Ayam Ras Itu Nenek Moyangnya Berasal dari Indonesia, Ayo Kembangkan Lagi Lewat BUMDes

Ayam Ras Itu Nenek Moyangnya Berasal dari Indonesia, Ayo Kembangkan Lagi Lewat BUMDes.
Ayam Ras Itu Nenek Moyangnya Berasal dari Indonesia, Ayo Kembangkan Lagi Lewat BUMDes.

Tak banyak orang tahu asal muasal ayam ras. Bisnis ayam yang merambah dunia internasional itu ternyata memiliki nenek moyang ayam dari Indonesia. Itu terjadi ratusan tahun silam.

Ketua Umum Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuni) Ade M Zulkarnain mengungkapkan, Indonesia adalah salah satu dari tiga wilayah yang dinyatakan sebagai pusat domestifikasi ayam dunia.

“Selain Cina dan Kawasan Lembah Hindus. Itu juga telah jelas diungkap oleh International Livestock Research Institute atau ILRI,” ungkap Ade.

Hal itu diungkapkan Ade, saat memberikan masukan dengan membawakan Topik Konstribusi Ayam Lokal Indonesia Untuk Ekonomi Gotong Royong dan Kedaulatan Pangan, di Focus Group Discussion (FGD) Ekonomi Gotong Royong dan Kedaulatan Pangan, yang digelar Bidang Buruh, Tani dan Nelayan kerja sama dengan Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan (BPEK) Pusat DPP PDI Perjuangan, di Lantai 5, Kantor DPP PDIP, Jalan Pangeran Diponegoro, Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (26/07/2019).

Sedikitnya ada 26 jenis ayam asli Indonesia, untuk produksi maupun untuk hobi atau klenengan. Namun, dikatakan Ade, kondisi ayam asli Indonesia saat ini sudah hampir punah. Sebanyak 80 % hampir punah. “Dan sebagian sudah ada yang punah,” ujarnya.

Beberapa ayam asli Indonesia merupakan cikal bakal ayam ras. Ayam ras adalah ayam yang melalui proses pemuliaan oleh perusahaan raksasa atau Multi National Coorporation (MNC), yang khusus untuk peternakan ungagas.

Ayam asli Indonesia, dijelaskannya, dikenal sebagai ayam domestifikasi asli, alias original domesticated chicken yang berasal dari Jawa.

Ayam asli Indonesia yang berasal dari Pulau Jawa itu, adalah jenis ayam yang menjadi sejarah perunggasan terpenting di Eropa dan Amerika. Awal tahun 1800-an, ayam-ayam itu dibawa ke Inggris. Kemudian, pada tahun 1835 masuk ke Amerika Serikat. “Di sana dilakukan pengembangan pembibitan,” ujar Ade.

Pada 1883, ayam itu mendapat sertifikasi Standard of Perfection dari American Poultry Association (APA). Sertifikasi sebagai genetik ayam terbaik untuk jenis Kedu Hitam, Kedu Putih dan Kedu Blorok. “Jadi, ayam asli Indonesia menjadi sumber bibit ayam Amerika,” ujar Ade.

Ayam Kedu atau The Java Chicken mempunyai peranan penting dalam pembentukan beberapa jenis breed  di Amerika. Sebut saja, Jersey Giant adalah hasil persilangan ayam kedu atau the black java dengan langshans hitam. Ayam itu mendapat sertifikasi standard of perfection dari APA pada tahun 1922.

“Jenis playmouth rock adalah persilangan ayam kedu pada tahun 1869 di Massachusetts, Rhode Island yang berasal dari ayam Melayu. Pertama kali dikenalkan oleh Isaac C Wilbour pada tahun 1879,” jelas Ade.

Ayam Sumatera atau Black Sumatera ataupun Sumatera Game, pertama kali dibawa ke Amerika tahun 1847 sebagai ayam adu. Dan, pada tahun 1883 masuk dalam American Standard of Perfection.

American Livestock Breeds Conservancy secara serius memasukkandaftar pemantauan karena populasinya yang semakin sedikit. Hanya ada 5 dari 500 breed atau bibit ayam.

“Sedangkan Slow Food USA of Taste memasukkan Ayam Kedu dalam daftar warisan pangan yang dalam bahaya kepunahan,” ungkap Ade.

Jadi, menurut Ade, Indonesia kini mengalami banyak masalah perunggasan dikarenakan tidak mengembangkan sendiri jenis ayam yang dimiliki. Harga ayam yang rendah menjadi pemicu marahnya sejumlah peternak ayam di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Menurut Ade, itu tidak perlu terjadi jika Indonesia mengembangkan bibit ayam sendiri.

Sejujurnya, kini pun Indonesia seratus persen mengimpor bibit ayam dari luar negeri yang dikembangkan sebagai ayam ras di Tanah Air. “Jadi semua ayam ras yang kita produksi itu, bibitnya semuanya diimpor dari luar negeri,” ungkapnya.

Padahal, mengembangkan sumber daya genetic hewan asli adalah amanat konstitusi Indonesia. Hal itu sangat jelas disebut dalam Undang Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Terutama pada pasal 10 yang menyebut, pembudidayaan dan pemuliaan harus mengoptimalkan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan pelestarian sumber daya genetik asli Indonesia.

Pada tahun 1992, The United Nation Convention of Biological Diversity mendorong Negara-negara yang memiliki keanekaragaman hayatinya untuk melakukan konservasi atau pelestarian plasma nutfah.

Deklarasi Interlaken Food And Agriculture Organization (FAO) di tahun 2007, menurut Ade, adalah rencana aksi global untuk sumber daya genetic ternak yang memprioritaskan melawan erosi keragaman genetik ternak. “Dan memanfaatkan sumber daya genetik ternak secara berkelanjutan,” tuturnya.

Beberapa jenis ayam asli Indonesia adalah kedu. Ada kedu putih, hitam, blorok dan cemani. Kemudian ada ayam Sentul, dengan warna abu-abu, putih, geni dan emas. Indonesia juga memiliki ayam Pelung, Gaok, Jantur, Delona, Sedayu, Ayunai, Olagan, Sumatera, Ciparage, Tolaki, Tukong, Gaga atau Ketawa, Kampung, Kokok Balenggek dan Bekisar.

Sedangkan ayam pendatang atau introduksi yang ada di Indonesia adalah ayam Arab jenis Braekel atau Fayoumi, Merawang, Nunukan dan Wareng.

Focus Group Discussion (FGD) Ekonomi Gotong Royong dan Kedaulatan Pangan, yang digelar Bidang Buruh, Tani dan Nelayan kerja sama dengan Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan (BPEK) Pusat DPP PDI Perjuangan itu menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi pertanian.

Mereka adalah Ketua Dewan Ketahanan Pangan Prof Kaman Nainggolan, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Prof Sutarto Alimoeso, Dewan Ahli Megawati Institut Dr Iman Sugema, Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Pusat Ir Winarno Tohir, Direktur Komersial Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Judith J Dipodiputro, Guru Besar Agroindustri Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadja Mada (FTP-UGM) Prof Mochammad Maksum Machfoedz, Ketua Umum Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuni) Ade M Zulkarnain, Arif dari Yayasan Satya Pelita Nusantara. Diskusi juga diikuti sejumlah petinggi DPP PDIP, para anggota Komisi IV DPR RI dan Komisi XI Fraksi PDIP.

Ketua DPP PDIP Bidang Buruh, Tani dan Nelayan, Mindo Sianipar menuturkan, pihaknya sedang menyerap sejumlah aspirasi dan masukan bagi partai dan DPR, terkhusus bidang pertanian dan peternakan.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ini menjelaskan, masyarakat desa dalam kerangka pencapaian kedaulatan pangan perlu didudukkan sebagai penggerak kedaulatan pangan.

Jiwa gotong royong atau semangat kerja sama semua pihak dihidupkan untuk saling berbagi kepentingan. Hal ini menjadi strategis, karena berbagai kebijakan yang mendorong pembangunan desa cenderung didasarkan nilai-nilai persaingan.

Dijelaskan Mindo Sianipar, pengelolaan potensi ekonomi yang berkembang dalam proses pencapaian kedaulatan pangan, perlu dijadikan langkah pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat dan desa.

“Upaya yang penting dilakukan dalam hal ini adalah memfasilitasi masyarakat untuk membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau Badan Usaha Milik Antar Desa (BUMADes) dalam prinsip pengembangan social enterprise,” tutur Mindo Sianipar.

Menurut dia, DPP PDIP akan menjadikan hasil FGD itu sebagai bahan masukan serta input bagi pokok-pokok pikiran pelaksanaan Kongres V PDI Perjuangan yang tak lama lagi akan digelar.

“Guna merumuskan sebuah sistem ekonomi gotong royong yang dapat menopang perwujudan kedaulatan pangan nasional,” ujar Mindo Sianipar.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan