Belum Ada Tersangka, Diam-Diam Jaksa Baru Bisa Minta Keterangan Mantan Pimpinan Cabang BRI dan Direktur PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK)

Praktik Mafia Pembobolan Bank Modus Pengucuran Kredit BRI Ratusan Miliar Rupiah Belum Ada Tersangka, Diam-Diam Jaksa Baru Bisa Minta Keterangan Mantan Pimpinan Cabang BRI dan Direktur PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK). – Foto: Empat anak remaja yang menjadi korban jebakan praktik pembobolan Bank BRI Tanah Abang, yakni Ade Junaedi, Teguh Prasetyo, Fahmi Maysandy, dan Rasyta Rachman, usai dimintai keterangan di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus).(Ist)
Praktik Mafia Pembobolan Bank Modus Pengucuran Kredit BRI Ratusan Miliar Rupiah Belum Ada Tersangka, Diam-Diam Jaksa Baru Bisa Minta Keterangan Mantan Pimpinan Cabang BRI dan Direktur PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK). – Foto: Empat anak remaja yang menjadi korban jebakan praktik pembobolan Bank BRI Tanah Abang, yakni Ade Junaedi, Teguh Prasetyo, Fahmi Maysandy, dan Rasyta Rachman, usai dimintai keterangan di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus).(Ist)

Kasus pembobolan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan modus pengucuran kredit fiktif ratusan miliar rupiah yang dilakukan Bank BRI Cabang Tanah Abang bersama PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK) belum ada tersangkanya.

Kinerja Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus) yang menangani perkara ini dinilai lamban, karena baru bisa meminta keterangan dari mantan pimpinan cabang BRI Tanah Abang berinisial JO dan Direktur PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK) bernama Hans.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kasipidus Kejari Jakpus), Muhammad Yusuf Putra mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap mantan Kepala Cabang BRI Tanah Abang pada Senin 21 September 2020.

“Kemarin sudah dilakukan pemeriksaan terhadap mantan Kepala Cabang bank BRI Cabang Tanah Abang berinisial JO,” ungkap Yusuf, saat ditemui di Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (22/09/2020).

Selain Kepala Cabang BRI Tanah Abang, jaksa juga sudah meminta keterangan Direktur PT Jasmina Asri Kreasi (JAK) pada Kamis 17 September 2020.

“Direktur PT Jasmina juga sudah diperiksa Kemis kemarin. Nama Direkturnya Hans,” ungkapnya.

Yusuf mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan terhadap para korban dan para terlapor. Untuk mengumpulkan informasi dalam kasus dugaan pemalsuan data pembuatan kredit fiktif yang dilakukan oleh Bank BRI Cabang Tanah Abang bersama PT Jasmina Asri Kreasi (JAK).

“Ini masih bergulir. Kita masih terus melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait. Ini kita masih menunggu para terlapor untuk kita periksa lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kasi Intel Kejari Jakpus), Ashari Syam juga menyebut, Kejari Jakpus masih melakukan proses penyelidikan untuk mengumpulkan bukti-bukti.

“Masih berjalan proses lidik. Pemanggilan untuk permintaan keterangan dari pihak PT Jasmina Asri Kreasi, para nasabah dan bank BRI serta pengumpulan dokumen,” ujarnya, Senin (21/09/2020).

Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat sudah dua kali meminta keterangan para korban. Pemeriksaan pertama dilakukan terhadap Fauzan dan Fauzi bersama dua orang temannya pada 31 Agustus 2020. Kemudian, pemeriksaan kedua dilakukan kepada 6 korban lainya pada hari Rabu tanggal 2 September 2020.

Pada Kamis, 27 Agustus 2020 jam 10 pagi, dua orang anak remaja yang diduga dijebak PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK) bersama Bank BRI Cabang Tanah Abang dipanggil dan dimintai keterangan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus).

Mereka dimintai keterangan terkait adanya dugaan korupsi berupa praktik pemberian kredit fiktif oleh Bank BRI Cabang Tanah Abang bersama PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK).

Dugaan ini mengemuka ketika puluhan remaja mendatangi lembaga Gerai Hukum yang dikelola oleh Arthur Noija. Para remaja itu mengadukan nasibnya dan meminta advokasi dari pihak Gerai Hukum.

Mereka mengatakan telah terjebak kredit fiktif melalui dugaan manipulasi data yang dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi, PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK).

Fauzan dan saudara kembarnya Fauzi, dimintai keterangan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat dikarenakan korban manipulasi data sebagai karyawan fiktif dari PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK) di wilayah Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat.

Fauzan terjerat sisa hutang KTA BRI senilai Rp 105 jutaan dari pinjaman yang diajukan PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK) tahun 2018. Serta Fauzi terjerat sisa hutang Rp 500 jutaan dari pinjaman yang diajukan PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK).

PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK) memanipulasi data Fauzan dan Fauzi sebagai karyawan dengan jabatan Manager dengan surat keterangan kerja yang dikeluarkan tahun 2016.

“Tahun 2016, Fauzan dan Fauzi masih duduk dibangku sekolah kelas 2 SMA. Pertanyaannya, kenapa Bank BRI tidak melakukan analisa data tersebut? Kita tanyakan ke pihak BRI, beralasan hal itu sudah bagian dari SOP, ini tidak masuk akal,” jelas Arthur.

LBH Gerai Hukum berharap Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat berlaku profesional dan menjunjung tinggi nilai keadilan terhadap korban kredit fiktif yang dilakukan PT Jasmina Asri Kreasi (PT JAK) dan Bank BRI Cabang Tanah Abang.

“Kejaksaan sudah menetapkan kasus ini sebagai tindak pidana korupsi. Jadi kami dari Gerai Hukum, meminta Jaksa Agung berkompeten untuk mengawal kasus ini dan mengawal kami sebagai pencari keadilan di negeri Indonesia ini,” ujarnya.

Corporate Secretary Bank BRI, Aestika Oryza Gunarto mengatakan, pihak BRI telah menyerahkan urusan itu ditangani secara tuntas oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

Aestika Oryza Gunarto enggan menyampaikan, sanksi internal apa yang dilakukan kepada para pihak dan oknum dari BRI yang melakukan dan terlibat dalam praktik mafia pembobolan Bank BRI berupa pengucuran kredit fiktif di Bank BRI Tanah Abang itu.

“Bank BRI telah menyerahkan kasus tersebut kepada pihak yang berwenang untuk diselesaikan secara hokum,” ujarnya.

Aestika juga berharap, penyidikan terhadap kasus ini bisa dituntaskan Kejaksaan. Bank BRI, katanya, menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak Kejari Jakarta Pusat yang telah bertindak cepat menangani kasus ini.

“Bank BRI telah menyerahkan kasus tersebut kepada pihak yang berwenang untuk diselesaikan secara hokum,” tutup Aestika.(JR/Nando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan