Breaking News

Bantu Korban Bencana, Buruh KSBSI Turun ke Palu

Bantu Korban Bencana, Buruh KSBSI Turun ke Palu.

Para korban bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala, Sigi, di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga kini masih membutuhkan uluran tangan.

Buruh dari Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) turun ke Palu untuk memberikan bantuan dan melakukan upaya rehabilitasi di wilayah bencana.

Presiden KSBSI Mudhofir Khamid menuturkan, organisasi buruh yang sedang dipimpinnya memiliki tiga program kemanusiaan pasca bencana alam di Palu dan sekitarnya.

Selain masalah tanggung jawab kemanusiaan, KSBSI juga memiliki pengurus dan anggota di wilayah bencana alam itu dan banyak yang menjadi korban.

“Makanya setelah mendapat kabar bencana alam, saya langsung mengintruksikan KSBSI segera membuka Posko Nasional Bencana Alam untuk di Sulteng waktu itu. Seluruh pengurus dan anggota KSBSI langsung berpartisipasi memberikan bantuan,” ujarnya, Kamis (29/11/2018).

Bahkan, pasca bencana alam di Palu dan sekitarnya, Dewan Eksekutif Nasional (DEN) dan Pengurus Federasi Serikat Buruh (FSB) yang berafiliasi dengan KSBSI sudah dua kali mengunjungi lokasi bencana alam. Mereka turun langsung ke lokasi pada Oktober dan November dengan membawa dan memberikan bantuan kepada korban. Bantuan yang diberikan itu merupakan wujud solidaritas keluarga besar KSBSI.

“Tentu bantuan yang kami berikan belum bisa menyelesaikan masalah saudara kita yang terkena bencana alam. Namun, kami berharap semoga dengan sedikit bantuan ini, beban saudaraku di Palu bisa lebih ringan,” katanya.

Selain menggalang bantuan di internal, KSBSI mendapat tambahan bantuan dari sejumlah serikat buruh internasional, seperti serikat buruh dari Negara Belgia (ACV), Belanda, dan beberapa serikat buruh yang dikumpulkan di International Trade Unions Confederation (ITUC) di Singapura.

Mudhofir menyampaikan, program kemanusiaan yang sedang dijalankan akan berakhir Desember. Bulan Oktober, program yang dilakukan KSBSI membantu korban yang tertimpa bencana alam. Untuk bulan November, KSBSI memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak keluarga besar KSBSI dan warga yang terkena bencana.

Nah, untuk bulan Desember nanti, KSBSI akan ikut membantu anggota KSBSI yang ada di Palu dan sekitarnya dalam program advokasi lapangan kerja. Pasca bencana alam, banyak anggota dan pengurus KSBSI yang belum bekerja. Perusahaan tempat kerja mereka selama ini masih banyak yang tutup akibat hantaman bencana alam itu.

“Anggota kami juga masih banyak yang belum memiliki rumah, karena banyak yang rusak berat. Bahkan ada yang hilang ditelan ombak tsunami. Mereka sekarang ini masih banyak tidur di tenda penginapan yang disediakan pemerintah selama tiga bulan,” uajr Mudhofir.

Dalam waktu dekat, KSBSI akan melakukan advokasi untuk mendorong pemerintah segera membantu menciptakan lapangan kerja. Termasuk mendorong percepatan pembangunan perumahan yang layak huni.

Berdasarkan laporan dari pengurus KSBSI di Sulteng, ada 14 orang anggotanya yang meninggal dan 7 orang luka berat dan ringan.

Selain itu, KSBSI juga menegaskan, pemerintah juga harus memberikan bantuan program BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan kepada buruh yang selama ini terdaftar sebagai peserta dalam perusahaan. Bagi buruh yang meninggal harus diberikan santunan kepada keluarga korban. Yang mengalami luka berat, termasuk yang mengalami cacat tubuh karena dampak bencana alam harus disantuni.

Ketika bencana gempa dan tsunami melanda Sulawesi Tengah, Dewan Eksekutif Nasional (DEN) KSBSI langsung mengintruksikan membuka Posko Nasional Bencana Alam untuk Sulteng.

Koordinator Wilayah (Korwil) KSBSI DKI Jakarta, Dwi Harto ditunjuk sebagai Koordinator Nasional Peduli Bencana Nasional Sulawesi Tengah.

Selain itu, DEN KSBSI juga mengintruksikan kepada seluruh pengurus federasi dan anggota dari tingkat pusat dan daerah yang berafiliasi dengan KSBSI untuk berpartisipasi memberikan bantuan. Seperti bantuan materi, pakaian dan makanan cepat saji untuk secepatnya dikirim ke lokasi bencana.

Pada Selasa, (23/10/2018), Presiden KSBSI Mudhofir Khamid, didampingi Ketua Umum Federasi Pertambangan dan Energi (FPE), Riswan Lubis dan Ketua Umum Federasi Kehutanan, Perkebunan dan Pertanian (F HUKATAN), Metias Mehan, langsung mengunjungi lokasi bencana ke Palu.

Setibanya di kota Palu, rombongan diterima langsung Korwil KSBSI Sulteng, Karlan Ladandu dan sejumlah Ketua DPC masing-masing federasi. Mereka bersama-sama menjumpai keluarga korban.

Kehadiran mereka di Kota Palu dengan membawa sembako dan menyerahkan santunan bagi korban meninggal dunia dan korban luka. Hal itu juga sebagai wujud solidaritas keluarga besar KSBSI.

“Tak seberapalah nilainya, tapi kami berharap, semoga dengan sedikit bantuan, beban saudaraku di Palu bisa lebih ringan,” ujar Mudhofir.

Bantuan itu merupakan bentuk kepedulian seluruh anggota KSBSI di seluruh Indonesia melalui penggalangan dana solidaritas.

“Bantuan datang dari pengurus dan anggota KSBSI di seluruh Indonesia, dan serikat buruh internasional yang membantu menggalang dana ini. Dana ini kita prioritaskan untuk kebutuhan mendesak,” katanya.

Awal November, untuk kedua kalinya KSBSI kembali ke Palu dan wilayah kabupaten sekitarnya. Sekretaris Jenderal (Sekjen) KSBSI, Eduard Marpaung bersama Stijn Sintubin, aktivis serikat buruh ACV, dari negara Belgia, ikut hadir dan membantu korban bencana alam. Stijn juga berkomitmen menggalang solidaritas serikat buruh di Belgia untuk ikut peduli terhadap korban bencana alam.

Koordinator Nasional Peduli Bencana Nasional KSBSI untuk Sulawesi Tengah,  Dwi Harto tengah mempersiapkan program kemanusiaan selama tiga bulan, sampai bulan Desember.

Bulan Oktober, program KSBSI orientasi utamanya membantu korban yang tertimpa bencana alam. Bulan November, mewujudkan visi dan misi KSBSI hadir di lokasi untuk memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak keluarga besar KSBSI dan lannya yang terkena bencana.

“Nah, untuk bulan Desember nanti, KSBSI akan ikut membantu anggota KSBSI yang ada di Palu dan sekitarnya dalam advokasi lapangan kerja,” ujarnya.

Sebanyak 14 orang anggota KSBSI meninggal dunia dalam bencana itu. Mereka adalah anggota Federasi FPE, F HUKATAN dan FSB KAMIPARHO. Sebanyak 7 orang mengalami luka berat dan tulang patah. Sementara rumah yang hilang di beberapa wilayah ada 37 dan 127 rumah rusak berat.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*