Bentuk Tapdatu, Ratusan Advokat Dan Aktivis Kawal Pengusutan Penganiayaan Aktivis Lingkungan Di Kawasan Danau Toba

Bentuk Tapdatu, Ratusan Advokat Dan Aktivis Kawal Pengusutan Penganiayaan Aktivis Lingkungan Di Kawasan Danau Toba.

Ratusan pengacara atau advokat dan para aktivis membentuk Tim Advokasi Penyelamat Danau Toba (Tapdatu) untuk mengawal proses pengusutan tindak pidana penganiayaan yang dilakukan sejumlah pengusaha bersama para preman kepada aktivis lingkungan Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat di Kawasan Danau Toba (KDT).

Ketua Tim Advokasi Penyelamat Danau Toba (Tapdatu) Sandi Ebenezer Situngkir menyampaikan, lambannya aparat hukum di Kawasan Danau Toba mengusut kasus ini membuat geram masyarakat di Sumatera Utara dan perantauan. Selain itu, lanjut anggota Majelis Pertimbangan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Jakarta ini, kinerja kepolisian yang menangani persoalan ini sangat lamban dan malah terkesan pro kepada para penganiaya yang diketahui sebagai rombongan saudara tua dari Bupati Samosir.

“Sudah ada ratusan advokat dan aktivis yang tergabung dalam Tim Advokasi Penyelamat Danau Toba atau Tapdatu ini yang akan melakukan pengawalan penyelesaian kasus ini. Juga akan melakukan advokasi, litigasi dan nonlitigasi terhadap berbagai persoalan di Kawasan Danau Toba,” tutur Sandi Ebenezer Situngkir, di Jakarta, Kamis (31/08/2017).

Sandi meminta Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Polisi Paulus Waterpaw agar tidak tutup mata dengan persoalan penganiayaan terhadap aktivis lingkungan. Menurut dia, sampai saat ini, Kapoldasu tidak berbuat apa-apa atas peristiwa penganiayaan dan premanisme yang melibatkan unsur oknum pejabat Kabupaten Samosir.

“Pak Kapoldasu harus bertindak tegas dan cepat. Tidak usah takut, kami rakyat dari Kawasan Danau Toba siap membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan,” ujar Sandi.

Apabila kasus ini pun tidak ditangani dan tidak diusut tuntas, lanjut Sandi, maka sebaiknya Kapoldasu segera pulang dari Sumut dan berhentikan dari jabatan Kapoldasu.

“Masa mengusut kejadian yang sudah benar-benar ada di depan mata, sudah juga di-BAP oleh Kepolisian setempat, namun malah melempem. Ngapain jadi Kapolda di Sumut kalau kasus ini pun tak diusut tuntas? Lebih baik pulang saja, jangan di Sumut sana. Berikan posisi Kapoldasu kepada Polisi yang tegas dan berani menegakkan hukum dan keadilan, yang pro rakyat,” pungkas Sandi.

Hingga saat ini, aparat kepolisian di Sumut belum juga menangkap dan memroses para pelaku penganiayaan terhadap dua orang aktivis lingkungan dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) dan Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT), yang terjadi pada Selasa (15/08/2017) lalu.

Sandi mengingatkan  Kapolres Samosir, AKBP Donald Simanjuntak dan Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Paulus Waterpauw agar segera menangkap, menahan  dan  memproses secara hukum siapapun para pelaku yang melakukan tindak pidana kriminal  berupa perbuatan tindak pidana penganiayaan/pemukulan (Pasal 351 KUHP), perbuatan tidak menyenangkan (Pasal 335 KHUP),  pengeroyokan (Pasal 170 KUHP)  sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mestinya segera menangkap dan menahan para pelaku penganiayaan itu. Jangan Cuma jalan-jalan dan diulosi oleh pejabat setempat, lantas jadi melempem Pak Kapoldanya,” kata Sandi.

Sebelumnya, dua orang aktivis dan pegiat lingkungan dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) yakni Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun aluas Joe dianiaya oleh sejumlah pria di daerah Onanrunggu, Samosir, pada Selasa (15/08/2017).

