Atasi Konflik, Elit Politik Perlu Turun Langsung Ke Kelompok Pembenci di Masyarakat

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Atasi Konflik, Elit Politik Perlu Turun Langsung Ke Kelompok Pembenci di Masyarakat.
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Atasi Konflik, Elit Politik Perlu Turun Langsung Ke Kelompok Pembenci di Masyarakat.

Para elit politik dan pejabat diminta untuk turut turun tangan mengatasi maraknya kelompok-kelompok pembenci yang masih berkeliaran di antara masyarakat.

Kelompok-kelompok pembenci itu, sering berulah dan mencari-cari kesalahan kecil warga lainnya untuk dijadikan sumber konflik.




Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen menyampaikan, terkadang elit dan tokoh-tokoh bangsa itu sendiri yang menyebabkan konflik dan menjadi sumber masalah di masyarakat.

Karena itu, terutama bagi para elit dan tokoh-tokoh, hendaknya menunjukkan keteladanan dan menunjukkan saling menghargai, saling menghormati dan saling menerima perbedaan-perbedaan yang ada dimasyarakat Indonesia.

Dengan sikap dan perilaku seperti itu, maka kemunculan kelompok pembenci sesamanya anak-anak Bangsa Indonesia bisa dieliminir.




“Dalam sejumlah peristiwa, persoalan identitas sering dijadikan pemicu konflik dari kelompok-kelompok pembenci. Sehingga, kondisi sosial terpecah belah, dan terjadilah tindakan-tindakan destruktif yang merusak keharmonisan sosial dan kemanusiaan. Ini harus disadari bersama, dan diatasi bersama, terutama oleh para elit politik,” tutur Samuel F Silaen, di Jakarta, Rabu (12/02/2020).

Terjadinya serangkaian aksi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan mulai memassif di sejumlah daerah disulut dengan perbedaan identitas sosial, yang dipertajam dengan kompor para elit.

“Kok rasa-rasanya diksi Mayoritas-Minoritas terasa kian kuat memecah bela kebersamaan bangsa ini,” ujar Samuel F Silaen.




Tindakan kelompok yang disebutnya sebagai Kelompok Pembenci itu sangat nyata.

Misalnya, adanya aksi-aksi pelarangan dan penutupan tempat-tempat ibadah di sejumlah tempat terus mencuat.

Entah apa sebabnya kebencian mendorong kelompk pembenci melakukan tindakan-tindakan brutal dana melanggar hukum terhadap keberadaan Rumah Ibadat, atau rumah ibadat kaum minoritas di Indonesia.

 

Sungguh miris menyaksikannya. Sebab kemajuan zaman di era disruption teknologi digital ini sepertinya tidak linear dengan pembangunan manusia yang humanis. Justru yang terjadi adalah dehumanisasi karena beda keyakinan.

“Ini salah siapa? Sejak kapan akar kebencian itu tumbuh dan menjadi berakar di hati sebagian rakyat negeri ini,”ujarnya.

Perlu didalami dan ditelusuri dengan seksama. Apakah ada pihak yang mengajarkan kebencian itu.

 

Dan sejak kapan ditularkan kepada orang-orang yang berpikiran sempit terhadap pihak yang berbeda agama dan kondisi sosial.

“Siapa yang ajarkan kebencian itu? Sejak kapan ditularkan sehingga karena beda agama. Problem ini makin meluas dengan adanya semburan informasi melalui sosial media,” ujarnya lagi.

“Rumah ibadah dijadikan bahan pertikaian sesama warga Negara. Yang kalau ditilik lebih jauh, ada suatu masalah sejak ditanamkannya kebencian itu,” ujarnya.




Oleh karena itu, peran elit dan tokoh-tokoh dirasa penting untuk menjelaskan persaudaraan sesama anak bangsa Indonesia, untuk menghindari adanya pola pikir yang curiga dan penuh kebencian itu.

“Berbahaya jika elite dan tokoh masyarakat tidak bersatu untuk menyelesaikan problema yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Kasus yang terjadi di Minahasa Utara langsung menuai kecaman demi kecaman yang masif. Namun ketika terjadi hal yang mirip kepada kelompok penganut minoritas, malah sengaja ditenggelamkan,” jelas Silaen.




Dia pun berharap, elite dan tokoh formal dan informal untuk saling bergotong-royong, bahu- membahu menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersamaan kedudukannya dimuka hukum. “Jadi,  hukumlah yang menjadi panglima, tandasnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*