Atasi Bencana dan Kedaruratan di Asia Tenggara, Uni Eropa Gelontorkan Dana 10 Juta Euro ke ASEAN

Atasi Bencana dan Kedaruratan di Asia Tenggara, Uni Eropa Gelontorkan Dana 10 Juta Euro ke ASEAN.
Atasi Bencana dan Kedaruratan di Asia Tenggara, Uni Eropa Gelontorkan Dana 10 Juta Euro ke ASEAN.

Uni Eropa (UE) menggelontorkan dana sebesar 10 juta Euro untuk penanganan bencana dan kedaruratan di kawasan ASEAN.

Selain dipersatukan oleh kawasan, ASEAN yang dikenal memiliki kekayaan sosial politik dan kesamaan budaya geografi, wilayah di Asia Tenggara ini juga sangat rentan dengan bencana alam. Hal ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan menunjukkan solidaritas kepada ASEAN.




Uni Eropa bersama ASEAN Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre) atau Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana, meluncurkan program baru yang disebut dengan The Ingeratred Programme in Enhancing the Capacity of AHA Centre anda ASEAN Emergency Response Mechanism atau Program Terpadu dalam Meningkatkan Kapasitas Pusat AHA dan Mekanisme Tanggap Darurat ASEAN.

Program ini dimulai dilaksanakan awal tahun 2020 ini, dengan menggelontorkan anggaran sebesar 10 Juta Euro.

Direktur Eksekutif Pusat AHA, Adelina Kamal menyampaikan, inisiatif  baru ini akan memperkuat kapasitas Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan tentang Penanggulangan Bencana (AHA Centre) untuk mencapai keunggulan operasional dalam pemantauan bencana dan tanggap darurat.




“Ini juga akan membuat mekanisme yang mendukung One ASEAN, One Response, melalui inovasi dalam manajemen bencana,” tutur Adelina Kamal, saat peluncuran program di Gedung Baru Sekretariat ASEAN Jakarta, Senin (27/01/2020).

Adelina Kamal menyampaikan penghargaannya atas peluncuran proyek itu. Dukungan dari Uni Eropa melalui proyek ini sangat penting bagi Pusat AHA, untuk memastikan perkembangannya yang berkelanjutan.

“Ini memungkinkan Pusat untuk memastikan mekanisme internal dan pelaksanaannya pada saat yang sama. Proyek ini juga akan menguntungkan negara-negara anggota, melalui dukungannya pada sejumlah kegiatan peningkatan kapasitas, lokakarya, dan lainnya,” tutur Adelina Kamal.




Dia menuturkan, ASEAN adalah salah satu daerah yang paling rawan bencana di dunia. Tercatat, lebih dari 50% kematian akibat bencana global terjadi di kawasan ini selama periode 2004-2014.

Gempa bumi dan tsunami berkekuatan 7,5 skala richter yang melanda Sulawesi, mengakibatkan ratusan korban jiwa. Serta gempa bumi yang melanda Lombok,  juga telah mendorong perlunya ASEAN meningkatkan kemampuan manajemen bencana, dan meningkatkan upaya mitigasi perubahan iklimnya.

Program Uni Eropa yang baru ini, lanjutnya, bertujuan agar secara substansial mengurangi biaya manusia, ekonomi, sosial dan lingkungan dari bencana di ASEAN. Dan mendukung tanggapan bersama terhadap keadaan darurat bencana melalui upaya nasional bersama dan kerja sama regional dan internasional yang intensif.




“Kita akan bekerja sama dengan Organisasi Manajemen Bencana Nasional dari masing-masing Negara Anggota ASEAN dan AHA Centre. Untuk memberikan dukungan pengembangan kapasitas dan pelatihan keterampilan dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan tanggap bencana di tingkat nasional dan regional,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN H.E Igor Driesmans menyampaikan, kesiapsiagaan sama pentingnya dengan respons yang memadai untuk menanggulangi hubungan sebab akibat manusia.

“Kita membutuhkan pendekatan dua sisi untuk meminimalkan sebab akibat dan kerugian. Kami juga, sebagai komunitas global, perlu menghadapi kenyataan bencana yang disebabkan oleh iklim,” tutur Igor Driesmans.




Proyek ini akan dilaksanakan melalui kombinasi hibah langsung ke AHA Centre, serta pengembangan kapasitas oleh Lembaga Perlindungan Sipil Negara-negara Anggota Uni Eropa, yaitu Swedish Civil Contingencies Agency atau Badan Kontinjensi Sipil Swedia (MSB) dan the Estonia Rescue Board  atau Dewan Penyelamat Estonia (ESB).

Proyek ini akan memanfaatkan keahlian Emergency Response Coordination Centre (ERCC) atau Pusat Koordinasi Tanggap Darurat,  yang beroperasi di bawah EU’s Civil Protection Mechanism atau Mekanisme Perlindungan Sipil UE. Dengan lingkup pekerjaan yang serupa di UE, seperti yang dilakukan Pusat AHA di ASEAN.

Melalui Perjanjian ASEAN 2009 tentang ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) atau Manajemen Bencana dan Tanggap Darurat, ASEAN telah menetapkan mekanisme hukum dan politik yang kuat untuk merespons bencana.




Sebagai mesin penggerak AADMER, AHA Centre telah menunjukkan, terlepas dari masa jabatan dan ukurannya yang pendek, kapasitasnya untuk memberikan respons yang kuat terhadap bencana yang memengaruhi negara-negara anggota ASEAN.

Peningkatan kontribusi tahunan dari negara-negara anggota ASEAN dari 50 ribu dolar amerika menjadi 90 ribu dolar amerika bagi AHA Centre, merupakan bukti kerja keras dari AHA Centre. Hal ini juga membuktikan adanya peningkatan kebutuhan untuk menyediakan pendekatan regional yang lebih terkoordinasi dalam penanganan bencana di ASEAN.




“Program yang kami luncurkan hari ini membuktikan kemitraan solidaritas bersama di ASEAN, dan antara ASEAN dan UE, pertukaran keahlian, kapasitas, dan niat baik,” ujar Driesmans.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*