Saat memberikan keterangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)di kantor Polisi, Jhohannes Marbun yang juga merupakan Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) itu menuturkan, dirinya bersama Sebastian Hutabarat berada di Onan Runggu, Samosir sejak Senin sore, untuk melihat potensi Kabupaten Samosir. Karena YPDT sedang menjalin kerjasama dengan relawan dari luar terkait pariwisata berbasis masyarakat.

“Kami baru tiba sore hari. Setelah diskusi tidak mungkin langsung menyeberang ke Simalungun karena jadwal kapal ferry penyeberangan yang terbatas. Kami berencana menyeberang dengan ferry jam 10 esok harinya. Tadi pagi, menunggu waktu jam 9 ke Tomok, kami melihat lihat lingkungan sekitar. Rencana kami hanya sebentar karena takut ketinggalan ferry,” jelas Jhohannes.

Lebih lanjut Jhohannes menjelaskan, mereka memasuki areal tambang batu milik JS, yang disebut-sebut saudara tua atau abang-nya Bupati Samosir.

“Di sana tidak ada pagar pembatas. Jadi saat kami masuk, JS sedang menerima telepon. Kami salaman. Karena JS asyik berbicara di handphonenya, kami melihat lihat lokasi tambang. Setelah menutup teleponnya JS mendekati kami dan berdiskusi,” ungkap Joe.

Saat diskusi, Sebastian menyinggung terkait adanya riak-riak penolakan tambang batu yang dikelola JS dari masyarakat. Diskusi itu pun memanas dan JS memaki-maki Sebastian dengan kata-kata yang tidak santun.

Dituturkan Joe, saat mau keluar dari area tambang masih sempat menyalami JS dan beberapa orang, ketika itulah terjadi penganiayaan kepada Sebastian dan dirinya.

Lalu, melihat aksi premanisme itu Joe berlari mencari pertolongan. Sebastian pun mengatakan hal yang sama dan meminta Johanes untuk merekam kejadian itu.

“Saya menyuruh Marbun (Johannes) untuk merekam dan lari,” ujar Sebastian.

Penganiayaan itu berklangsung brutal. Bibir bagian atas sebelah kanan Bastian mengalami luka robek, dan Sebastian pasrah tanpa melakukan perlawanan.

“Saya tidak melakukan perlawanan. Saya lipat tangan dan berdoa dengan pasrah saat dipukuli. Dan mereka terus memukuli,” ungkap Sebastian.

Lebih sadis lagi, menurut Sebastian, selain dipukuli, dimaki, bentuk penghinaan yang lainpun dia terima ketika celananya dipelorotin anak buah JS.

Sambil berlari menyelamatkan diri, Jhohannes terus dikejar-kejar anak buah JS. Bahkan ada yang hendak memukulnya dengan kayu balok atau broti, namun urung karena dilerai anak buah JS yang lain.

Jhohannes meminta tolong kepada orangtua Kepala Desa Onan Runggu dan untuk melihat kondisi Sebastian Hutabarat. Johannes pun kembali berlari menuju rumah Ratna Gultom, tempat mereka menginap. Thomas, suami Ratna Gultom, pun berangkat melihat kondisi Sebastian lalu disusul Ratna.

Karena dari mereka tidak ada yang mengenal aparat kepolisian, Jhohannes langsung menelepon ke kantornya di Jakarta dan menceritakan keadaan yang mereka alami.

Sebastian pun berhenti dipukuli saat Ibu Kepala Desa bersama Ratna dan suaminya datang melerai.

Kepala Desa Onan Runggu pun berusaha mendamaikan Sebastian dengan pihak JS. Namun tidak membuahkan hasil.

“Mereka mau berdamai. Namun mereka mau berdamai tapi dengan cara menekan kami,” ujar Sebastian.

Menurut Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun, peristiwa penganiayaan terhadap mereka berlangsung pagi hari sekitar jam 08.00 Wib ke jam 09.00 Wib. Akibat lokasi yang jauh dan sulit, aparat Kepolisian dari Kecamatan Nainggolan tiba sekitar jam 2 siang di Onan Runggu dan langsung berangkat ke Pangururan dan membuat laporan pengaduan ke Polres Samosir.

Setelah visum dan memberikan keterangan sekitar jam 12 malam, karena merasa tidak nyaman dan untuk menjaga terjadi sesuatu, Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun dikawal anggota Polres Samosir keluar dari Samosir menuju Balige.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*