Biadab, Warga Binaan Dianiaya Sipir Hingga Buta

Biadab, Warga Binaan Dianiaya Sipir Hingga Buta

- in DAERAH, HUKUM, NASIONAL
858
0
Biadab, Warga Binaan Dianiaya Sipir Hingga Buta.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Hamonangan Laoly diminta segera turun tangan menindaktegas bawahannya yang melakukan penganiayaan terhadap warga binaan atau nara pidana (Napi) hingga mengalami buta permanen di lembaga pemasyarakatan (lapas).

Penganiayaan yang dialami oleh Warga Binaan bernama Renhad Hutahaean oleh oknum sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bukit Semut-Sungailiat, Bangka, Bangka Belitung, sangat biadab.

Sudah masuk penjara karena dikriminalisasi, Renhad juga diperlakukan tidak manusiawi. Anehnya, hampir semua aparat penegak hukum di Bangka Belitung, diam membisu.

Malah, mulai dari oknum polisi, oknum jaksa, sipir dan Kepala Lapas Klas II B Bukit Semut Sungailiat Faozul Ansori berupaya menghalang-halangi proses pengusutan. Kemudian meneror, mengintimidasi dan mengancam Renhad dan keluarganya agar tidak membongkar kriminalisasi dan juga penganiayaan itu.

Pengacara dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Tigor Esron Fernandes mengungkapkan, sejak semula, Renhad dikriminalisasi dan dipaksa, dengan tuduhan melakukan tindakan mencabuli anak-anak kecil. Tuduhan tak berdasar itulah yang menjebloskan putra pertama Ibu Ernita Simanjuntak itu ke penjara.

Renhad dan keluarganya tak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa. Selain tidak faham permainan para oknum mafia hukum di Bangka Belitung, Renhad berupaya menjalani hukuman yang tidak dilakukannya itu dengan berupaya mengampuni orang-orang yang mengkriminalisasinya itu.

“Jadi, sejak semula, sudah ada dugaan kuat permainan oknum mafia hukum terhadap Renhad. Kasus pertama, yang menjebloskan Renhad ke penjara pun dipaksakan dan sangat mengada-ada. Para oknum penyidik, oknum jaksa, oknum hakim, bahkan hingga oknum sipir dan Kepala Lapas pun sepertinya bersekongkol bersama pihak yang ingin menjebloskan dia ke penjara. Ini harus diungkap, harus diusut tuntas,” tutur Tigor Esron Fernandes, ketika menyambangi Kantor Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (27/11/2018).

Sudah dua tahun tujuh bulan Renhad menjalani hukuman sebagai warga binaan di Lapas Klas II B Bukit Semut Sungailiat, Bangka itu, eh malah kembali dikriminalisasi. Dia dipukuli, dianiaya berat, babak belur dan dibiarkan, tidak ijinkan diobati, hingga menyebabkan kedua bola matanya mengalami buta permanen.

Hampir putus asa, Renhad yang sudah yatim itu berupaya mencari cara agar semua tuduhan kejahatan yang ditimpakan kepadanya diusut tuntas. Ibunya Renhad, Ernita Simanjuntak terus menerus mendatangi Lapas Klas II Bukit Semut Sungailiat.

Perempuan yang berprofesi sebagai guru di Sekolah Dasar di Sungailiat itu tidak kuat melihat dan mengetahui penderitaan yang dituduhkan kepada putra pertamanya itu. Sering Ernita pingsan di depan banyak orang bila datang menjeguk anaknya ke Lapas. Itu pun, sering kali dia tidak diijinkan melihat Renhad.

“Malah, Ibu Ernita diintimidasi oleh petugas Lapas supaya tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada orang-orang. Dia juga diancam, akan menghabisi Renhad, bila kondisi itu dilaporkan ke Jakarta,” ungkap Esron.

Ke lantai dua Gedung Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Esron menyampaikan laporan dan permohonan agar Menteri Yasonna H Laoly bertindak atas kondisi Lapas yang brutal dan biadab di Sungailiat itu.

Di Gedung Utama Kementerian Hukum dan HAM, yakni Graha Pengayoman, melewati sekuriti yang ketat, Esron menyampaikan hendak bertemu Menteri. Jika tidak ada Sang Menteri di tempat, dia hendak menitipkan surat dan laporan pengaduannya yang berisi persoalan Renhad.

Di meja sekuriti, Esron mengisi daftar tamu, meninggalkan kartu identitas. Kemudian, salah seorang petugas sekuriti, membukakan jalur pengamanan, detektor.

Dengan menaiki lift, Esron tiba di lantai dua. Di lantai dua ini, sebuah meja yang juga dijagai sekutiri harus dilewati. Setelah menanyakan tujuan dan keperluan, sekuriti menginformasikan bahwa ruangan untuk urusan surat menyurat dan laporan ke Menteri berada di bagian sisi lain sekuriti lantai dua itu.

Dengan menyusuri jalur atau lorong dan ruangan-ruangan, Esron tiba di sebuah ruangan yang agak lega. Sejumlah pegawai dan staf di ruangan sejuk karena berpendingin ruangan cukup kuat itu, tampak sibuk mengurusi berkas-berkas.

Dikarenakan Menteri Yasonna sedang sibuk, seorang staf bernama Cecep diteriaki oleh petugas lainnya di ruangan itu, agar menerima surat dan laporan untuk disampaikan ke Menteri.

“Nanti akan kami sampaikan ke staf di ruangannya Pak Menteri. Selanjutnya mereka yang akan sampaikan lagi ke Pak Menteri,” tutur Cecep sembari memberikan tanda terima surat.

Selain ke Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly, Esron juga telah mempersiapkan surat dan laporan mengenai kondisi dan persoalan Renhad itu untuk disampaikan ke Dirjen Pemasyaratan Kementerian Hukum dan HAM (Dirjen PAS) Ibu Sri Puguh Budi Utami.

“Kalau di Bangka sana, hampir semua mereka aparat hukum itu sudah bagai raja. Merasa kuat dan tak tersentuh. Mereka semua berkomplot. Kebiadaban dan mafia hukum ini harus dibongkar. Renhad harus dibebaskan. Kami memohon Pak Menteri dan juga Dirjen PAS sungguh membongkar dan menindaktegas para oknum itu,” ujar Esron.(JR/Nando)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Aroma Money Politics Sangat Terasa di Bangka Belitung, Tokoh Masyarakat Ingatkan Petugas Awasi Lapas dan Pelosok Pada Pencoblosan Pemilu 2024

Salah seorang Tokoh Masyarakat Bangka Belitung, Bujang Musa,