka itulah musuh bebuyutan Pancasila yang sebenarnya,” tandas Silaen.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan