Banjir Menggenangi Setinggi Dua Setengah Meter, Warga Minta Agar Sungai Diturap Lagi

Banjir Menggenangi Setinggi Dua Setengah Meter, Warga Minta Agar Sungai Diturap Lagi.

Serbuan air menerjang permukiman penduduk di  RT 001/RW 006, Cililitan, Jakarta Timur, sejak Kamis malam (25/04/2019). Banjir kiriman dari Bogor kembali menggenangi permukiman di Kelurahan berpenduduk sebanyak 150 jiwa itu. Ketinggian air mencapai 2,5 meter. Hal itu bertahan hingga Minggu Sore (28/04/2019).

Imam, Warga RT 001/RW 006, Cililitan, Jakarta Timur, hanya bisa bertahan di loteng rumah mereka yang berlantai 2 itu, sejak banjir kiriman kembali menggenangi permukiman mereka.




Imam menyampaikan, warga di sana sepertinya sudah tak asing dengan banjir. Buktinya, sebanyak 80 persen warga membuat rumah berlantai 2.

“Jadi, pas banjir begini, hanya sebagian kecil yang ngungsi ke Masjid Al Awi di seberang sana. Sebagian lagi, yang punya duit, ya pindah tidur sementara di hotel,” tutur Imam.

Imam juga Ketua RT 001/RW 006. Sejak lama sudah tinggal dan bermukim di sana. Imam mengatakan, air deras mengalir dan mulai memenuhi permukimannya sejak malam Jumat. Puncaknya, sekitar jam delapan pagi pada Jumat, air sudah mencapai ketinggian 2,5 meter.

“Bukan sekali ini sih banjir dan air bisa setinggi ini. Tahun 2018 lalu, sewaktu Ahok masih Gubernur DKI, tempat kami ini mengalami banjir dengan ketinggian air mencapai 3 meter,” tuturnya.

Menurut dia, selain kiriman banjir dari Bogor, pemicu terjadinya genangan air hingga 2,5 meter di kala banjir begini, juga dikarenakan kali atau sungai yang sudah mampet, tertimbun sampah-sampah warga dan sampah-sampah kiriman.

Pada 2018, dijelaskan Imam, kali pernah diturap. Kalau kali diturap, akan memudahkan genangan air cepat surut dari permukiman warga.

“Sebenarnya sih, mau hujan atau enggak hujan di Jakarta, kalau dari Bogor sudah hujan deras, ya tetap saja kebanjiran. Sudah enggak sanggup kali menampung dan mengalirkan air kiriman dari Bogor. Sayangnya, pas pada 2018, pas jamannya Ahok, di kali sana, turap dihentikan. Maunya, itu diteruskan saja, diturap lagi,” ujar Imam.

Sejak Minggu sore, air surut. Warga pun kembali ke rumah masing-masing dan membersihkan rumah-rumah mereka.

Dikarenakan sudah terbiasa dengan banjir kiriman, menurut Imam, warga sudah bisa mengantisipasi barang-barang di rumah. Juga tidak terlalu mengeluhkan lagi air banjir jika kejadian lagi.

Meski pemberitaan begitu heboh dan bahkan ada yang bersengaja bombastis untuk memberitakan kondisi banjir di Jakarta kali ini, namun menurut Ketua RT 001/RW 006, Cililitan, Jakarta Timur, Imam, wilayahnya tidak banyak keluhan.

Dari loteng rumahnya, Imam bisa memantau kondisi sekeliling, jika air belum surut. Selain itu, anggota keluarganya juga aman.

Sesekali, Imam dan warga yang bertahan di lantai dua rumah mereka masing-masing pun turun ke dalam genangan air.

“Buat ngecek-ngecek warga, ya mandi-mandi banjir aja,” tuturnya.

Ketika air sudah mencapai ketinggian 2,5 meter, petugas sudah berkeliling menaiki perahu karet, untuk memantau warga yang membutuhkan pertolongan.

“Kalau di sini tidak ada dapur umum. Entah kalau di Kelurahan ada dibuat posko atau dapur umum. Belum lihat sih. Kami enggak pakai dapur umum, emang gak bisa juga, kan air tinggi,”tutur Imam.

Selain petugas dari Pemprov DKI yang datang menggunakan perahu karet, dari Palang Merah Indonesia (PMI) juga siaga di sekitar banjir untuk memberikan bantuan pemeriksaan kondisi fisik dan obat-obatan jika diperlukan.

Sementara itu, untuk makan warga yang kena bencana banjir selama tiga hari kemarin, dijelaskan Imam, Pemprov menyediakan makanan, berupa nasi kotak atau nasi bungkus untuk warga.

“Ada bantuan, bantuan per orangan ada. PMI ada. Makanan dari Pemda ada. Ya enggak menderita-menderita bangetlah,” ujar Imam.

Kini, air sudah surut. Kesibukan berikutnya adalah membersihkan rumah-rumah, dan lingkungan sekitar.

Soalnya, dijelaskan Imam, pas air meninggi, teramat banyak sampah yang mengambang dibawa arus air. Got-got tersumbat, saluran-saluran di kali pun tertutup.

“Lah, bayangkan, segala jenis sampah dan kotoran berhamburan. Ada kasur segala, spring bed, sampah-sampah, apa enggak tersumbat begitu. Jangan-jangan duit yang disimpan koruptor di bawah bantal pun sudah ikut hanyut terbawa air,” ujar Imam berseloroh.




Dia mengatakan, tidak ada warganya yang mengeluhkan sakit atau kena serangan penyakit karena banjir ini. Namun, jika memang mengalami sakit, petugas kesehatan sudah ada untuk memeriksanya.

“Kalau kerugian material sih gimana ngitungnya ya. Ya udah beginilah, paling ya harus capek bersihin rumah. Alhamdulillah sih, tidak ada warga yang jadi korban jiwa. Sejauh ini masih aman-aman saja,” tutur Imam.

Dia berharap, antisipasi datangnya banjir kiriman dari Bogor bisa diatasi. Sebab, kiriman air dari Bogor itulah yang paling banyak berkonstribusi menyebabkan terjadinya banjir di wilayah permukiman warganya.

“Kalau bisa dialihkan kemana gitu. Jangan kemari mulu. Dan juga, kali ya diturap aja, supaya cepat-cepat pergi airnya kalau datang lagi,” ujar Imam.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan