Aplikasi Terkecil Pancasila Adalah Peduli Pada Sesama

Tanamkan Semangat Pancasila di Era Teknologi Digital, Aplikasi Terkecil Pancasila Adalah Peduli Pada Sesama.
Tanamkan Semangat Pancasila di Era Teknologi Digital, Aplikasi Terkecil Pancasila Adalah Peduli Pada Sesama.

Semangat dan jiwa Pancasila harus kembali ditanamkan. Terutama di era teknologi digital yang sangat massif ini. Penyebaran nilai-nilai dan juga informasi maupun tingkah laku Pancasila bisa dimulai dari hal-hal kecil, terutama mengenai saling kepedulian sesama.

Hal itu disampaikan, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (DPW ISRI) DKI Jakarta, Marsda TNI (Purn) Subandi Prato, dalam  Kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI).

Kegiatan bertema Gali Mutiara Pancasila dan Tumbuhkembangkan Semangat Gotong Royong Bersama Organisasi Masyarakat di Kawasan Jabodebatek, itu dilaksanakan di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Sabtu, 31 Agustus 2019.

Dalam penyampaiannya, MarsdaTNI (Purn) Subandi Parto menekankan, aplikasi terkecil dalam Pancasila adalah tengok orang lain. “Di mana kita harus peduli dengan orang di sekitar kita. Dan bagaimana kita harus bersikap kepada orang lain,” tutur Subandi.

Subandi juga menerangkan, pembinaan itu memenuhi tiga hal, yaitu pengaturan, pengendalian dan pengawasan. Selain itu, pendidikan Pancasila seharusnya berlaku bukan hanya pada anak, tapi orang tua dan penjaga anak.

“Agar aplikasi Pancasila diimplementasikan sesuai jamannya,” ujar Subandi.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP, Irene Camelyn Sinaga, Ketua Dewan Kehormatan Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (DPN ISRI), Dr Harjono, Ketua Umum DPN ISRI Moh MC Soenhadji, Wakil Ketua Dewan Kepakaran DPN ISRI Bambang Yudhoyono, Ketua DPW ISRI DKI Jakarta, Marsda TNI (Purn) Subandi parto, Wakil Ketua Umum DPN ISRI Didiek Poernomo. Dengan moderator, Sekjen ISRI Cahyo Gani Saputro.

Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP, Irene Camelyn Sinaga, yang mewakili Plt Kepala BPIP, sebagai keynote speaker menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan.

“BPIP masih minim SDM. Dan terbatas anggaran. Sehingga dirinya berharap acara kerjasama seperti ini harus sering dilaksanakan untuk mensosialisasikan Pancasila.

“Saya sangat apresiasi kepada ISRI dalam acara ini. Memang inilah pentingnya gotong royong yang merupakan pribadi bangsa Indonesia,” ujar Irene Camelyn Sinaga.

Sedangkan, Ketua Umum DPN ISRI Moh MC Soenhadji, dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan seperti itu penting untuk lebih memahami peranan penting Pancasila dalam bernegara dan berbangsa.

“Terutama mempraktekan gotong-royong dalam kehidupan sehari-hari. ISRI berkomitmen akan terus melaksanakan diskursus seperti ini, agar jiwa dan pribadi Pancasila tetap ada di Indonesia dalam kemajuan teknologi saat ini,” ujarnya.

Ketua Dewan Kehormatan Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (DPN ISRI), Dr Harjono memaparkan, jiwa Pancasila adalah berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan sesama manusia.

“Tanpa melihat suku, agama, ras, dan golongan tertentu. Dan menghilangkan rasa kebencian terhadap sesama manusia,” tutur Harjono.

Selain itu, Harjono juga menjelaskan, Pancasila sebagai Dasar Negara kaitannya dengan kehidupan bernegara dan penjabarannya dalam ketatanegaraan Indonesia.

“Dan Pancasila sebagai way of life. Kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan kehidupan serta interaksi dalam lingkup masyarakat dari lingkungan terkecil,” jelasnya.

Meresponi kegiatan itu, Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP, Irene Camelyn Sinaga  menekankan, gotong royong merupakan kepribadian bangsa Indonesia yang mencerminkan Pancasila.

“Harus terus diamalkan dan dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Wakil Ketua Dewan Kepakaran DPN ISRI Bambang Yudhoyono menyebut, Pancasila harus mengikuti perkembangan jaman. Di mana, era sekarang sudah masuk pada teknologi 4.0 bahkan hampir 5.0.

“Namun tidak boleh menghilangkan makna historis dan filosofis Pancasila. Sejak dahulu, neo kolonialisme dan neo kapitalisme menggerus Pancasila. Oleh karenannya, Pancasila harus terus ditanamkan sejak dini,” ujar Bambang.

Wakil Ketua Umum DPN ISRI Didiek Poernomo menambahkan, bangsa Indonesia harus mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila pada kehidupan sehari-hari.

Menurut dia, keragaman bangsa Indonesia tidak bisa hanya dipersepsikan dalam Agama saja. “Sebagaimana kita lihat akomodasi interest hanya dalam lingkup  agama. Bahkan itu juga terlihat di BPIP, bahwa kita ketahui bersama kepercayaan dan keyakinan serta latar belakang suku, ras dan golongan yang beragam di Indonesia,” tutur Didiek.

Didiek juga mengingatkan, Ketuhanan adalah kata sifat atau sejarah panjang bangsa Indonesia yang tidak hanya dapat diperspektifkan dalam Agama.

Adapun dalam seminar tersebut, para narasumber memaparkan Pancasila secara kesejarahan, perdebatan dan konsensus para pendiri bangsa dalam BPUPKI, hingga terbentuknya UUD 1945. Hingga sampai saat ini bergulirnya isu pengembalian GBHN secara mendalam.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*