Asalkan Untuk Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Kaum Muda Setuju Aja Pemindahan Ibukota Negara

Asalkan Untuk Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat, Kaum Muda Setuju Aja Pemindahan Ibukota Negara.
Asalkan Untuk Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat, Kaum Muda Setuju Aja Pemindahan Ibukota Negara.

Kaum muda, khususnya yang berdomisili di Jakarta, tidak keberatan dengan adanya rencanya Presiden Joko Widodo untuk memindahkan Ibukota Negara ke Kalimantan.

Asalkan, pemindahan itu benar-benar untuk pemerataan pembangunan, pemerataan kesejahteraan dan memajukan daerah-daerah lebih cepat.

Hal itu disampaikan oleh aktivis muda, Fitri Ilyas M, saat berbincang, di Jakarta, Jumat (13/09/2019). Fitri yang adalah Pengurus Besar Kohati HMI Periode 2013-2015 ini menegaskan, dengan pemindahan Ibukota Negara, para Aparatur Sipil Negara (ASN) akan memiliki jangkauan wilayah kerja yang luas. Kemudian, mereka juga akan fokus pada pembangunan.

“Khususnya, Presiden Jokowidodo terus memperhatikan Kawasan Tengah dan Timur Indonesia. Sedangkan, DKI Jakarta saat ini, sudah maju kok. Walaupun sering banjir, macet dimana-mana serta kualitas udara kurang baik,” katanya.

Fitri yang juga Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jakarta Timur itu melihat, perdebatan yang dilakukan para anggota DPR mengenai pemindahan ibukota itu tidak substansial. Sebab, yang diributi adalah soal anggaran pemindahan yang sangat besar. Mencapai Rp 466 triliun.

“Kita sih sepakat bahwa pemindahan ibukota itu mesti menggunakan biaya sendiri. Bukan pinjaman. Namun, DPR seharusnya memberikan solusi konkrit. Terlepas mereka menolak atau setuju pemindahan itu,” ujar Fitri.

Sedangkan untuk Jakarta, lanjutnya, tidak perlu galau. Sebab, Jakarta diyakini sudah bisa jalan sendiri sebagai kota perdagangan atau perekonomian.

“Tanpa harus menjadi ibukota Negara lagi pun, Jakarta sudah bisa jalan sendiri kok,” katanya.

Fitri membandingkan, ketika dirinya berkesempatan bepergian ke luar negeri, misalnya, Jakarta tidak begitu dikenal oleh orang luar. Malah, Bali yang dikenal.

“Sehingga, ke depan, Ibukota Negara yang baru nanti, harus dikenal dan terkenal ke dunia luar. Dunia Internasional,” ujarnya.

Demikian pula, lanjutnya, Jakarta yang dihuni berbagai kalangan, latarbelakang dan suku bangsa dan agama yang berbeda-beda, tidak menjadi penghalang untuk hidup rukun dan damai.

Karena sudah teruji itu, menurut Fitri, Jakarta akan tetap damai meskipun Ibukota Negara dipindahkan ke daerah lain.

“Kemajemukan atau heterogenitas masyarakat Jakarta sudah teruji. Tidak usah diragukan lagi. Yang menjadi fokus kita, mengingat luasnya negara Indonesia, sudah layaknya semua daerah mengalami hal yang sama seperti Jakarta sekarang,” ujarnya.

Pemerataan itu, lanjutnya, bisa terlaksana, salah satunya dengan pemindahan Ibukota Negara dari Jakarta ke luar Jakarta.

“Kemungkinan terbesar ialah dengan terwujudnya ibukota yang baru. Itu diprediksi akan memeratakan kemajemukan itu juga. Jadi bukan hanya pembangunannya yang merata, tetapi juga masyarakatnya,” ujarnya.(Togap)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan