Breaking News

Atasi Krisis Lingkungan, Pidato Anak Usia 16 Tahun Asal Swedia Getarkan Jakarta Climate Strike Movement

Atasi Krisis Lingkungan, Pidato Anak Usia 16 Tahun Asal Swedia Getarkan Jakarta Climate Strike Movement. Atasi Krisis Lingkungan, Pidato Anak Usia 16 Tahun Asal Swedia Getarkan Jakarta Climate Strike Movement.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyampaikan, ribuan nelayan tradisional terancam dan terdampak krisis iklim global.

Pidato seorang aktivis lingkungan berumur 16 tahun asal Swedia, Greta Thunberg, telah membangkitkan gerakan anak muda global untuk lebih peduli dalam isu lingkungan, khususnya permasalahan krisis iklim yang melanda dunia saat ini.

Divisi Monitoring and Evaluation Program Kiara, Nibras Fadhillah menyampaikan, dalam mendukung gerakan global menuntut adanya tindakan nyata dan solusi atas perubahan dan krisis iklim yang terjadi, ratusan bahkan ribuan anak muda di Indonesia ikut dalam gerakan Jakarta Climate Strike Movement.

Gerakan ini juga dilakukan di berbagai negara lainnya, seperti Amerika Serikat, Australia, Jerman, Belgia, Perancis, dan lain sebagainya.

Sepanjang tahun 2018, Indonesia menghadapi banyak bencana alam yang terjadi, seperti bencana gempa bumi, gunung meletus, sampai dengan bencana tsunami.

“Khususnya di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Dampak buruk krisis iklim globat yang terjadi saat ini sangat dirasakan oleh masyarakat pesisir, khususnya nelayan tradisional Indonesia. Dalam berbagai bentuk tantangan, seperti gelombang tinggi, permukaan air laut yang meningkat, cuaca buruk, dan lain sebagainya,” tutur Nibras, Jumat (20/09/2019).

Dengan resiko tinggi akibat dari cuaca buruk dan gelombang tinggi, ribuan nelayan tradisional Indonesia terancam mengalami kerugian akibat semakin berkurangnya hari mereka untuk dapat melaut.

Nibras mengungkapkan, data mereka mencatat akibat adanya perubahan iklim yang berdampak pada perubahan ekstrim cuaca dan gelombang laut yang tinggi. Saat ini nelayan tradisional Indonesia hanya bisa melaut selama 140 hari dalam setahun.

Di awal tahun 2019, data Kiara 2019 mencatat setidaknya ada 1336 masyarakat pesisir dan nelayan di Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang tidak bisa melaut selama beberapa minggu di awal tahun ini dikarenakan cuaca buruk dan gelombang tinggi.

“Akibatnya ribuan nelayan di Kecamatan Wedung harus merugi. Hal ini akan sangat berdampak pada perekonomian keluarga mereka kedepannya,” ujarnya.

Selain permasalahan cuaca buruk dan gelombang tinggi, permasalahan lainnya yang ditimbulkan dari adanya krisis iklim adalah semakin meningkatnya permukaan air laut. Itu berakibat pada terjadinya abrasi di sepanjang kawasan pesisir Indonesia.

Dia juga mencatat, setidaknya terdapat 1 hektar tanah yang hilang di sepanjang kawasan pesisir Demak setiap tahunnya. Akibat meningkatnya permukaan air laut.

“Oleh karena itu, kita mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan nyata dalam menyelesaikan persoalan iklim ini. Dan tidak lagi terfokus pada pembangunan ekstraktif yang hanya semakin merusak ekosistem pesisir dan laut Indonesia,” tuturnya.

Divisi Advokasi dan Jaringan Kiara, Fikerman menambahkan, pihaknya melihat kondisi ini jelas tidak merepresentasikan keinginan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Yang harusnya memposisikan nelayan tradisional Indonesia sebagai aktor terpenting.

“Sepanjang lima tahun kepemerintahan Presiden Joko Widodo, kami menilai konsep poros maritim dunia Joko Widodo hanya terfokuskan pada pembangunan ekstraktif. Seperti pembangunan tol laut, pelabuhan, maupun kawasan pariwisata yang didanai oleh investasi asing, dan bukannya berfokus pada perbaikan kesejahteraan nelayan tradisional Indonesia,” tuturnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*