Antrian Mengular dan Dugaan Percaloan, Pelayanan Pengurusan Tilang di Kejari Jakpus Dikeluhkan Warga

Antrian Mengular dan Dugaan Percaloan, Pelayanan Pengurusan Tilang di Kejari Jakpus Dikeluhkan Warga. – Foto: Antrian warga yang hendak mengurus Surat Tilang di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus), Senin (10/08/2020). (Ist)
Antrian Mengular dan Dugaan Percaloan, Pelayanan Pengurusan Tilang di Kejari Jakpus Dikeluhkan Warga. – Foto: Antrian warga yang hendak mengurus Surat Tilang di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus), Senin (10/08/2020). (Ist)

Warga yang mengurus Surat Tilang di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus) mengeluhkan ribet-nya pelayanan.

Setiap hari, sejak pagi hari antrian mengular di depan Pelayanan Tilang Kejari Jakpus. Selain terjadinya penumpukan warga yang hendak mengurus tilang, di Kejari Jakpus juga diduga marak praktik percaloan dalam pengurusan Surat Tilang.

Supriyono, salah seorang pengendara sepeda motor, yang mengantri di Kejari Jakpus mengatakan, pelayanan tilang dibatasi hanya untuk 200 orang saja dalam sehari.

Supriyono, mengeluhkan pelayanan pengurus surat tilang di Kejari Jakpus tersebut. Bahkan ia sempat adu mulut dengan seorang pria yang bukan petugas kejaksaan.

“Saya mau ngurus surat tilang. Cuman pelayanannya ribet, Pak. Tadi saya sempat ribut sama orang baju putih waktu saya manggil petugasnya dari depan gerbang. Yang jawab malah bukan petugas. Katanya sih dia calo di sini,” ujarnya, di depan Pelayanan Surat Tilang Kejari Jakpus, Senin (10/08/2020).

Keributan itu terjadi, saat ia menanyakan mengenai pengurusan Surat Tilang di depan Gerbang Loket Pengurusan Surat Tilang di Kejari Jakpus. Namun, seorang pria menggunakan kaos putih yang diduga sebagai calo merasa sebagai petugas Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

“Awalnya kan saya nanya sama petugas yang pakai seragam yang didalam kaca. Malah yang Jawa pria yang pakai baju putih tadi. Saya sempat cekcok sama dia,” ujarnya.

Menurutnya, ia sudah berulang kali bolak balik ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat hanya untuk mengurus surat tilang tersebut. Pada Jumat 7 Agustus 2020, lanjutnya, ia ingin melakukan pembayaran denda tilang melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Namun saat ingin melakukan pembayaran, data pembayaran surat tilangnya tidak ada dan dia-pun di minta untuk langsung mendatangi kantor Kejari Jakpus.

“Jumat kemarin kan saya ke Bank BRI untuk bayar tilang, tapi data saya nggak masuk di sana, trus saya di suruh langsung ke Kejaksaan aja. Pas di Kejaksaan saya di suruh datang sekarang. Sampai di sini alasannya nomor antriannya habis,” imbuhnya.

Supriyono menambahkan, ia sudah menanyakan hal tersebut ke petugas tilang di Kejari Jakpus. Namun, nomor antrian pengurusan surat tilang dibatasi hanya untuk 200 orang per harinya.

Bahkan, lanjutnya, ia sudah tiba pada pukul 11.00 WIB di Kejari Jakpus dan sampai harus ijin berulang kali dari tempatnya bekerja hanya untuk mengurus surat tilang tersebut.

“Saya di sini dari jam 11.00 WIB. Tapi sampai di sini nomor antriannya habis dan disuruh datang besok lagi. Saya kan kerja Pak. Ini aja saya udah dua kali ijin dari kantor buat ngurus surat tilang doang,” pungkasnya.(Nando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan