Belum Move On Full, PDIP Tetap Gandrungi Ketua Umum Yang Kharismatik, Moncong Putih Masih Butuh Megawati

Belum Move On Full, PDIP Tetap Gandrungi Ketua Umum Yang Kharismatik, Moncong Putih Masih Butuh Megawati.
Belum Move On Full, PDIP Tetap Gandrungi Ketua Umum Yang Kharismatik, Moncong Putih Masih Butuh Megawati.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih belum sepenuhnya bisa move on. Hingga kini, partai moncong putih itu masih memerlukan waktu untuk melepas kepemimpinannya secara demokratis.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Forum Aktivis Pergerakan dan Relawan Rekonsiliasi NasionaL (DPN FAPREKEN) Yongla Patria M mengatakan, hingga saat ini PDIP masih memerlukan sosok kharismatis untuk tetap menjadi Ketua Umum.

Sosok itu belum lepas dari Megawati Soekarnoputri. Sebagai putri sulung Proklamator Bung Karno, Megawati masih diinginkan oleh barisan massa bawah atau grass root PDIP untuk menjadi Ketua Umum DPP PDIP.

“Kita bangsa Indonesia memerlukan partai politik yang kuat yang dapat menjadi leader partai politik lainnya dalam menegakkan Pancasila. Juga dalam rangka membendung arus radikalisme, paham transnasional. Dan partai itu saat ini adalah PDIP. Itu sebabnya PDIP harus menjadi kuat dan kokoh,” tutur Yongla dalam siaran persnya, Sabtu (10/08/2019).

Menurut dia, terpilihnya Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum PDIP di Kongres V yang dihelat di Bali, mendapat dukungan berbagai khalayak. Megawati dipilih secara aklamasi di Hotel Grand Ina Beach, Bali, Kamis (8/8/2019).

Seraya mengucapkan selamat kepada putri Proklamator Soekarno itu, Yongla mengatakan, seluruh akar rumput PDIP tidak akan melepas Mega. “Sebab masih menginginkan presiden ke-5 Republik Indonesia itu memimpin kembali partai moncong putih itu,” katanya.

Yongla yang juga Anggota Dewan Pakar Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (DPP PA GMNI) berpendapat, mau tidak mau saat ini PDIP harus dipimpin oleh seorang tokoh yang kharismatik seperti Mega. Dia yang dapat menjadi pemersatu dari semua unsur kekuatan yang ada di PDIP dan tokohnya.

“Untuk pemersatu, Mega masih dibutuhkan saat ini,” ujar Yongla, yang juga seniman lukis peraih 30 award internasional dalam bidang lukis itu.

Yongla mengatakan, bukan Megawati tidak mau regenerasi. Tetapi Mega memperhitungkan secara tepat dan pas waktunya untuk regenerasi kepemimpinan di PDIP. Menurutnya, hal itu semua dilakukan semata-mata supaya PDIP tetap kuat dan kokoh.

“Yang disegani lawan maupun kawan. Mbak Mega tidak haus kekuasaan,” ujarnya.

Lanjutnya, terbukti Joko Widodo yang bukan trah Bung Karno secara biologis, diusung oleh PDIP dari 2014 dan 2019. Rekomendasinya pun diteken oleh Mega untuk menjadi Presiden Indonesia.

“Kalau Mbak Mega mau, bisa saja beliau ngotot untuk maju kembali menjadi Presiden di tahun 2014 dan tahun 2019. Tapi Mega tidak melakukan itu. Dia tetap memilih kader terbaiknya yakni Bapak Jokowi untuk menjadi Presiden Republik Indonesia,” sanjung Yongla.

Yongla mengatakan, dengan diusungnya kembali Jokowi sebagai calon presiden, adalah bukti awal, cikal bakal agar PDIP menjadi partai modern dan terbuka. Itu pertanda PDIP perlahan sedang move on. Dan itu semua terjadi di era kepemimpinan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Jadi siapapun anak bangsa yang terbaik, entah itu anak biologis Bung Karno, ataupun anak ideologis Bung Karno dan berideologi Pancasila, pasti didukung oleh PDIP,” ujarnya.

Ketika ditanya perihal demo yang dilakukan salah satu  ormas di depan Kongres ke V PDIP di Bali, Yongla mengemukakan, demo adalah bagian demokrasi dalam menyuarakan pendapat.

“Saya lihat demo tersebut juga menyuarakan dengan tulus mendukung Megawati untuk menjadi ketum PDIP kembali. Serta mendukung Puan Maharani dan Prananda untuk dipersiapkan mengambil alih estafet kepemimpinan PDIP di masa mendatang. Saya kira itu sah-sah saja,” ujar Juru bicara TKN KH Ma’ruf Amin itu.

Sementara itu, upaya sekelompok orang ingin kasus Kudeta 27 Juli atau Kuda Tuli dituntaskan, Yongla menyatakan,  bahwa Mega adalah tokoh yang arif dan bijaksana akan hal itu. Megawati diyakini pasti tahu apa yang akan dilakukannya untuk menuntaskan kasus 27 Juli itu.

“Semua hal apapun bisa di selesaikan dari hati ke hati dengan dengan duduk bersama dalam bahasa politik rekonsiliasi,” katanya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan