Breaking News

Berumur 20 Tahun, Reformasi Malah Telah Mati

Berumur 20 Tahun, Reformasi Malah Telah Mati.

Sudah memasuki angka 20 usia Gerakan Reformasi  yang dikenal sebagai Gerakan Reformasi 98, namun hingga pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla kali ini, roh dan visi misi perjuangan reformasi itu malah mati.

 

Aktivis 98 Ricky Tamba menyesalkan betapa sejumlah kaum reformis gadungan telah memasuki lingkaran kekuasaan, dan lalu lupa dengan visi misi gerakan reformasi itu sendiri. Malah, mirisnya, berbalik membunuh dan mematikan reformasi itu.

 

“Rakyat mulai terbelah, reformis gadungan dan aktivis pelacur mulai menunjukkan watak aslinya yang haus dengan kekuasaan dan harta, mendirikan berbagai organisasi massa hingga partai politik, tanpa orientasi ideologi dan kerja pengorganisasian massa yang jelas,” tutur Ricky Tamba dalam rilisnya, Sabtu (28/01/2018).

 

Tanda-tanda penghancuran cita-cita reformasi itu, lanjut pria yang merupakan aktivis mahasiswa 98 dari Lampung itu, dimulai dengan adanya konsesi sogokan pemilihan umum multipartai 1999 yang direstui kapitalisme internasional, guna mendesakkan berbagai program liberalisasi ekonomi-politik dengan cara-cara yang halus, cantik dan seakan-akan demokratis.

 

Dikatakan pegiat dan aktivis Tani ini, kompromi demi kompromi terjadi, gerakan mahasiswa dan rakyat yang progresif revolusioner semakin tergerus melemah tak mampu bertahan.

 

“Berbagai peraturan perundang-undangan dan aturan hukum yang meliberalkan kehidupan ekonomi-politik diterapkan. Paling ironi, UUD 1945 yang asli diamandemen berulang kali guna memastikan segala kebijakan liberalisasi dianggap legal dan konstitusional. NKRI di bawah kendali neoliberalisme,” tuturnya.

 

Kini, lanjut Ricky, cita-cita mulia reformasi tak pernah terwujud, demokrasi yang seharusnya menjadi alat perjuangan kini hanyalah kata yang semakin tak bernilai. Memang, lanjut dia, reformasi telah melahirkan kebebasan berserikat, berpendapat, dan berkumpul, tetapi kini ditelikung kaum avonturir pedagang untuk memburu rente politik menindas rakyat.

 

“Reformasi berhasil memaksakan dunia peradilan agar bebas dan terbuka, tetapi secara prinsipil hukum masih tajam ke bawah tumpul ke atas, menikam yang tak berpunya melindungi penguasa durjana,” ujarnya.

 

Dia menegaskan, reformasi seharusnya mewujudkan kemakmuran kaum tani dan sektor rakyat lainnya hingga memiliki akses ekonomi yang lebih terbuka.

 

“Tetapi nyatanya kini kehidupan ekonomi rakyat berada di bawah kontrol mafia agen kapitalisme global yang merambah masuk hingga pelosok perdesaan,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, reformasi menginginkan agar TNI menjadi kekuatan profesional pertahanan negara. “Tetapi sejatinya tentara tak pernah diberdayakan manunggal dengan rakyat untuk menghadang dan memerangi agresi neoliberalisme yang menghancurkan NKRI,” kata Ricky.

 

Pun reformasi memunculkan segudang pemimpin baru nasional dan lokal, tetapi mayoritas feodal oportunistik korup dan tidak memiliki keberpihakan kepada rakyat yang dimiskinkan secara struktural.

 

Reformasi seharusnya menghapuskan korupsi, kolusi, dan nepotisme, tapi faktanya kini ribuan kejahatan korupsi dan kejahatan kemanusiaan lainnya terus terjadi hingga ke pelosok perdesaan yang semakin menerpurukkan NKRI.

 

“Kini, reformasi telah mati! Setidaknya, ia telah mewariskan kebebasan dan menghancurkan kediktatoran. Dan seharusnya, kalian para pemuda, mahasiswa, dan prajurit progresiflah yang akan menuntaskan cita-cita reformasi memajukan NKRI sepenuhnya. Karena kami angkatan 1998 telah gagal,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*